Hari pengumuman lulus di sma hanlim harusnya menjadi moment membahagiakan bagi Yerim ketika melihat namanya masuk dalam sepuluh besar dari daftar murid yang lulus dengan nilai memuaskan. Yerim bahagia, tentu saja, akan tetapi rasa bahagia yang ia rasakan dibarengi dengan kegelisahan memikirkan pernikahan yang akan berlangsung dalam waktu dekat.
Seminggu yang lalu tepatnya Jungkook dan keluarganya datang kerumahnya, meminang dirinya secara resmi didepan seluruh keluarga lalu menentukan hari pernikahan. Dan seperti yang direncanakan Jungkook. Ulang tahunnya akan menjadi hari dimana ia melepas masa lajangnya.
Yerim sebetulnya masih belum yakin dengan keputusannya, bukan karena ia meragukan Jungkook, tidak! Melainkan dirinya sendiri. Apakah ia siap menjadi seorang istri? Apa ia bisa membahagiakan suaminya kelak, melayani semua kebutuhannya nanti? Pertanyaan itu terus berputar dikepala Yerim sejak malam lamaran tanpa bisa memikirkan jawaban yang pasti. Yerim hanya merasa ini adalah sebuah langkah besar yang membutuhkan kesiapan yang benar-benar matang untuknya.
Yerim mendengus. Ia berada ditengah keramaian teman-temannya tapi tidak dapat menikmati itu seperti biasa. Terlalu banyak yang ia pikirkan akhir-akhir ini sampai membuat ia susah tidur.
"Yer, kenapa sih murung terus dari tadi,?" tanya Yukhei melompat duduk disofa, menyenggol bahu Yerim pelan.
Teman-temannya yang lain termasuk Sohyun sudah asik merayakan kelulusan mereka dengan menari bersama dimarkas mereka tapi yang dilakukan oleh Yerim sejak mereka datang hanyalah duduk termenung sendirian sampai Yukhei datang menemani gadis itu.
Yerim menoleh sekilas kearah Yukhei lalu kembali menatap ke depan, "aku binggung," jawabnya,
"Bagi kalian para pria, apa yang kalian harapkan dari pasangan,?" lanjutnya bertanya.
Yukhei tertawa, "apa ini ada kaitannya dengan pernikahanmu, Yer?" tanya Yukhei tepat sasaran karena Yerim yang langsung mengangguk lesuh menjawabnya. Kabar mengenai pernikahan Yerim memang sudah bukan rahasia lagi. Yukhei sendiri tidak mempercayai hal itu dari Sohyun karena persahabatan mereka selalu dibumbui lelucon random yang kadang bikin sang korban kesal, bahkan sampai saat ini Yukhei tidak dapat mempercayai Yerim akan segera merubah status menjadi istri orang dan tidak akan melanjutkan kuliah.
"Ya begitulah," balas Yerim terkekeh.
"Aku tidak tau jawaban seperti apa yang kau inginkan dariku, Yer tapi untuk saat ini aku tidak mengharapkan apapun dari pasanganku, yang penting ia ada disampingku saat suka maupun duka itu sudah lebih dari cukup," ujar Yukhei, "karena bagi seorang lelaki dukungan dalam bentuk apapun dari pasangan bisa menjadi kekuatan terbesar mereka dalam mencapai sesuatu, seperti aku yang membutuhkan Sohyun sebelum mulai bertanding basket. Aku tau itu berlebihan tapi itulah yang kurasakan," lanjutnya terkekeh.
Yerim tersenyum mendengarnya. Kisah Cinta Yukhei dan Sohyun. Dua pribadi yang berbanding balik. Sohyun yang polos dipertemukan dengan Yukhei yang absurd. Awalnya Yerim sempat tidak yakin akan hubungan keduanya tapi seiring berjalannya waktu mereka menemukan cara untuk mempertahankan hubungan tersebut sampai saat ini.
"Aku selalu berdoa semoga kalian bersama terus sampai menikah nanti, Yukhei," ucap Yerim tulus.
"Amien," balas Yukhei menyatukan kedua tangan dihadapan Yerim. Ikut mengamini doa baik dari Yerim untuk hubungannya kelak,
"Oh ya, Yer, ulang tahunmu sebentar lagi, kan? Bagaimana kalau kita liburan sekalian merayakan kelulusan," lanjut Yukhei.
"Sepertinya tidak bisa, aku akan sangat sibuk untuk menyambut hari itu,"
"Kenapa,?"
"Soalnya aku akan menikah dihari ulang tahunku, Yukhei,"
"Apa!! Secepat itu!!?"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Husband (Sudah Dibukukan)
Fanfiction(Tersedia dalam bentuk cetak) Order Book/E-book bisa langsung chat Whatsapp.. Apa jadinya jika seorang gadis pemberontak, gemar melanggar perintah dijodohkan dengan seorang pria dewasa, tampan, mapan dan sukses diusia muda yang selama ini selalu m...
