Sesuatu mungkin bisa lenyap, hilang, sirna, pudar
Dan kemudian kembali berpendar
Menyilaukan luka duka dari perasaan suka
Kau adalah tokoh ceritaku yang sulit kutangguhkan
Dalam lembar-lembar ini
Tiada imajinasi
Hanya ada kau yang nyata
Kau adalah kataku yang berkembang
sebagai bumbu-bumbu dapur
Yang belum berhasil kuracik
Setelah kejadian itu, ia semakin pesimis terhadapku. Pun terhadap hubungan yang tidak jelas itu. Hari-hari seakan berubah sedemikian cepat. Mengalahi langkahku yang berlari menjauh. Adakah yang lebih rumit dari rajut rindu? Ada. Ketika kau meminta, menyimpan, dan memakainya sehari-hari, sedang aku berusaha meredam rasa.
Aku menjadi sering marah dan tak menentu. Terkadang ketika kau memulai percakapan, aku tidak menunjukkan semangat seperti biasanya.
"Aku ini kau memberikan sebuah kejelasn."
Aku tak lagi bisa mengontrol apa yang selama ini aku sembunyikan. Ia begitu aneh mengatur apa yang harus aku lakukan tanpa memberikan sesuatu yang jelas dalam hubungan pertemanan yang bukan seperti pertemanan, persaudaraan yang juga bukan seperti saudara.
Aku tahu ia sangat takut membuatku kecewa. Dia pernah mengatakan perasaannya yang menyayangiku itu. Semua juga begitu jelas terpancar dari matanya yang kerap berbinar-binar saat menemuiku. Aku menikmati cara ia tertawa. Ia tak pernah ingin membuatku menangis dan hal itu memang salah satu yang paling ia wanti-wanti.
"Kau jangan pernah menangis lagi." Ucapnya suatu hari.
"Aku tak ingin melihatmu sakit seperti ini. jaga kesehatan. Badan mau dipakai lama, kan?" tambahnya.
Mungkin memang tak pernah kata-kata yang jelas terucap dari bibirnya. Namun secara tersirat, ia telah hadir sebagai seseorang yang memang aku butuhkan.
Adakah cara lain untuk menemukan kata. Apa aku harus mengetuk pintu bibirmu, menuruni tangga dari pangkal tenggorokanmu, dan terjun menuju jantungmu untuk mendengar detak namaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
BONSAI
Teen Fiction"Seandainya kau tak pernah menyisakan tanda, tentu aku takkan mencari cara untuk memaknai cinta [sekali lagi]."
