Bukan akhir

16.2K 947 116
                                        

Jungkook baru saja kembali dari tugasnya tapi segala macam laporan telah ia terima mengenai berbagai macam kenakalan yang dilakukan putranya yang seakan tidak pernah kehabisan ide untuk berulah hingga membuat ibunya berulang kali mengelus dada, bersabar.

Kenakalan Jeongsan tidak hanya dirumah saja, itu berlaku untuk satu kompleks. Jeongsan punya Jiseul sebagai  teman rusuhnya yang suka bertengkar dengan anak tetangga lain yang berani melawan mereka. Coba bayangkan Jeongsan dan Jiseul pernah mengalahkan empat anak kompleks hanya karena para anak lelaki itu menganggu mereka dengan berucap bahwa mereka adalah anak bodoh karena hanya bermain berdua saja dan menyuruh Jeongsan memakai rok saja bersama Jiseul. Alhasil, Seulgi dan Jimin juga Yerim dan Jungkook dipanggil oleh kepala desa untuk memusyawarakan hal ini mengingat kondisi anak mereka yang menyedihkan pasca berantem dengan Jeongsan dan Jiseul sementra kedua bocah itu hanya luka lecet dilutut saja. Beruntung karena hal tersebut termasuk penggeroyokan jadi kesalahan sepenuhnya tidak pada Jeongsan dan Jiseul karena bukan mereka yang memulai duluan justru mereka adalah korban.

"Apa pesan Ayah kemarin sebelum pergi bekerja,?" tanya Jungkook pada putra semata wayangnya kini tertunduk lesuh tidak berani menatap Ayahnya.

"Tidak boleh nakal dan tidak boleh bikin bunda marah," jawab Jeongsan mantap.

"Tau konsekuensi yang akan didapatkan jika melanggar?" Jungkook bertanya lagi yang dianggukan lemah Jeongsan sebelum menjawab,

"Akan dihukum..,"

"Lalu kenapa masih melanggarnya?"

"Maaf, Ayah, Jeongsan mengaku salah dan siap terima hukuman apapun dari Ayah..,"

Jungkook memijit pangkal hidungnya. Kenakalan yang dilakukan oleh Jeongsan sudah melebihi batas kewajaran untuk ukuran anak berusia empat tahun seperti dirinya. Bocah kecil yang memiliki garis wajah yang sangat mirip dengannya itu selalu membuat bundanya menghela nafas panjang beberapa kali.

"Tapi, Ayah.." suara Jeongsan kembali terdengar membuat kedua mata Jungkook terbuka kembali. Ia menatap Jeongsan, anak lelaki satu-satunya itu berlari ke arah dapur lalu kembali dengan kedua tangan memegang sesuatu tempat makan kecil yang mengeluarkan uap dingin seperti baru dikeluarkan dari kulkas.

"Apa itu...," tanya Jungkook.

"Ini untuk bunda, kemarin bunda bilang ingin eskrim tapi karena disupermarket terdekat stok ekrim strowberry habis jadi Jeongsan memutuskan untuk membuatnya sendiri, ah tidak, Jeongsan dibantu Jiseul dan Kak Soya," jelas Jeongsan, "Kemarin Jeongsan memang nakal, Jeongsan mita maaf karena sudah membuat dapur bunda berantakan, Yah tapi sesuai kata Ayah, Jeongsan nakal karena ada alasan. Jeongsan tidak mau nanti dedek ileran seperti kata bibi Seul," lanjut Jeongsan mengakhiri penjelasannya.

Jungkook terdiam, tidak menyangka putranya akan berpikir sampai sejauh ini diumurnya yang masih baru berusia empat tahun dan dalm beberapa bulan lagi akan genap berusia lima tahun. Dibalik kenakalan Jeongsan, anaknya itu tetaplah anaknya yang manis yang selalu memiliki alasan sebelum bertindak namun ada kalanya juga suka berlaku nakal diluar batas apalagi jika sudah dipertemukan dengan Jiseul. Keduanya seakan paket komplit hingga anak-anak kompleks pada takut akan keduanya.

"Bunda sampai marah dan tidak mau bicara dengan Jeongsan," curhat Jeongsan sedih, "kata bunda Jeongsan harus merenungi kesalahan Jeongsan,"

Jungkook mendekat, memposisikan tubuhnya disamping Jeongsan kemudian mengambil kotak makan berisikan eskrim masih beruap dingin buatan anaknya.

"Lalu kenapa tidak menjelaskannya pada bunda?"

"Jeongsan nunggu sampai eskrimnya beku dulu,"

"Kalau begitu ayo ke kamar dan jelaskan semuanya pada bunda,"

My Perfect Husband (Sudah Dibukukan)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang