Yerim mengerjap ketika merasakan telapak tangan seseorang tengah membelai pipinya lembut. Kedua matanya terbuka perlahan, dan menemukan wajah tampan Jungkook sedang tersenyum padanya.
"Selamat pagi, Sayang," sapa Jungkook ramah tak mendapatkan jawaban dari gadis yang masih berusaha mengumpulkan nyawa dari alam mimpi.
Yerim kembali terpejam sebelum membalas, "Selamat pagi," suaranya terdengar serak. Ia semakin bergelung manja dalam pelukan Jungkook membuat suaminya tersenyum dibuatnya,
"Apa kau mau tidur terus sepanjang hari, Yer? ini hari terakhir kita disini, kau lupa?" lanjut Jungkook berhasil menarik perhatian Yerim.
"Memangnya kita mau kemana rencananya hari ini,?" tanya Yerim mendongak menatap Jungkook.
"Kau sendiri mau kemana,?" tanyanya balik.
Yerim terdiam, kedua bola matanya bergerak kesana kemari, kebiasaan yang baru diketahui oleh Jungkook ketika istrinya itu sedang berpikir. Kebiasaan yang membuat Jungkook sangat gemas hanya dengan melihatnya.
"Tapi kalau kau masih sakit, kita bisa menundanya sampai sebentar," lanjut Jungkook.
Kedua mata Yerim kembali teralih pada suaminya, menatap Jungkook tidak mengerti. Jungkook tertawa kecil sambil melirik kearah bawah. Yerim mengikuti arah pandang suaminya kemudian wajahnya bersemu merah begitu tau maksudnya.
"Hey, ada apa,?" Jungkook tau apa yang membuat istrinya memeluknya, dan menyembunyikan wajahnya saat ini tapi sungguh akan sangat mengemaskan melihat istrinya seperti ini.
"Aku malu," jujur Yerim.
"Kenapa harus malu pada suamimu, Yer," balas Jungkook menahan senyum. Oh astaga, betapa lugu dan polosnya istrinya saat ini hingga rasanya ia ingin meminta lagi.
----
Yerim menguap kecil memeluk lengan Jungkook sembari menyandarkan kepala disana saat keduanya berjalan menyusuri pantai disore hari. Sesekali kedua mata bulat Yerim terpejam lalu terbuka kembali. Ia sangat mengantuk tapi ia tidak ingin melewatkan pemandangan indah dipantai tersebut.
"Mau kembali,?" Jungkook bertanya. Ia tau sejak tadi Yerim tidak bersemangat berjalan-jalan, mungkin karena kurangnya waktu tidur akibat kegiatan mereka semalam.
Yerim menggeleng, "Aku mau liat sunset dari sini dulu," jawabnya.
Jungkook menuntun Yerim duduk diatas pasir, seperti keinginan Yerim yang ingin menikmati sunset dalam jarak dekat dihari terakhir mereka berlibur.
"Sebentar lagi," seru Jungkook melirik arlojinya.
Yerim tersenyum menyandarkan kepala dipundak Jungkook. Entah sejak kapan pundak suaminya itu adalah menjadi tempat paling nyaman baginya.
Mungkin inilah yang dinamakan karma bagi Kim Yerim. Pria yang dulu ia tolak mentah-mentah sekarang malah menjadi suaminya. Pria yang ia hina itu kini bertanggung jawab penuh atas dirinya. Pria yang pernah ia ragukan justru membuktikan dirinya layak bahkan nyaris sempurna untuk dirinya.
"Yer.." panggil Jungkook.
Kedua mata Yerim yang sempat terpejam kembali terbuka. Mendongak menatapi Jungkook, "hmm.." gumamnya membalas
"Pulang dari sini mau kan tinggal bersamaku," ucap Jungkook balas menatap Yerim.
Kedua alis Yerim menyatu binggung.
"Tentu, memang dimana lagi aku harus tinggal, Kak." balas Yerim heran dengan pertanyaan yang dilontarkan suaminya.
"Kita tidak akan tinggal di apartement tapi dirumah orangtuaku, Yer," jelas Jungkook berhasil membuat Yerim diam.
Yerim mengalihkan pandangan kearah lain. Rumah orangtua Jungkook? Itu artinya dia akan seatap dengan ibu mertuanya. Oh astaga, itu kabar buruk untuk kim Yerim.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Husband (Sudah Dibukukan)
Fanfiction(Tersedia dalam bentuk cetak) Order Book/E-book bisa langsung chat Whatsapp.. Apa jadinya jika seorang gadis pemberontak, gemar melanggar perintah dijodohkan dengan seorang pria dewasa, tampan, mapan dan sukses diusia muda yang selama ini selalu m...
