Malam hari yang indah biasanya diisi dengan ketenangan itu berubah rusuh ketika sang bungsu Jeon merengek ketika melihat ayahnya pulang selepas mengemban tugas. Dengan cepat Chaerim beranjak dari sofa, dan berhambur memeluk sang ayah yang menyambutnya lembut.
"Ayah...," Chaerim mengerucut lucu. Si bungsu Jeon memang sangat dekat dengan Jungkook, anak perempuan satu-satunya itu memang suka sekali bermanja-manja namun kali ini entah kenapa Chaerim terlihat lebih manja dari biasanya.
Jungkook tersenyum mencium puncak kepala Chaerim sayang, ia lalu menatap sang istri yang tengah menatap keduanya dengan tersenyum.
"Adek kenapa hm?"
"Kakak jahat, Yah. Adek tadi dikerjain. Disuruh bersihin toilet, menyapu halaman, membersihkan gudang. Pokoknya kakak jahat," adu Chaerim menceritakan kelakuan kakaknya tadi siang disekolah. Chaerim sebagai calon murid SMA baru dikerjai oleh kakak lelaki satu-satunya yang kini berada ditingkat terakhir.
"Kakak!! Adek tidak pernah yaa bunda suruh kerja dirumah, kenapa nyuruh beresin sekolah huh," protes Yerim menatap putranya yang duduk diseberang dan sibuk dengan tontonan didepannya.
"Itu udah peraturan murid baru disekolah setiap tahun, Bun. Adek aja yang terlalu berlebihan." balas sang kakak mengalihkan pandangan menatap si bungsu yang cemberut.
"Tapi tetap tidak boleh begitu, Kak. Kamu kan wakil osis, harusnya belain adek."
"Jeongsan tidak bisa melakukan pembelaan, Bun. Orang adek sendiri berulah. Coba kalau Adek tidak melempari ketua osisnya, pasti tidak akan dihukum, bersyukur juga lemparnya pakai botol plastik, bagaimana kalau kaca, yang ada bocor kepala orang, Bunda."
"Apa itu benar, dek?" kali ini Jungkook bertanya seraya menatap Putri kesayangannya, meminta penjelasan.
Chaerim menunduk sebelum menjawab, "Adek tidak sengaja, Ayah." akunya.
"Nah, jadi bagaimana kakak bisa melakukan pembelaan kalau letak kesalahan ada di Adek sendiri. Untung tidak dapat surat panggilan." sambung Jeongsan.
"Habisnya sih, ketua osis sombong diatas rata-rata. Udah sombong, jelek, hidup pula."
"Adek! Tidak boleh bicara begitu." tegur sang Bunda.
"Tapi dia ngeselin, bunda." rengek Chaerim menghentakkan kaki menghampiri Yerim lalu berhamburan memeluk bundanya dengan manja.
"Apapun alasannya Adek tetap tidak boleh bicara kasar begitu! Bunda sama Ayah tidak pernah yaa didik Adek buat kasar sama orang, paham?"
"Dengerin tuh, Dek." celetuk Jeongsan dihadiahi lirikan mata tajam sang bunda.
"Adek.. Adek.. Ini berlaku juga buat kamu, Kak. Coba yaa mulai sekarang berhenti tawuran, bentar lagi mau lulus, fokus, Kak! Kamu bukan anak kecil lagi. Jadi contoh yang bener buat adek kamu!" nasihat Yerim kemudian membuat Jungkook tersenyum dibuatnya.
"Maaf, bunda." tunduk Chaerim dan Jeongsan bersamaan. Memang disaat seperti ini cuma Yerim satu-satunya yang bisa menasehati kedua anaknya dan sudah dipastikan mereka akan tunduk. Bukan berarti mereka tidak mematuhi perkataan Jungkook hanya saja pada waktu tertentu peran sang Bunda jauh lebih dominan dari sang Ayah.
----
"Pa, Jiseul, Yeonjun!!! Cepat turun!!"
"Iya Ma!" balas ketiga lelaki penghuni rumah serempak.
Beginilah suasana dipagi hari kediaman keluarga Park. Sebagai ibu rumah tangga, juga wanita satu-satunya dirumah. Wanita yang sering disapa Mama Park itu memiliki kesibukan luar biasa dikarenakan harus mengurusi kedua anak lelakinya yang sudah beranjak remaja.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Husband (Sudah Dibukukan)
Fanfiction(Tersedia dalam bentuk cetak) Order Book/E-book bisa langsung chat Whatsapp.. Apa jadinya jika seorang gadis pemberontak, gemar melanggar perintah dijodohkan dengan seorang pria dewasa, tampan, mapan dan sukses diusia muda yang selama ini selalu m...
