Yerim berulang kali menghembuskan nafas berat saat Jungkook menggengam erat pergelangan tangannya dan membawanya masuk kedalam rumah mewahnya yang terdiri dari dua lantai dengan lima buah kamar dan halaman depan yang luas serta terawat karena memiliki taman kecil disisi kiri. Yerim sudah pernah kesini tapi ia sama sekali tidak memperhatikan keadaan sekitar karena pada saat itu sudah malam. Baru kali inilah Yerim bisa melihat lebih jelas lagi tempat dimana Jungkook dibesarkan selama ini.
"Jungkook, kenapa membawanya kesini, Mamih tidak mau melihat wajahnya," hardik Ny. Jeon menunjuk Yerim.
Yerim tidak mengatakan apapun tapi Jungkook sangat yakin bahwa Yerim ingin segera pergi dari sana. Itu terbukti dari genggaman tangannya yang meminta dilepaskan. Jungkook sudah dapat menebak sebelumnya jadi ia memang sengaja tidak melepaskan gadis itu saat mereka masuk kedalam rumah.
"Kak," bisik Yerim.
"Mamih! Bukankah kita sudah sepakat," tegur Jungkook mengingatkan ibunya akan perjanjian yang mereka buat.
Ny. Jeon mendengus lalu beralih memandang Yerim. Ia benar-benar tersudut sekarang, bahkan suami dan anak lelaki satu-satunya mendukung gadis itu.
"Ayo masuk," titahnya.
Ya Tuhan... Ini seperti diseret masuk ke neraka.... Batin Yerim terpejam.
"Yer, kamu disini bersama Mamih yaa, aku mau mandi diatas dulu," pamit Jungkook melepas tangan Yerim.
Hah!! Apa!! Yerim tak dapat berkata apapun. Ia hanya terbenggong menatap Jungkook. Apa lelaki itu sudah gila ingin meninggalkannya bersama ibunya. Hanya berdua..
"Kak, mandinya nanti saja yaa," decit Yerim menahan lengan Jungkook. Tidak mengijinkan lelaki itu pergi dari sana.
"Sebentar saja, tidak akan lama, Yer, paling cuma setengah jam," bujuk Jungkook lagi.
"Tidak tau kah kau, Kak, semenit saja seperti satu abad jika itu bersama ibumu," batin Yerim menjawab. Ia tentu tidak bisa mengatakan hal itu didepan Jungkook. Tidak juga disaat ibu dari lelaki itu sedang mengawasi mereka. Ya Tuhan, mimpi apa Yerim semalam hingga hari ini begitu terasa menyeramkan untuk dilewati olehnya.
Dan yang terjadi selanjutnya adalah Jungkook yang pergi meninggalkan Yerim bersama ibunya tanpa bisa dicegah. Yerim mengigit bibirnya dengan ragu menolehkan kepala menatap ibu Jungkook yang juga sedang menatapnya. Oh astaga, bahkan tatapan ibu Jungkook jauh lebih seram dari semua film horror yang pernah Yerim tonton. The Conjuring, Insidious, pengabdi setan. Semua lewat...
"Apa kau bisa memasak,?" tanya Ny. Jeon memecah keheningan.
Yerim tersenyum membuka mulut, hendak menjawab tapi kembali dipotong oleh Ny. Jeon, "Bagaimana caranya kau akan mengurus anakku jika tidak bisa memasak," cerocos Ny. Jeon.
Demi bikini bottom dan isinya, Yerim bahkan belum sempat menjawab.
"Bisa.. Sedikit.." jawab Yerim ragu. Ia merasa seperti sedang berhadapan dengan algojo yang seakan siap membunuhnya kapanpun.
"Benarkah? Kalau begitu ayo ke dapur, bantu bibi memasak untuk makan malam, biar nanti bibi telepon ayahmu dan bilang kau ada disini," ajak Ny. Jeon berjalan pergi meninggalkan Yerim menuju dapur.
----
"Ini Yerim tumben belum pulang?" tanya Wendy yang sedang membantu ayahnya berbaring diatas ranjang setelah selesai menghabiskan makanannya dan meminum obatnya. Yaa, ayah Yerim sudah dibawa pulang sejak kemarin dan kini dirawat jalan dirumah.
Tuan Kim tersenyum, "paling sebentar lagi adikmu pulang, Wendy," balas tuan Kim pada putri sulungnya.
"Tapi ini sudah sore, Ayah, Wendy khawatir, tidak biasanya Yerim begini. Dia pasti akan menelpon untuk ijin jika mau singgah ke tempat lain," balas Wendy.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Husband (Sudah Dibukukan)
Fanfiction(Tersedia dalam bentuk cetak) Order Book/E-book bisa langsung chat Whatsapp.. Apa jadinya jika seorang gadis pemberontak, gemar melanggar perintah dijodohkan dengan seorang pria dewasa, tampan, mapan dan sukses diusia muda yang selama ini selalu m...
