05 (MINKI)

170 39 4
                                        

Banyak yang menyangka umurku tidak lebih dari tujuh belas tahun.

Aku memang memiliki tubuh yang kecil, tinggi ku hanya 160 tapi bukan berarti aku ini anak di bawah umur, aku baru saja melewati ulang tahunku yang ke 25 kemarin, apa wajahku se-baby face itu sampai-sampai tidak di perbolehkan masuk ke dalam club malam.

Aku mengacungkan KTP pada penjaga pintu masuk, dia melihat dengan seksama sebelum akhirnya memperbolehkan aku masuk dan meminta maaf.

Aku tidak terlalu suka pergi ke club malam, aku benci bau alkohol, dan musik yang berdentum, musik yang nyaring membuat jantungku berdegup, ini juga tidak bagus untuk kesehatan telinga. Aku jarang pergi ke tempat ini kecuali memang ada hal yang teramat penting.

Seperti sekarang ini.

Aku melihat Chaerin menari dengan semangat sambil memegang sebotol Vodka.

Cewek gila itu bilang akan membantuku, tapi dia malah asik sendiri, aku tidak bisa mengajak Inguk, dia sangat berpegang teguh pada pendiriannya tentang jangan menyakiti orang yang tidak berdosa.

Dia punya sisi baik yang menyebalkan, memangnya dia itu superhero pembela kebenaran dan hanya menghukum orang jahat. Dasar munafik.

"Aku mengajakmu ke sini bukan untuk bersenang-senang!"

Aku memandang Chaerin dengan marah saat dia datang menghampiriku.

"Aku tahu, tapi tidak ada salahnya bersenang-senang sedikit, kita kan sudah di sini, jadi nikmati saja"

Chaerin berbicara seperti orang mabuk, dan mengalungkan tangannya ke leherku, tapi aku melepasnya dengan paksa.

Dia hanya minum Vodka kenapa juga bisa mabuk, dia lemah dalam hal minum tapi tetap saja melakukannya, aku tidak akan bertanggung jawab kalau dia sampai pinsan di sini.

"Liat di sana, kau harus bisa memasukan ini kedalam minumannya"

Aku memberikan Chaerin bungkusan kecil berisi bubuk berwarna putih sambil menunjuk segerombolan cewek yang berkumpul di meja seberang.

"Apa ini? Narkoba? Boleh aku minta?"

"Itu bukan narkoba! Pokonya masukan saja itu dalam minumannya supaya dia tidak sadarkan diri"

"Mereka semua?"

"Cuma satu, yang rambutnya hitam ombre biru, lihat baik-baik jangan sampai salah orang"

"Baiklah, haruskah aku melakukannya sekarang?"

"Tentu saja sekarang, memangnya mau nunggu sampai besok!" Aku kewalahan bicara pada Chaerin yang sedang mabuk.

"Oke" Chaerin mengacungkan jempolnya padaku.

Semoga saja cewek bodoh itu tidak membuat masalah.

Selang beberapa jam akhirnya gerombolan cewek-cewek itu membubarkan diri.

Cewek jelek berambut ombre itu pulang naik mobil sendirian sedangkan teman-temannya sudah pergi terlebih dahulu.

Aku mengikutinya dari belakang, perasaan was-was menghampiriku, aku sudah menyuruh Chaerin untuk memasukan obat bius pada minumannya tapi cewek sialan itu masih terlihat baik-baik saja, kecuali agak sedikit mabuk. Aku rasa Chaerin pasti melakukan kesalahan. Kenapa juga aku memberikan tugas sepenting itu pada Chaerin, selain berkelahi dia sama sekali tidak bisa di harapkan.

Sebuah dentuman besar menyadarkanku dari lamunanku, aku tidak sadar bahwa mobil yang di kendarai oleh cewek itu menambrak trotoar pembatas jalan.

Ternyata Chaerin tidak membuat kesalahan, cewek itu pinsan saat sedang mengemudi.

ONE SHOT ALL KILL || JREN (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang