BAB 5 : DRAMA SANG IBLIS

460 41 0
                                        

Setelah kembali kedalam kamarku aku melihat diriku dihadapan cermin, aku masih tidak menerimanya tapi tanduk ini memang menguntungkan.

Aku mengambil batang besi yang kusenderkan di samping pintu kamarku. Karena jika aku menggunakan senapan, takutnya suaranya akan memancing undead.

Kembali ke si gadis itu aku menuruni tangga untuk melihatnya. Lantas karena suara langkahku, suara berisiknya tidak terdengar lagi.

Pelan namun pasti, desah nafasnya terdengar saat aku di ruang tamu. Aku melihat sekeliling namun yang indraku tangkap hanya suaranya. Entah dimana ia bersembunyi, namun akan mudah bagiku untuk menemukannya setelah membeli beberapa skill.

"Aktifkan Night Vision"

[Night Vision telah aktif. MP yang digunakan adalah 1 MP/s]

Pengelihatanku menjadi terang dalam kegelapan, mungkin kalian berpikir kenapa aku tidak menyalakan lampu agar mudah mencarinya. Masalahnya ada di kondisi jika setelah aku menyalakan lampu, maka ada kemungkinan beberapa orang yang akan melihat cahaya dari luar dan menuju kesini, dan aku tidak mau itu.

Kulihat seksama ruang tamu, aku sudah menonaktifkan tanda iblis sebelumnya jadi jika ia melihatku setidaknya dapat mengurangi keterkejutannya.

Mataku melirik kearah dapur dan menemukan sepasang kaki yang masih terikat dengan kursi.

"Aku menemukanmu." ucapku kecil sambil mendekatinya. "Non Aktifkan Night Vis-"

"Nyalakan Night Vision."

Ucapanku terpotong oleh sesuatu yang menggangguku, sebuah kalimat yang sama denganku telah diulang. Keterkejutan membuatku melompat mundur, Night Visionku tiba tiba berubah saat aku menjauh dari dapur dan itu menyadarkan keganjilan disini.

Seisi ruangan dapur yang awalnya rapi kini berantakan. "Sihir Ilusi!" batinku berteriak.

Aku kemudian memukulkan tinjuku kearah wajahku sehingga kenyataan telah terlihat. Instingku yang ditumpuli seketika merasakan hawa keberadaan dibelakangku.

Segera merunduk, suara pisau menancap di dinding sampingku. Aku beguling kedepan lalu berdiri selagi membenahi pose bertarung.

Seling beberapa detik, cahaya bulan menerangi ruang melewati kaca jendela. Menampakkan wujud seorang gadis, rambut hitamnya yang panjang tergerai oleh angin sepoi dari jendela sampingnya. Matanya yang tajam, putih kontras dengan rambutnya.

Perawakannya tidak terlalu tinggi dengan kulit putih, seragamnya yang usang memberikan kesan bahwa aku tidak boleh lengah darinya.

"Apa kau player WZ?"

Aku tersentak oleh ucapannya, ia cukup berani untuk memulai pembicaraan. Tapi aku lebih terkejut bahwa ia mengetahui kondisi dunia saat ini, kurasa ini akan sedikit menyenangkan.

"Apa kau sudah masuk dan mendapatkan informasi di white rooms?" balasku ringan, poseku tetap pada mode bertarung tanpa melonggarkan sedikitpun celah.

"Apa kau sudah tau basic info?"

Percakapan antara kami mungkin terdengar aneh, tapi itu adalah cara cepat untuk saling mempercayai. Jika membalas pertanyaan dengan pertanyaan artinya, pertanyaan yang sebelumnya diajukan itu benar.

Itu untuk menghemat waktu, sampai 2 menit kami tetap saling bertanya hingga akhirnya.

"Mengapa kau mengikatku?" sorot matanya menajam melihatku.

"Aku tidak mau kau bangun dan membunuhku tanpa mendengar sepatah katapun dariku."

"Begitu ya, kau adalah si Moderna itu ya?" ucapnya santai.

STILL PLAY : GAME A LIVECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang