Dunia Yerim seakan runtuh seketika melihat ayahnya terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit dengan berbagai alat menempel hampir disekujur tubuhnya. Ayahnya masih berada diruang ICU dan hanya beberapa orang saja yang diijinkan masuk. Wendy tidak bisa berada lama-lama didalam sana karena kondisinya yang sedang hamil sekarang digantikan oleh Yerim juga Jungkook.
Langkah kaki lemah Yerim menghampiri ayahnya diatas ranjang satu-satunya yang ada disana. Air matanya tak terbendung lagi menetes deras melewati pipinya. Perlahan Yerim mengambil tangan Ayahnya yang dipasangi jarum infus. Menggenggamnya sesekali mengecupnya.
"Ayah, maafkan Yerim, Yah, Yerim banyak sekali melakukan kesalahan pada Ayah, Yerim selalu saja membuat ayah marah," tangis Yerim pecah sekali lagi, " Yerim janji Yah akan menuruti semua kemauan Ayah mulai sekarang asalkan Ayah bangun sekarang," pinta Yerim,
Jungkook yang berdiri diseberang ranjang cuma bisa berdiam diri melihat semua itu. Ia sendiri binggung harus mengatakan apa.
"Setelah Bunda pergi cuma Ayah tumpuan Yerim dan Kak Wendy selama ini Please, Yah, jangan sakit, bertahanlah, bukankah Ayah pernah bilang ingin melihat Yerim sukses, menikah dan punya anak. Ayah belum melihat semua itu, Yah," lanjut Yerim kemudian.
Yerim menunduk dalam. Menangis diatas lengan ayahnya hingga tak menyadari kelopak mata ayahnya yang mulai terbuka perlahan-lahan.
"Yer," panggil jungkook yang menyadari hal itu terlebih dahulu. Yerim mendongak, tersenyum melihat ayahnya,"sebentar, Paman, aku panggil dokter diluar dulu," pamit Jungkook hendak melangkah pergi tapi tangannya ditahan oleh Tuan Kim yang menggeleng lemah.
"Ayah butuh apa,? Akan Yerim ambilkan," tanya Yerim melirik pergelangan Jungkook yang ditahan oleh ayahnya.
Tuan Kim menggeleng. Ia kemudian meraih tangan Yerim dan Jungkook secara bersamaan lalu menyatukannya sambil tersenyum.
Yerim menatap Jungkook yang juga tengah menatapnya. Pandangan Yerim lalu teralih memandang Ayahnya yang sedang tersenyum penuh harap kearahnya seakan mengatakan bahwa itulah keinginan terbesarnya saat ini.
"Ayah mau aku menikah,?" lirih Yerim dibalas anggukan Ayahnya.
Yerim menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Ia belum siap menikah diusia muda tapi ia juga tidak ingin mengecewakan ayahnya lagi. Tidak, Yerim tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa ayahnya.
"Kak, jika kau tak keberatan aku ingin meminta maaf pada ibumu," pinta Yerim penuh keyakinan. Ia tau dimana letak kesalahannya saat ini dan jikalau ia ingin berbakti maka ia harus memulai dari ibu Jungkook.
Jungkook yang mendengar permintaan tak terduga Yerim hanya mengangguk. Dalam hati ia berharap semoga ini adalah awal yang baik untuk hubungan keduanya kedepan.
----
"Ngapain dia kesini, setelah semua yang telah ia lakukan padamu, Mamih tidak mau lagi melihat wajahnya,"
Yerim menunduk. Ya, ia akui kejahatan yang ia lakukan kepada Jungkook. Ibu mana sih yang akan diam saja mendengar anaknya diperlakukan secara buruk tapi tidak bisakah Yerim mendapatkan kesempatan kedua agar ia bisa menebus semua kealahannya. Sungguh, Yerim menyesali perbuatan yang juga berdampak pada kesehatan ayahnya. Mungkin benar, ini pukulan untuk segala perbuatan buruknya.
Yerim mendongak ketika merasakan genggaman tangan Jungkook mengerat. Jungkook tersenyum menatap Yerim seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Lihat!! Setelah semua perbuatannya lelaki itu masih bersikap lembut padanya. Sekali lagi Yerim merasa bodoh karena baru menyadari bahwa yang ia butuhkan dan impikan adalah Jungkook selama ini.
"Ya Tuhan, aku benar-benar akan mencintai pria ini," batin Yerim mengalihkan padangan kepada ibu yang telah melahirkan pria disampingnya ini.
"Bibi, Yerim ingin minta maaf," lirih Yerim
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Husband (Sudah Dibukukan)
Fanfiction(Tersedia dalam bentuk cetak) Order Book/E-book bisa langsung chat Whatsapp.. Apa jadinya jika seorang gadis pemberontak, gemar melanggar perintah dijodohkan dengan seorang pria dewasa, tampan, mapan dan sukses diusia muda yang selama ini selalu m...
