[Completed]
(sebagian chapters diprivat untuk followers, follow untuk membaca)
Untukmu, yang berani singgah namun tak pernah sungguh.
Tentang kita, yang dulu sedekat nadi tapi terlalu rumit untuk menjadi.
Dariku, yang masih...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
hit you with dat dutdutdut
H a n a
Sepanjang hidup gue, bisa dibilang ekspresi cengo adalah ekpsresi andalan gue. Buat lo yang nggak tau ekspresi macam apa yang gue maksud, ekspresi cengo ditandai dengan mata yang menatap kosong tanpa orientasi, gairah apalagi kecerdasan dan mulut yang terbuka hingga membentuk huruf o. Bentuk mulut yang khas inilah yang konon menjadi asal mula dari nama ekspresinya, yaitu cengo. Biar lebih mudah lagi lo bayangkan, lo lihat aja muka ikan mas yang lagi napas dalam kolam, atau wajah ikan bandeng yang cuma bisa ketap-ketip nggak jelas—atau mungkin minta dikasihani.
Ekspresi cengo ini adalah tanda kalau tingkat kedodolan seseorang sudah sangat akut. Semakin sering ekspresi itu mampir di wajah seseorang, maka semakin tiarap tingkat kecerdasannya. Iya, gue mengakui, untuk IQ mungkin gue nggak pintar-pintar amat. Tapi kan teori tentang orang-orang berIQ tinggi sudah pasti sukses itu salah. Apalah artinya IQ jika tidak diimbangi EQ yang baik, betul tidak?
Yah, meski nyokap pernah bilang kalau tingkat kecerdasan EQ gue nggak kalah jago push up dengan tingkat kecerdasan IQ gue.
Dari sekian banyak momen cengo ketap-ketip ala ikan bandeng yang pernah gue alami dalam hidup gue, salah satu yang paling memorable adalah cerita jaman gue SMA, dengan guru matematika gue tersayang. Namanya Pak Sutisna. Memang, bukan Nana Supena, tetapi ujung-ujungnya, gara-gara namanya yang terlalu panjang, beliau dipanggil Pak Nana.
Kayaknya, gue memang selalu sial dan nggak bisa akur setiap bertemu dengan orang yang namanya Nana. Mulai dari jaman Nana Sutisna sampai Nana Supena, gue nggak pernah berjaya. Berhubung gue sudah cukup sering menistakan Pak Nana Supena di sini, marilah sejenak kita mengheningkan cipta dan berpindah pada sosok Pak Nana Sutisna.
Surprisingly, penampilan Pak Nana Sutisna nggak jauh beda dengan Pak Nana Supena. Iya, mukanya sama-sama muka susah. Muka susah ini, dalam kamus gue, tidak didefinisikan sebagai muka orang-orang yang hidupnya susah, melainkan muka yang hanya dengan melihatnya, justru membuat hidup lo yang malah terasa susah. Kepalanya rada botak di bagian depan, mungkin sel-sel keratin rambutnya hangus karena keseringan dipake buat mikirin rumus-rumus njelimet yang bisa bikin sakit mata.