06 (JONGHYUN)

188 36 15
                                        


"Agh!!" Aku mengacak-acak rambut frustasi.

"Siapa orang gila yang melakukan ini!!" Teriakan ku memenuhi seisi ruangan.

Aku mendengarkan berita tentang penemuan seorang mayat dari tv yang berada di ruang tengah, suara tv sengaja ku buat sekencang mungkin, supaya aku yang berada di pantry membuat kopi masih bisa mendengarnya dengan jelas.

"Baru saja beberapa hari lalu aku mulai berpacaran dengannya, dan tahu-tahu dia meninggal dengan mengenaskan. Berani taruhan sebentar lagi polisi pasti akan memanggilku sebagai saksi, atau mungkin aku akan di jadikan tersangka lagi seperti yang sudah-sudah"

Aku mencengkram erat sendok di tangan ku membuat sendok itu sedikit melengkung.

Ini bukan pertama kalinya wanita yang dekat denganku meninggal, aku bahkan sudah tidak ingat ada berapa orang, aku bosan menghitungnya.

Hanya beberapa hari berkencan dan setelahnya di temukan meninggal dengan kondisi mengenaskan, ada juga yang menghilang dan tidak di temukan sampai sekarang. Aku bahkan kehilangan calon istriku di hari pernikahan karena sebuah kecelakaan yang tidak masuk akal.

Awalnya ku pikir ini hanya sebuah kebetulan, tapi lama kelamaan aku mulai curiga, ada seseorang yang sengaja melakukan ini padaku, entah apa motifnya.

Seingatku aku tidak punya musuh, tapi tidak menutup kemungkinan ada orang yang diam-diam benci padaku, dendamnya pasti sangat kuat sampai-sampai bisa berbuat hal sekejam ini.

Polisi terus saja mencurigai ku, sudah beberapa kali juga aku keluar masuk penjara, aku selalu di bebaskan karena polisi tidak bisa menemukan bukti, dan lagi aku selalu punya alibi.

Karir yang selama ini sudah ku bangun dari nol bisa berantakan kalau begini.

"Aku akan membunuh psikopat gila itu dengan tanganku sendiri, kalau aku bertemu dengannya!" Gigiku mengeluarkan suara gemeretak saking marahnya.

Aku berjalan menuju kulkas, mengabaikan kopi yang telah ku buat, aku sudah tidak bernafsu untuk minum kopi sekarang, aku butuh yang lain.

Aku meraih sebotol wiski dari dalam lemari dan menuangkannya ke gelas yang sudah ku isi dengan es batu dari kulkas.

Minuman beralkohol memang sangat cocok untuk menemaniku di saat-saat seperti ini, paling tidak aku bisa melupakan masalahku untuk sejenak.

Aku sudah menghabiskan setengah botol saat aku ingat sesuatu yang penting.

Ughh gadis muda itu, Minki, dia akan datang sebentar lagi. Seharusnya aku tidak minum, bagaimana bisa seorang dokter terlihat minum alkohol dan mabuk di depan pasiennya.

Aku pertama kali bertemu Minki lima tahun yang lalu saat dia menjalani operasi paru-paru untuk meringankan asmanya.

Mulai saat itu dia terus menempel padaku. Operasinya berjalan dengan sukses dan tidak ada hal yang buruk terjadi padanya. Tapi dia terus saja datang ke rumah sakit mengeluhkan ini dan itu, dia bahkan teratur datang menemuiku satu minggu sekali dengan alasan cek up.

Dia juga sering menelpon ku untuk sekedar bercerita tentang kegiatannya sehari-hari, jika sedang tidak sibuk aku mengajaknya jalan-jalan membelikannya ice cream dan boneka. Aku dan dia terlihat seperti ayah dan anak.

Aku sebenarnya sama sekali tidak keberatan, dia gadis yang manis dan lucu, dia juga cantik dan lemah lembut. Kalau boleh jujur, aku menyukainya, sangat menyukainya.

Tapi aku harus tahu posisiku, aku ini sudah tua, mana boleh menyukai gadis kecil sepertinya.

Aku yang berusia 41 tahun ini, tidak mungkin mengencani anak di bawah umur, yang umurnya terpaut 16 tahun lebih muda dariku. Aku lebih pantas menjadi pamannya dari pada menjadi pacar.

ONE SHOT ALL KILL || JREN (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang