Sebut saja aku tidak tahu diri atau apalah, yang jelas aku punya alasan kuat untuk melakukan ini.
Minki kembali duduk diam di atas sofa dengan baju yang berantakan akibat ulahku, dia menatapku dengan pertanyaan besar di dalam kepalanya.
"Kenapa? Apa aku tidak cukup cantik?" Minki bertanya, wajahnya terlihat sangat serius, pertama kali ku lihat, biasanya dia selalu tersenyum lucu walaupun sedang berbicara hal yang penting.
"Bukan, kau sangat cantik, sungguh" aku coba merapikan pakaiannya dan menyapu lipstiknya yang berlepotan.
"Aku hanya tidak yakin"
Minki mengalihkan pandangannya kesal, dan menyilangkan tangannya. Dia tidak menggubris perkataan ku sama sekali.
"Maafkan aku, bisakah kau minta sesuatu yang lain?" Pintaku
Ku harap anak ini mengerti.
Akan sangat mudah bagiku untuk mengatakan "iya" tapi aku tidak bisa. Hal pertama yang membuatku ragu adalah jarak usia kami yang sangat jauh.
Dan lagi aku ini tersangka dalam kasus yang sedang di tanganinya, orang-orang pasti akan berfikiran buruk pada Minki, dia akan kehilangan pekerjaannya, padahal menjadi psikolog forensik adalah keinginannya sejak dulu.
Dan satu hal yang terakhir, ini yang paling menggangguku.
Aku takut dia celaka, semua wanita yang berkencan denganku pasti meninggal di bunuh secara brutal, aku tidak ingin Minki berada dalam bahaya. Aku tidak ingin seorang pun menyakitinya.
Kalau memang pembunuh itu ingin aku hidup sendirian sepanjang sisa hidupku, aku akan melakukannya, aku tidak ingin lebih banyak lagi orang yang mati karena ku.
"Beraninya kau menolakku!" Setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
Aku tidak ingin dia sedih seperti ini, kenapa kami berada di situasi yang salah, seharusnya sejak awal aku tidak usah dekat dengannya.
Aku mendekat dan ingin memeluknya tapi dia menolakku, mendorongku menjauh dengan tangan kecilnya.
"Kau sangat mencintai wanita itu, pacarmu yang di temukan meninggal itu?" Minki menatapku nanar
"Ya, maaf" ucapku berbohong.
Sebenarnya aku sama sekali tidak mencintai Martha, aku hanya tidak bisa terus menerus sendirian. Aku ini laki-laki normal, aku membutuhkan seorang wanita.
Aku ingin memiliki kekasih, menikah, punya anak, dan punya keluarga seperti kebanyakan orang. Itu sebabnya aku pacaran dengan Martha.
Aku tidak mungkin berkata hal seperti itu kepada Minki, dia akan berharap kepadaku.
Penolakan ku pasti sangat melukai harga dirinya, terlebih lagi hatinya. Tapi akan terjadi hal yang buruk kalau aku bersamanya, dia pantas mendapatkan pria lain yang lebih dariku.
"Kau tidak memiliki perasaan sedikitpun padaku?"
Aku memandangnya tepat di mata, aku bisa langsung tahu bahwa perasaannya padaku tulus.
Hampir saja aku kelepasan berkata kalau aku juga mencintainya, tapi hp yang ada di kantung celanaku berdering menghentikanku, syukurlah.
Tony calling
"Ya Tony?"
"Bisa ke sini sekarang?"
Suara Tony terdengar panik, apa yang sedang terjadi?
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa menjelaskannya, kau tidak akan percaya jika tidak melihatnya langsung"
KAMU SEDANG MEMBACA
ONE SHOT ALL KILL || JREN (END)
Mystery / ThrillerChoi Minki seorang psikopat gila diam-diam mencintai kim Jonghyun seorang dokter tampan yang dulu menyelamatkan hidupnya Tapi Jonghyun punya sisi gelapnya sendiri. Aku suka saat mereka berteriak kesakitan, tapi aku benci harus membersihkan sisa maya...
