Saat sadar aku sudah tergeletak tidak berdaya di atas lantai yang dingin.
Terakhir ku ingat aku sedang berpesta bersama Minji, ibunya Minki di club, setelahnya aku tidak ingat apapun lagi.
Tubuhku tidak bisa di gerakan, tangan dan kakiku mati rasa. Satu-satunya yang dapat ku gerakan adalah bola mataku.
Ku sadari aku sedang berada di ruangan serba putih, dengan lantai keramik yang juga berwarna putih, pandanganku agak samar, kesadaran ku belum kembali sepenuhnya.
Tidak ada suara sedikitpun yang keluar dari mulutku saat aku berusaha berteriak, seperti ada sesuatu tersangkut di tenggorokan, menahanku untuk mengeluarkan suara. Aku penasaran bagaimana keadaan Minji, apa dia baik-baik saja.
"Inguk, hei anak sial" sebuah suara tertangkap oleh telingaku yang agak berdengung.
"Mama Minji?" Aku tidak percaya, Minji juga ada di sini.
Astaga kalau Minki tahu aku tidak menjaga mamanya dengan benar aku bisa tamat.
Minji berusaha membuat ku duduk dan menyangga tubuhku di bahunya. Ternyata hanya aku yang tidak berdaya di sini.
"Kau tidak apa-apa?"
Ku kedipkan mataku memberi isyarat bahwa aku baik-baik saja. Aku hampir saja rubuh ke lantai, tapi Minji segera menahanku sekuat tenaga.
"Tubuhmu berat sekali sih, padahal kau sangat kurus" keluh Minji.
Aku hanya tersenyum menanggapi keluhannya, apa lagi yang bisa ku lakukan selain tersenyum.
"Seseorang pasti mencampurkan obat bius ke minuman kita" ucap Minji yakin.
Sekali lagi aku hanya bisa merespon ucapan Minji dengan mengedipkan mata.
"Jika kau pernah hidup di penjara sepertiku, aku yakin kau akan terbiasa dengan hal semacam ini"
Aku baru tahu ternyata penjara juga bisa memberikan pelajaran penting tentang bertahan hidup semacam ini.
"Tiduran saja lagi, nanti juga tubuhmu akan bisa di gerakan seperti semula" Minji perlahan merebahkanku kembali ke lantai.
"Siapa si brengsek yang melakukan ini? Apa kau tahu"
"..........." Aku ingin menjawab tidak, tapi aku tidak bisa, jadi aku hanya diam.
Minji langsung paham dan membiarkanku tanpa berkomentar apapun.
Harus ku akui, aku punya banyak musuh di luaran sana, jadi yang melakukan ini bisa siapa saja. Baru-baru ini aku bahkan menipu janda kaya dan mengambil perhiasannya. Tapi seharusnya dia tidak sadar, kejadian itu ku setting seperti pencurian.
Jadi janda itu ku hapus dari daftar kemungkinan. Apa jangan-jangan pria yang ku tipu dengan voice phishing? Tapi dia tidak pernah melihat wajahku, dan identitas ku, dia juga akan ku coret dari daftar.
Tapi kalau di pikir-pikir tidak mungkin orang biasa melakukan hal semacam ini, mereka paling hanya akan melaporkanku pada polisi. Yang berani sampai meletakan obat bius di minuman, dan menculik sepeti ini pasti seorang yang nekat.
Apa itu Matthew Gill?
Ah tidak mungkin, urusanku dengan dia sudah selesai. Dan berkat si brengsek itu aku malah berhutang besar pada jonghyun, memalukan.
Aku melihat ke samping dan ku lihat Minji malah tertidur, apa yang ada di kepalanya saat ini, bisa-bisanya dia tidur pada saat seperti ini, seharusnya di berkeliling dan mencari jalan keluar, bukannya malah tidur.
Kalau saja tubuhku bisa di gerakan, mungkin kami sudah bisa keluar dari sini dari tadi. Aku juga tidak terlalu berharap banyak pada wanita tua di sampingku ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
ONE SHOT ALL KILL || JREN (END)
Misterio / SuspensoChoi Minki seorang psikopat gila diam-diam mencintai kim Jonghyun seorang dokter tampan yang dulu menyelamatkan hidupnya Tapi Jonghyun punya sisi gelapnya sendiri. Aku suka saat mereka berteriak kesakitan, tapi aku benci harus membersihkan sisa maya...
