Acara syukuran Yerim yang harusnya diadakan saat usia kandungan minimal delapan bulan justru diundur menjadi sembilan bulan. Waktu dimana tinggal menunggu hari melahirkan. Jungkook bahkan sudah mengambil cuti jauh hari agar bisa menemani istrinya bersalin nanti.
Suasana sekitar kediaman keluarga Jeon terlihat ramai oleh beberapa kerabat dari kedua keluarga yang ikut memeriahkan dan mendoakan Yerim dan calon bayinya agar selalu sehat dan dilancarkan persalinannya nanti. Semua nampak bahagia akan tetapi ada salah satu tamu undangan yang sama sekali tidak senang disana. Hal itu terlihat dari cara ia memandang tidak suka kearah seorang wanita bertubuh kecil yang terus berjalan kesana kemari menyapa para tamu ditemani oleh sang mertua tercinta.
Ck! Mertua? Jika saja dulu ia lebih berusaha kemungkinan yang akan berada diposisi gadis itu adalah dirinya. Dan hanya dirinya saja yang jauh lebih dibanding gadis kecil yang tidak ada apa-apanya itu.
"Sudahlah, Sinb, mungkin sudah waktunya kau menyerah. Jungkook terlihat begitu mencintai istrinya, lagipula istrinya tidak buruk, meski umurnya masih muda, harus ku akui dia sangat cantik dan manis, pantas saja Jungkook luluh,"
"Diam!! Sooyeon," decak Sinb marah.
Sooyeon, rekan semasa pramugari Sinb tertawa kecil, tak merasa tersinggung sama sekali. Ia memang sangat suka menjahili rekannya yang lain. Melihat kekesalan korbannya adalah hal yang ia inginkan dan Sinb adalah orang paling cepat marah, baginya itu menyenangkan.
"Aku heran, apa bagusnya wanita itu dibanding diriku yang jelas memiliki tubuh sempurna juga kecantikan yang luar biasa. Dan lagi, sebagai wanita aku itu mandiri, aku bekerja sebagai pramugari. Kau tau? Tidak semua wanita bisa mendapatkan pekerjaan ini,"
Sooyeon memutar bola matanya jengah. Hal itu lagi, pikirnya, "memang, tapi perlu digaris bawahi tidak semua pria juga menginginkan istrinya bekerja. Kau tau banyak pria diluar sana yang tidak mau istrinya setara dengan mereka karena berpikir bahwa mereka kepala rumah tangga haruslah bertanggung jawab dalam keluarga," jelas Sooyeon panjang lebar, "so pemikiranmu yang jadul itu tidak ada apa-apanya sekarang karena nyatanya yang ada dihadapanmu. Jungkook menerima istrinya apa adanya," lanjut Sooyeon sebelum pergi dari sana meninggalkan Sinb yang menatapnya kesal.
Sinb mengalihkan tatapannya lagi kearah Yerim. Wanita itu kini sedang berjalan menghampiri Jungkook diruang tamu yang didominasi kaum adam.
Ruang tamu tersebut terlihat ramai dan kerasa kekeluargaannya karena dipenuhi oleh teman lama Jungkook yang ikut membawa keluarga kecil mereka.
"Kak...," panggil Yerim menghampiri suaminya yang sedang berkumpul bersama dengan teman-temannya diruang tamu. Perutnya yang membuncit membuat langkahnya tak selincah dulu.
Yerim mengulurkan tangannya yang langsung diraih oleh Jungkook. Pria itu menuntun Yerim agar duduk disampingnya.
"Yer, kamu kenapa?" tanya Seulgi mendekati Yerim setelah memberikan Jiseul digendongan papanya. Anak lelaki Seulgi yang sejak tadi merengek meminta digendong ayahnya.
Yerim tersenyum, "tidak apa, Kak Seul, hanya sedikit kelelahan saja," jawab Yerim.
"Jangan terlalu banyak bergerak, Yang, sudah ku bilang biar masalah dapur bibi Hera yang urus," tegur Jungkook mengusap punggung Yerim.
"Benar itu, Yer,"
Yerim mengangguk, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling mencari sosok kakak perempuannya yang tak terlihat sejak tadi.
"Kak Seungwan mana?"
"Tadi pamit mau kerumah sakit soalnya ibu Yoongi masuk rumah sakit. Ayah juga ikut pergi katanya tidak sempat pamit karena kamu sibuk banget kelihatannya didapur, Yang," jelas Jungkook.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Husband (Sudah Dibukukan)
Fanfiction(Tersedia dalam bentuk cetak) Order Book/E-book bisa langsung chat Whatsapp.. Apa jadinya jika seorang gadis pemberontak, gemar melanggar perintah dijodohkan dengan seorang pria dewasa, tampan, mapan dan sukses diusia muda yang selama ini selalu m...
