18 (JONGHYUN)

148 34 18
                                        

Minki menatapku heran, tentu saja dia bertanya-tanya kenapa aku bisa berada di sini sekarang. Tapi alih-alih menanyaiku dia malah berteriak histeris saat melihat inguk yang duduk di atas kursi roda, tidak berdaya.

"Apa yang terjadi padamumu?" Minki menangkup wajah Inguk dengan kedua tangannya.

Sudah jelas Inguk tidak ingin menjelaskan apa yang terjadi, harga dirinya pasti terluka.

"Dokter Kim, kau yang melakukan ini padanya? Teganya!" Minki menatapku marah, aku menggeleng sekuat tenaga, aku tidak ingin dipersalahkan.

Inguk tidak melakukan apapun untuk membelaku dan malah menjalankan kursi rodanya menuju kamar sendiri. Minki dengan cepat menangkap kursi roda itu untuk menghentikannya, dia berjongkok di hadapan Inguk dengan wajah khawatir.

Aku jadi kesal melihat drama sampah di hadapanku, tidak di sangka Minki ternyata punya pria lain yang di perhatikan ya selain aku. Aku bukannya cemburu, sungguh, agh tapi kenapa rasanya kesal sekali.

"Bukannya kau bilang kau di di rumah temanmu" aku hanya ingin minta penjelasan pada Minki, mungkin maksudnya bukan hanya teman, tapi teman laki-laki.

"Ini rumah temanku!" Ucap Minki setengah membentak, aku rasa di masih salah paham, aku sama sekali tidak melukai Inguk, malah aku yang menolongnya.

"Inguk apa yang terjadi?" Minki mulai mengintrogasi Inguk.

"Bukan apa-apa" Inguk hanya menjawabnya singkat sambil menunduk.

"Aku akan membencimu jika memang benar kau yang melakukan ini dokter Kim!" Minki beralih padaku, matanya menatapku tajam, tatapannya membuatku terintimidasi seperti biasa.

"Hei bocah, jelaskan padanya kalau bukan aku yang melakukannya!" Kini aku yang bicara pada Inguk, tapi dia sama sekali tidak merespon.

"Kau tidak ingin membelaku, baiklah, aku akan menceritakan semua yang terjadi padanya" ancamku, dan berhasil, Inguk mulai mengangkat kepalanya.

"Kau mengancamnya? Jadi benar kau yang melakukannya!" Ah sial, kenapa Minki jadi semakin salah paham.

"Bukan dia yang melakukannya" ucap Inguk pelan. "Aku sangat lelah, bisa bawa aku ke kamar"

Mendengar keluhan Inguk, Minki langsung berdiri, mendorong kursi roda menuju kamar.

Dia mengabaikan ku, seharusnya dia minta maaf karena sudah menuduhku tadi, agh dasar menyebalkan, aku menyesal sudah menolong Inguk.

Minki menolong Inguk untuk naik ke atas ranjang. Dia melepaskan baju Inguk dan menggantinya dengan baju lain yang bersih, memakaikan Inguk kaos kaki dan menyelimutinya dengan nyaman.

Awalnya Minki terbelalak melihat luka lebam di sekujur tubuh Inguk, tapi Inguk menolak untuk menjelaskan dengan alasan lelah, Minki langsung menyerah dan hanya duduk di sampingnya sambil mengelus-elus rambut Inguk yang berantakan.

Sepeti yang bisa di lihat, mereka pasti sangat dekat, bahkan lebih dekat daripada Minki denganku.

Aku tidak ingin mengganggu mereka dan hanya berdiri di depan pintu yang terbuka. Aku persis seperti seorang ayah yang mengawasi anaknya yang sedang pacaran.

"Aku datang ke sini untuk berbaikan denganmu, tapi kau tidak ada, aku menunggumu pulang, tapi kau malah pulang dengan keadaan seperti ini" wajah Minki terlihat sedih, tapi untungnya dia tidak menangis.

"Aku tidak apa-apa" Inguk bersuara datar, dasar tidak punya hati, ada orang yang sangat memperhatikannya tapi dia malah bersikap angkuh.

"Katakan siapa yang melakukan ini padamu, aku akan pastikan mereka akan mati malam ini juga"

ONE SHOT ALL KILL || JREN (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang