33 (JONGHYUN)

52 13 6
                                        

Entah kenapa selama berhari-hari Minki tidak bisa di hubungi, aku coba untuk menemuinya di rumah, tapi dia selalu tidak ada.

Dia mulai berubah setelah pertemuanku dengan Minji, apa aku melakukan kesalahan tanpa ku sadari?

Dia hanya mengirimkan pesan untuk tidak menghubunginya lagi, bukankah itu aneh. Seakan-akan dia sedang minta putus dariku.

Aku sangat merindukannya, bagaimana bisa aku bertahan, biasanya dia selalu mengirimkan pesan padaku, mengingatkan ku untuk makan, dan sekedar basa basi membahas hal tidak berguna.

Ku akui, aku memang agak mengabaikan Minki waktu itu, tapi bukan berarti aku tidak perduli, aku hanya terlalu senang bertemu dengan Minji setelah bertahun-tahun.

Rasa bersalahku karena tidak berhasil menyelamatkannya waktu itu langsung lenyap entah kemana, saat melihatnya baik-baik saja.

Dan lagi kami hanya teman, dulu kami memang berpacaran tapi bukan untuk serius, aku dan Minji pura-pura berpacaran untuk menghindarkan Minji dari para fans fanatiknya.

Dia sangat cantik sampai-sampai hampir semua anak laki-laki di sekolah jatuh cinta padanya. Aku sudah berteman dengannya sangat akrab, entah kenapa perasaanku tidak bisa berkembang lebih dari teman.

Aku khawatir Minki merasa terganggu dengan lelucon yang di lontarkan Minji waktu itu, tentang aku dan dia berpacaran. Minki anak yang sangat sensitif, dia mungkin akan berfikiran buruk tentangku dan Minji.

Aku sedang mencoba fokus memeriksa riwayat para pasien, tapi rasanya sangat sulit, wajah Minki yang sedang menangis terus berputar-putar di dalam kepalaku, anak itu, apa dia baik-baik saja?

Tiba-tiba terdengar suara pintu ruangan ku di ketuk, Minji muncul dengan wajah sumringah, tanpa ku persilakan dia masuk dan duduk di depanku. Sama seperti dulu, dia memang selalu seenaknya sendiri.

"Aku membawakan mu makan siang" Minji menunjukan kotak bekal yang di bawanya.

"Jangan terlalu sering datang ke sini" ucapku acuh.

Aku tidak ingin Minki salah paham kalau melihatnya.

"Iya aku tahu, kau sebentar lagi menikah kan, kau tidak ada niat untuk memperkenalkan ku dengan calon istrimu?" Minji menatapku dengan mata bulatnya, setelah di lihat lebih dekat, ternyata wajahnya cukup mirip dengan Minki, apalagi matanya.

"Kau sudah mengenalnya"

"Dia, teman satu sekolah kita?" Minji mulai antusias, tapi aku tidak menggubrisnya.

"Boleh aku bertanya satu hal? Kau dokter yang selama ini menangani Minki, termasuk saat transplantasi jantungnya, boleh aku tahu, dari mana kau mendapatkan jantung itu?" Tanpa basa-basi Minji melontarkan pertanyaannya.

Aku berdecak kesal, aku sama sekali tidak ingin membahas masalah itu, tidak ada sedikitpun niat untuk mengatakan kebenarannya. Itu adalah kejahatan pertama yang ku lakukan, mana mungkin aku mengakuinya.

Aku kembali menyibukkan diri dengan berkas di hadapanku, dan mengabaikan pertanyaan Minji.

"Ini hanya tebakanku, tapi ku harap ini benar. Minki memiliki darah langka dengan resus negatif, jadi sangat sulit menemukan pendonor untuknya, apa jantung itu milik si brengsek yang dulu menculik ku?"

Aku menghentikan kegiatanku menulis, dan meletakan pulpen setengah membanting, aku tidak tahu bahwa Minji akan sampai pada kesimpulan itu.

Memang benar, jantung yang ku berikan pada Minki adalah milik bajingan yang menculik dan memperkosa Minji 25 tahun yang lalu.

Aku tidak mengatakan sepatah katapun dan hanya memandang Minji.

"Di lihat dari ekspresi mu, sepertinya itu benar" Minji tersenyum getir "baguslah itu artinya dia sudah mati" sambungnya lagi.

ONE SHOT ALL KILL || JREN (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang