30

200 37 0
                                        

Maaf ya baru update. Baru sibuk sibuknya, ngejar deadline tugas yang menumpuk. Belum lagi tugas sekolah yang tak terduga, dan harus ke luar kota buat ngerjain tugas itu, bahkan sampai sekarang belum selesai.

Dan sekarang baru buat project baru, 2 cerita sekaligus. Sampai lupa sama alur ceritanya.

Cekidot :

Hari yang baru, namun masih dengan memori yang sama.

Sorang gadis tengah berbaring dengan banyak alat medis terpasang di tubuhnya. Entah sudah berapa lama gadis itu memejamkan matanya. Apa ia merasa nyaman dengan itu?

"Kau tak ingin bangun sayang? Maafkan ibu! Ibu terlambat menemuimu, " ucap seorang wanita tua sambil mengusap puncak kepala gadis dengan penuh luka itu. "Harusnya bukan kau yang seperti ini, ibu hanya terlalu takut menghadapimu, bukan kau yang bersalah, jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri! Ibu menyayangimu nak, kau tidak seharusnya seperti ini," wanita tua itu terus berbicara, seolah putrinya yang tengah sekarat itu sanggup mendengar.

Sampai sebuah tangan mengusap pelan bahunya. Gadis dengan rambut yang di gelung ke atas itu tersenyum dengan hangat. "Jangan menyalahkan dirimu, Bi!"

Apa saat aku sekarat seperti itu, ibu akan mengatakan jika ia menyayangiku?

"Aku sangat berterimakasih pada ayahmu, Sejeong. Jika bukan karena ayahmu, Sohye pasti tidak akan ada bersamaku, "

Sejeong tersenyum lembut. Entah kapan ibunya bisa seperti itu padanya.

Sudah setahun ini Sohye belum bangun dari koma nya setelah kecelakaan satu tahun yang lalu. Kecelakaan yang hampir saja  merenggut nyawa Sejeong juga. Sebenarnya Sejeong dan Sohye sama saja. Mereka sama- sama korban dari kecelakaan saat itu. Sejeong juga mengalami koma, baru tiga bulan yang lalu ia bangun dari komanya. Tapi sampai sekarang Sohye belum juga bangun. Sedangkan sopir truk yang adalah paman nya Sohye meninggal di tempat. Mengingatnya membuat bulu kuduk Sejeong berdiri. Saat itu ia hanya ingin melupakan masalahnya sebentar, tapi takdir mempermainkannya.

"Maaf nona, tuan besar meminta saya menjemput nona. Tuan besar ingin nona beristirahat lagi, " ucap Darren-- pengawal Sejeong.

Dan sejak kecelakaan itu, Kim Woo Sung- ayah Sejeong, membawa Sejeong ke luar negeri setelah melakukan pengobatan selama beberapa bulan di Korea. Negeri Paman Sam inilah tempat Sejeong tinggal sekarang, dengan seluruh kekayaan ayahnya dan kasih sayang keluarga barunya.
Ayahnya dulu memang miskin, tapi semua itu karena semua fasilitas ayahnya yang di bekukan oleh kakeknya. Jadi? Nyonya Sooji salah.

Sejeong memasuki mobil SUV nya setelah tadi berpamitan pada Nyonya Hyeri-- ibu Sohye.

Selama perjalanan Sejeong hanya diam saja. Setelah bangun dari koma ini, Sejeong juga menyadari banyak yang berubah dari dirinya.

"Apa nona ingin makan? Sejak tadi pagi nona belum makan? " ucap Darren yang duduk di jok depan bersama Paman Han.

Darren adalah pria blasteran Amerika- Korea- China berumur 37 tahun. Darren sudah lama bekerja dengan Woosung. Dan sekarang Darren bertugas menjaga Sejeong. Darren sangat berterimakasih pada Woosung, karena jika bukan karena Woosung ia sudah mati. Maka dari itu dia berjanji akan selalu melindungi keluarga tuannya termasuk Sejeong. Bahkan Darren sampai mencari seluk beluk Sejeong, agar pria itu bisa memahami Sejeong dengan baik. Darren sudah menganggap Sejeong seperti adiknya sendiri.

"Aku tidak lapar Darren, " ucap Sejeong tanpa beralih dari keadaan di jalan.

"Tapi kita harus pergi ke rumah dokter Samantha, beliau pasti akan tetap memintamu makan. Nyonya Yoolie juga sudah menunggu di sana, "

"Oh ibu di sana, "

Nyonya Yoolie adalah istri ke dua ayahnya Sejeong, artinya adalah ibu tiri Sejeong. Bagi Sejeong, Yoolie dan Sooji sangat berbeda. Mereka seperti siang dan malam. Yoolie lebih lembut dan penyayang, Yoolie menerima Sejeong dengan baik, walaupun Sejeong bukan anak kandungnya. Sangat berbeda dengan Sooji kan?

Setelah sampai di rumah praktek dokter Samantha, Sejeong langsung berjalan cepat ke arah Nyonya Yoolie. Sejeong benci dengan panas matahari.

"Sejeong? Kau sudah makan sayang? "

Sayang, sayang

Sejeong menggeleng pelan.

"Kenapa belum makan? "

"Aku tidak lapar, bu "

Hari ini ada jadwal perawatan dengan dokter Samantha-- psikolog. Woosung tahu sejak kecil Sejeong tertekan, Woosung takut Sejeong semakin tak terkendali mengingat putrinya itu dulu sering ditangani psikolog. Apalagi setelah Sejeong bangun dari komanya beberapa bulan lalu, emosinya benar- benar tak terkendali.

"Bagaimana kabarmu Sejeong? " ucap Dokter Samantha dengan logat Korea fasih.

Woosung memang sengaja mencarikan dokter yang memiliki logat Korea fasih agar Sejeong tidak kesusahan. Tapi Woosung tidak tahu saja jika Sejeong sudah terbiasa dengan bahasa Inggris. Bahkan ia sering mengajak dokter Samantha berbicara dengan bahasa Inggris.

"I'm fine, "



"Permisi Pak, ada berkas yang harus di tanda tangani, " ucap seorang wanita.

"Masuk! " ucap sebuah suara bariton. Suara itu milik Daniel. Kang Daniel. Pria yang menjadi masa lalu Kim Sejeong. Mungkin juga masa depan, tapi bukan sekarang.

"Ini adalah berkas yang akan di kirim ke SJ Group di Amerika, " jawab Nadine-- sekertaris Daniel.

Daniel segera menandatangani berkasnya. Rasa lelah benar- benar menyeruak di seluruh tubuh Daniel. Sudah tujuh bulan setelah wisuda S2 nya, Daniel harus menggantikan posisi Seonghun untuk memegang KNP TV.

"Kapan jadwal ku bertemu dengan SJ Group? " tanya Daniel.

"Lusa, Presdir Kim akan terbang ke Seoul, "

"Baiklah, " Daniel segera menutup berkas dan menyerahkannya pada Nadine.

Lusa, presdir SJ group akan datang ke Seoul untuk menandatangani perjanjian kerja sama.

Daniel mengusap wajahnya kasar, ia benar- benar lelah. Beberapa hari ini tubuhnya selalu terforsir untuk pekerjaan, mengurusi KNP TV karena sempat mengalami sedikit penurunan.

Sudah lewat setahun sejak Sejeong memutuskan Daniel, tapi rasa itu ada, Daniel tak bisa melupakan Sejeong. Perasaan cinta itu tidak hilang, malah bertambah.

Daniel tahu kejadian setahun yang lalu saat sebuah truk menabrak pagar pembatas dan masuk sungai, tapi ia tidak tahu jika Sejeong ada di sana. Selama ini Daniel tak pernah mencari Sejeong, ia menghargai keputusan gadis itu. Daniel tak ingin mengganggu kehidupan Sejeong lagi.

"Kau benar Sejeong, aku sangat berterimakasih padamu, " lirih Daniel saat menatap foto Sejeong dan dirinya. "Kau mungkin berfikir, aku marah tentang semua itu, kau salah Sejeong, kau salah. Aku mencintaimu, "

Daniel tahu segalanya, mulai dari Seowon-- kakaknya yang ternyata adalah pelaku tabrak lari neneknya Sejeong. Saat Daniel mengetahui hal itu, ia menyesal. Bukan karena Sejeong yang pergi dari hidupnya, tapi menyesal dan merasa bersalah karena Seowon tidak mengatakan apapun. Sampai kenyataan bahwa ayahnya menjalin hubungan gelap dengan ibunya Sejeong.

Tbc
Jangan lupa vote and comment ya! Biar gue nya semangat. Apalagi pas puasa sambil ujian gini.

Love In Eastern Sky [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang