"Yer...," panggil Jungkook terus mengekori Yerim didalam kamar mereka karena sejak kepulangan keduanya dari rumah sakit istrinya itu tidak mau bicara dengannya.
Jungkook tau dengan pasti alasan kemarahan Yerim padanya. Wanitanya itu jelas tidak terima ditertawakan oleh seluruh keluarga termasuk dirinya, maka dari itu sepanjang perjalanan pulang Yerim mendiaminya walau dia telah berusaha memancing istrinya itu agar bicara.
"Yerim sayang..." sambung Jungkook pantang menyerah menarik lengan Yerim yang hendak meletakkan pakaian kedalam lemari.
"Ayolah, Sayang, kan tadi cuma bercanda," ujar Jungkook santai.
wajah cantik Yerim semakin tertekuk, "Haha, iya lucu... Makasih!!" Yerim menarik tangannya.
Jungkook tidak tinggal diam. Ia menarik pinggul Yerim lalu memeluknya erat dari belakang. Yerim kembali memberontak tapi kekuatannya tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Jungkook membuat tubuh Yerim berhenti memberontak.
"Maaf," lirih Jungkook menyandarkan kepalanya dipundak Yerim.
Yerim terdiam ditempatnya. Sebenarnya ia tidak memperasalahkan hal yang dipikirkan oleh Jungkook membuatnya marah. Ada sesuatu lain yang ia pikirkan sejak pulang dari rumah sakit, hanya saja ia merasa akan lebih baik jika ia tidak mengatakannya secara langsung.
Merasa tak di respon membuat jungkook tak tinggal diam membalikkan tubuh Yerim secara perlahan menghadap kearahnya dan menatap istrinya yang kembali memperlihatkan wajah murung dihadapannya.
"Sekarang apa lagi,?" tanya Jungkook. Ia kembali merasakan beban pikiran Yerim saat ini.
Yerim menggeleng, "Aku hanya sedikit memikirkan ucapan ayah, Kak," ungkap Yerim tidak sepenuhnya berbohong. Perkataan ayahnya seakan menjadi pelengkap beban pikiran Yerim saat ini. Ditambah melihat bagaimana cara Seungwan diperlakukan dengan penuh kasih sayang oleh mertuanya semakin membuat Yerim merasa terpuruk dan tidak sempurna.
"Nanti tidak boleh makan yang pedas-pedas dulu yaa selama Seungyoon masih menyusui, tidak baik soalnya,"
"Iya, Bu, Seungwan juga pernah membacanya dibuku, itu berpengaruh pada kulit bayi,"
"Nah, terus kalau mau badan kembali langsing harus rajin memakai korset, biar perutnya tidak melar kemana-mana, itu saran Ibu sih, Wan,"
Masih hangat dalam ingatan Yerim akan kasih sayang tulus yang ia lihat diberikan oleh Ny. Min pada menantunya. Yerim berandai-andai bagaimana rasanya berada diposisi kakaknya yang bisa merasakan kasih sayang seorang ibu kembali dari mertuanya.
"Yer, malah melamun," gemas Jungkook menarik hidung Yerim berhasil menyadarkan Yerim dari lamunan singkatnya, "Semua butuh proses, Sayang. Yang penting kita kan sudah berusaha dan untuk hasilnya kita serahkan pada yang kuasa," lanjut Jungkook bijak berhasil menarik senyum Yerim.
"Makasih, Kak,"
"Untuk,?"
"Selalu membuat hatiku tenang," jawab Yerim memeluk Jungkook.
Jungkook menggulum senyumnya, "Dalam hubungan suami istri itu sudah menjadi kewajiban satu sama lain untuk membuat pasangan merasa nyaman dan bahagia, Sayang,"
----
Hari ini Jungkook tidak sedang bertugas. Untuk itu ia telah merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan Yerim tentunya. Jungkook bahkan telah mencari tempat yang akan ia habiskan bersama Yerim seharian ini dari jauh hari. Ia sangat ingin sekali memiliki waktu berdua lebih banyak bersama istri tercintanya.
"Haii, Jungkook, apa kabar?" sapa Jieun manis menyambut kedatangan Jungkook yang baru menuruni anak tangga menuju meja makan.
"Noona," balas Jungkook tersenyum canggung.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Husband (Sudah Dibukukan)
Fiksi Penggemar(Tersedia dalam bentuk cetak) Order Book/E-book bisa langsung chat Whatsapp.. Apa jadinya jika seorang gadis pemberontak, gemar melanggar perintah dijodohkan dengan seorang pria dewasa, tampan, mapan dan sukses diusia muda yang selama ini selalu m...
