2016
Tak terasa aku telah berhasil untuk tak mengacuhkannya. Dua tahun yang kulewati tanpa Bang Dhamar. Setelah ia memilih teman wanita lain, aku berusaha mencari kesibukan lain. Ternyata benar kata orang, ketika kamu tidak difokuskan pada sebuah perasaan yang belum pasti, kamu akan melewati banyak hal dan kejadian yang berbeda. Tak ada suasana monoton, banyak mengenal orang, bisa menyalurkan hobi.
Aku masih ingat apa yang dahulu pernah ia tertawakan. Perihal keyakinanku bahwa Bang Dhamar ialah jodoh yang tepat. Setelah usiaku beranjak dewasa pikiran itu pun lebur. Aku lebih ingin menyimpan keyakinan itu pada takdir terbaik dan terpantas yang diberikan Tuhan kelak. Setelah aku benar-benar bisa menstabilkan diriku yang masih kanak-kanak ini.
Dalam dua tahun ini sudah begitu banyak perubahan. Aku tak lagi orang yang antisosial dan bukanlah seseorang yang menganggap masalah kecil sebagai masalah yang besar. Ternyata semakin kau melihat luas dunia dan semakin banyak kau masuk ke dalam dunia-dunia yang berbeda, kau akan dapat menyimpulkan bahwa masih banyak masalah yang lebih besar dan itu merupakan cara Tuhan untuk melatihmu menjadi sosok yang kuat.
Dalam dua tahun berlalu, mungkin begitu banyak kejadian baik, buruk, bahkan sangat buruk. Namun untuk menyesali sesuatu yang terjadi berlama-lama tentu bukanlah cara yang bijak. Bukankah Tuhan menilai kamu dari bagaimana kamu sekarang, bukan kamu di masa lalu. Aku tentu masih layak untuk berharap tentang segala yang lebih baik ke depannya. Terimakasih Tuhan, kau telah menyadarkan, memanggilku untuk kembali dan masih memberikan kesempatan kepadaku untuk memperbaiki diri.
***
Ada yang perlu kita tuntaskan
Seperti melahap makanan kesukaan
Ada yang perlu kita selesaikan
Seperti membuang hal yang telah lari dari kesan
KAMU SEDANG MEMBACA
BONSAI
Fiksi Remaja"Seandainya kau tak pernah menyisakan tanda, tentu aku takkan mencari cara untuk memaknai cinta [sekali lagi]."
