27 (JONGHYUN)

131 34 11
                                        

Bukan seperti wanita kebanyakan meminta hal yang sulit, dia malah meminta hal yang sangat sederhana.

Kalau aku bersama dengan wanita lain, mungkin isi dompetku sudah terkuras sampai habis, tapi Minki berbeda.

Dia menolak semua pemberianku, dia hanya meminta ice cream, dia persis seperti anak kecil. Dia tetap seorang gadis polos walau dia seorang pembunuh.

Kami sedang berada di atas biang Lala, melihat gemerlapnya kota di malam hari, Minki tidak henti-hentinya tersenyum.

Aku senang melihatnya, ternyata membawanya berbelanja di toko tidak bisa membuatnya sesenang ini. Tapi untungnya dia masih mau memakai kalung pemberianku, sedangkan tas yang sudah ku beli di kembalikan.

"Sangat gemerlapan, sepeti lautan berlian" ucap Minki mengagumi hamparan cahaya gemerlap lampu kota.

"Mau ku belikan berlian?"

Minki mencubit lenganku pelan, sambil melotot.

"Jangan coba-coba!" Minki mengancam ku, mengacungkan tinju dengan tangan kecilnya.

Aku meraih tangannya itu dan menggenggamnya erat, ku cium punggung tangannya.

"Kau harus meminta sesuatu supaya aku tidak terlihat seperti pria yang tidak kompeten"

"Lalu kau sebut apa kalung ini, aku bahkan takut untuk memakainya kalau-kalau hilang" Minki menunjukan leher jenjangnya yang terdapat kalung Ruby pemberianku.

"Kalau hilang, akan ku belikan lagi"

Minki langsung membuang muka sambil bergumam, entah apa yang di katakannya, aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.

Seorang petugas membukakan pintu untuk kami, dan Minki langsung melompat keluar dengan bersemangat.

"Ayo naik wahana yang lain, aku ingin mencoba semuanya" Minki menarik tanganku, matanya berbinar saya melihat komedi putar yang di hiasi lampu-lampu.

Minki menyentuh kakinya refleks. Seharian ini kami jalan-jalan berkeliling kota, hanya diam sebentar untuk istirahat dan makan siang.

Aku memperhatikan kaki Minki, dia memakai sepatu dengan heels rendah, tapi tetap saja kelihatannya tidak nyaman jika di bawa jalan seharian.

"Kita pulang saja, apa kau tidak lelah?"

Minki menggeleng kencang, dia masih tetap menarik-narik tanganku. Tapi aku melepaskan tangannya.

"Besok kita bisa jalan-jalan lagi" ucapku lembut sambil membelai rambut Minki.

Tapi bukannya menuruti perkataan ku, Minki malah melotot ke arahku. Dia berkacak pinggang dengan wajah kesal.

"Pulang saja sendiri, aku masih ingin di sini" ucapnya ketus.

Dia benar-benar sepeti anak kecil, aku melakukan ini untuk kebaikannya, dia terlalu memaksakan dirinya hari ini, kakinya juga terluka, entah bagaimana dia bisa menahannya. Dia juga belum makan malam, dia selalu menolak dengan alasan diet.

Aku balik menatapnya kesal, aku meninggalkannya sendirian. Aku berjalan menuju ke arah pintu keluar taman hiburan, sedangkan Minki juga pergi menuju komedi putar yang sedari tadi ingin di naikinya.

"Terima kasih" ucap seorang gadis muda yang menjaga toko aksesoris sambil memberikanku uang kembalian.

Aku keluar dari toko itu sambil membawa bungkusan plastik berwarna pink. Aku kembali masuk ke dalam taman bermain untuk menemui Minki, tapi dia sudah tidak ada di komedi putar.

Kemana dia?

Seseorang menabrakku dari belakang, membuatku terdorong sedikit.

"Maaf" ucap pria tua yang menabraku itu sedikit menunduk, sambil berlalu.

ONE SHOT ALL KILL || JREN (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang