Dengan marah ku tendang mobil Inguk yang masih terparkir di parkiran kampus. Aku meminta seseorang untuk melacak keberadaan mobil Inguk dan mobil sialan ini di temukan di kampus, terparkir diam sejak siang, itu artinya Inguk tidak kemana-mana.
Aku bingung harus memulai dari mana lagi.
Awalnya aku cukup percaya diri dengan meminta bantuan dari kenalan Chaerin, aku memintanya meretes cctv kampus, dan hasilnya nihil, aku tidak mendapatkan petunjuk apapun.
Bukan maksudku untuk ikut campur dalam masalah Inguk, tapi bagaimanapun juga Inguk itu salah satu sahabatku, dan lagi jika ini terjadi padaku, Inguk juga pasti akan bereaksi sama persis seperti ku sekarang.
Lihat saja nanti, jika aku berhasil menemukan orang yang membuat Inguk terluka seperti, aku akan mematahkan jari-jari tangannya, dan memotongnya kecil-kecil, akan ku jadikan sup dan ku bagikan pada tetangga untuk sarapan pagi.
Bayangkan saja wajah tampan Inguk yang tadinya putih mulus, sekarang malah berwarna merah kebiruan dan bengkak sana sini. Aku tidak pernah mengakui ini di depannya, tapi bagiku Inguk cukup tampan. Dia mungkin akan berteriak senang dan meloncat kegirangan jika mendengar ku mengatakan ini. Jadi aku cukup mengucapkannya dalam hati saja.
"Agh sial!" Sekali lagi aku menendang mobil Inguk yang tidak berdosa.
Aku menutup mataku sejenak, mencoba untuk menenangkan diri. Kemarahanku mungkin membuatku tidak bisa berfikir dengan baik. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Akan lebih cepat jika aku meminta bantuan Chaerin, tapi lebih baik tidak. Chaerin tidak ingin terlibat dengan urusan orang lain, untukku itu pengecualian, tapi untuk Inguk yang sama sekali belum di kenalnya, jangan harap dia mau.
Seketika muncul bayangan Jonghyun dalam kepalaku, di saat seperti ini tidak seharusnya aku memikirkan Jonghyun. Ya aku sangat mencintainya sampai-sampai setiap saat wajahnya tanpa sadar melintas di kepalaku, tapi ini bukan waktu yang tepat.
Tapi tunggu, Inguk di antar pulang oleh Jonghyun, apa mungkin Jonghyun tahu apa yang terjadi?
Sebelumnya Inguk bilang kalau dia bertemu Jonghyun di rumah sakit saat mengobatinya di IGD.
Ada yang janggal, aku hafal semua jadwal tugas Jonghyun di rumah sakit, dan seharusnya hari ini Jonghyun pulang sore, ada kemungkinan dia melakukan operasi dan pulang agak terlambat, tapi tidak mungkin juga sampai selarut ini.
Akhirnya otakku yang tadinya tersendat kembali berfungsi dengan baik, aku berlari menuju mobilku, dan berniat untuk kembali ke apartemen Inguk.
Kalau aku tidak bisa menemukan petunjuk dari Inguk, aku harus mengubah haluan dan mulai mengikuti jejak Jonghyun.
Aku sampai lebih cepat lima menit dari biasanya, jalanan sangat sepi jadi aku bisa seenaknya memakai jalan tanpa harus takut menyebabkan kecelakaan.
Bukannya aku takut kalau aku bisa mencelakai orang lain, mencelakai orang yang tidak ku kenal adalah hobiku. Tapi sebuah kecelakaan akan menghambat ku untuk sampai ke tujuan, aku tidak bisa membuang-buang waktu.
Area parkir di apartemen Inguk ini lumayan luas, jadi aku memerlukan tenaga ekstra untuk berkeliling dan mencari dimana letak mobil Jonghyun, ini tidak akan mudah.
Setelah berkeliling selama setengah jam akhirnya aku menemukannya, Porsche Boxster hitam dengan plat nomer yang tertera angka kesukaannya 777, dia bilang itu adalah nomer keberuntungan.
Walaupun dia bilang itu angka keberuntungan, pada kenyataannya itu tidak berpengaruh apapun untuk hidupnya. Aku tidak percaya dengan hal tidak masuk akal seperti itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ONE SHOT ALL KILL || JREN (END)
Misteri / ThrillerChoi Minki seorang psikopat gila diam-diam mencintai kim Jonghyun seorang dokter tampan yang dulu menyelamatkan hidupnya Tapi Jonghyun punya sisi gelapnya sendiri. Aku suka saat mereka berteriak kesakitan, tapi aku benci harus membersihkan sisa maya...
