Nyaman

17.9K 997 96
                                        

Happy Reading....

Usai memeriksa keadaan Yerim. Jungkook mengantar Yugyeom keluar sampai didepan mobilnya. Selain karena ingin mengomeli Yugyeom. Jungkook juga mau menanyakan perihal yang tidak mungkin ia tanyakan didepan seluruh keluarga Yerim.

"Puas kau!! Sialan, dari dulu tidak berubah, masih saja nyebelin, Yeom." semprot Jungkook.

"Sama-sama, Kook, aku senang bisa membantu teman lamaku," bukan membalas dengan umpatan. Yugyeom justru berterima kasih.

Jungkook mendecih tapi detik berikutnya ia tertawa, "makasih sudah datang," ucapnya kali ini penuh ketulusan. Biar bagaimana pun ia menghargai kesediaan Yugyeom yang mau datang kerumah dan memeriksa keadaan istrinya. Ya, beginilah persahabatan mereka. Banyak perdebatan tapi tetap saling support.

"Oh ya, aku mau menanyakan sesuatu," lanjut Jungkook sedikit ragu mengungkapkannya. Ia takut perihal yang akan dia tanyakan malah akan membuat dirinya menjadi bulan-bulanan Yugyeom.

Yugyeom tertawa kecil melihat kegelisahaan sahabatnya yang belum juga mengutarakan kebimbangan hatinya. Yugyeom mengerti akan kemana arah pembicaraan mereka karena ia sudah cukup mengerti hanya dengan melihat gelagat Jungkook.

"Kau boleh bermain asalkan jangan membebani tubuh istrimu, kusarankan Women on top mungkin bagus,"

"Apa.." balas Jungkook cengo.

"Aku tau kau pasti mau menanyakan hal ini," kekeh Yugyeom, "jangan bilang kau tidak pernah menyentuh Yerim sama sekali saat tau istrimu itu sedang hamil?" tanya Yugyeom dengan cepat dibalas anggukan kepala Jungkook,

"Astaga, kau ini idiot atau apa, itu jelas kebutuhanmu dan kebutuhan istrimu, kusarankan untuk rajin nyetor, Kook, itu akan membantu proses persalinan Yerim nanti,"

"Maksudnya..," binggung Jungkook masih kurang paham dengan yang dikatakan oleh Yugyeom. Sahabatnya itu terlalu banyak berbelit-belit seperti hidupnya.

"Kalau istilah kedokteran sih nambah pintu keluar buat anakmu,"

"Kalau misalnya perut Yerim sudah membesar bagaimana?"

"Itu semakin bagus, tapi yaa itu, jangan membebani perutnya, kau itu terlalu besar untuk ukuran tubuh Yerim,"

"Hey!! jangan mulai deh,"

Yugyeom tertawa lebar, "ya sudah, aku harus kembali sekarang, pasienku sudah menumpuk dirumah sakit," seru Yugyeom mengeluarkan ponselnya, mengecek telepon masuk juga pesan dari rumah sakit.

Jungkook mengangguk, "Pergilah," usir Jungkook. Yugyeom lalu memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Kim.

Sepeninggalnya Yugyeom. Jungkook kembali memasuki rumah, menaiki tangga menuju kamarnya dan juga Yerim yang terletak dilantai dua rumah tersebut.

"Jangan menyusahkan Jungkook, Nak, Ayah tau kau sedang masa ngidam tapi coba pikirkan suamimu yang lelah pada pekerjaannya.,"

Samar-samar terdengar suara Tuan Kim menceramahi Yerim didalam sana membuat langkah kaki Jungkook terhenti sejenak hanya untuk mendengar dicelah pintu yang terbuka.

"Ayah perhatikan permintaanmu selalu aneh. Kau tau? Kau mungkin akan melebihi kakakmu yang menyusahkan suaminya sendiri pada awal kehamilan kakakmu itu,"

"Maaf, Yah," sesal Yerim menunduk.

"Ayah tidak menyalahkanmu tapi besar harapan Ayah agar kamu bisa lebih dewasa lagi, Yerim. Ingat, sebentar lagi kau juga akan menjadi seorang ibu,"

Yerim beranjak bangun. Memeluk erat tubuh ayahnya yang tengah duduk disisi ranjangnya, "Yerim akan berusaha menjadi seorang istri yang baik seperti Bunda, Yah,"

My Perfect Husband (Sudah Dibukukan)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang