Selama 3 tahun, aku berkeliling di beberapa tempat membunuh setiap undead yang kutemui. Tidak peduli hujan, terik, badai, terus menerus hanya membunuh undead, mid boss, bahkan areal boss.
Kini aku telah mencapai puncak level pada angka 999, bahkan Ibaraki Douji telah mendapatkan bentuk fisiknya. Dengan segenap kemampuannya, ia benar benar membantuku disaat yang lain telah membuangku.
Diantara tumpukan mayat berbagai makhluk, aku tengah duduk dengan kaki menjuntai diatas bangkai naga yang masih terbakar. Aku sudah tidak tau di benua mana aku sekarang, mungkin Asia? Atau Eropa? Yang pasti aku hanya melihat sebuah menara yang ada emasnya diatasnya. Jika itu aku yang dulu, mungkin bongkahan emas itu sudah kujual sejak tadi.
"Seed Of Disease memang benar benar mengerikan ya, Ibaraki." ucapku mengarah pada gadis dibawahku.
"Sudah kubilang bukan? Itu salah satu teknik terlarang dari setiap makhluk pembawa bencana. Dan kau menyelewengkannya dengan menggunakannya berulang ulang, sekarang lihatlah tubuhmu."
Tanpa perlu melihatnya aku sudah merasakannya, seluruh tubuhku digerogoti oleh tanda kutukan permanen. Fisikku bahkan tak bisa dianggap demi human, tanda kutukan disekujur tubuh, dua buah tanduk di atas dahi, dan tangan kiri yang kini menjadi tulang belulang dan hanya dibalut kain hitam.
Seed Of Disease, menghancurkan dan memenuhi bagian tubuh dengan kutukan mayat hidup namun memberikan ganti penghilangan batasan dan meningkatkan daya hancur untuk beberapa waktu.
Bahkan, statusku sendiri aku tak paham
.
Nama : Solein Kamito
Job : Moderna
Ras : Dark Entity
HP : 998971/998971
MP : 9891490/9891492
STR : Countless
DEX : Countless
DEF : Countless
AGI : Countless
VIT : Countless
INT : Countless
EVA : Countless
Aku sempat berpikir apakah smartphoneku rusak, karena skillku hanya tersisa beberapa.
[War God Lv.MAX] [All Weapon Mastery Lv.MAX] [World Skill Lv.MAX] [Infinite Magic Creation Lv.MAX] [Infinite Magic Manipulation Lv.MAX] [Debuff Resistance Lv.MAX] [All Magic and Physical Resistance Lv.MAX] [Holy Grail Lv.MAX]
Yah, lagipula aku bahkan tak perlu skill untuk membunuh eksistensi semacam naga. Mereka sendiri hanya mampu memberikanku damage -1 padaku, lalu kenapa masih banyak tempat yang tak bisa mengalahkannya dan berakhir dengan tragis.
Benar benar tak ada yang bisa menghiburku dari kebosanan ini kecuali Ibaraki dan Kue yang manis. Sebelumnya, beberapa bulan yang lalu aku sempat ditabrak Bus Tayo. Tapi alih alih aku terlempar, Busnya justru mental dan meledak entah bagaimana caranya.
"Seharusnya aku pergi ke dunia lain saat itu."
Awan hitam bergerak dan berkumpul, angin kecil meniup arah pindahnya tergeser sedikit. Dingin tak mempengaruhiku, sudah cukup lama sejak aku merasakan suhu dengan normal.
Ditengah lamunanku Ibaraki menarik ujung jubahku lalu menunjuk kearah belakang dengan mata tajam. Melirik kebelakang, aku mendapati 7 orang perempuan lengkap dengan zirah dan berbagai senjata.
Ahh~ aku lupa lagi nama mereka, aku tidak bisa mengingat apapun kecuali tentang kue dan Ibaraki pada setiap tahunnya. Mereka nampaknya telah berubah sejak terakhir kami bertemu, apakah BWH mereka bertambah setiap evolusi?
Aku bertatapan beberapa saat dengan mereka, tiada yang terjadi jika kau melihatnya dengan biasa. Namun yang sebenarnya terjadi adalah "Perang Aura", Aura mencekam dariku dan Aura keberanian dari mereka.
Ibaraki hanya duduk dan menguap seperti biasanya, ia kemudian terlelap diatas bangkai naga tadi. Ia terlihat tidak tertarik dengan pertarunganku ini, karena setiap kami bertemu kami selalu bertempur.
"Berbeda denganku, aku berharap kalian bisa membebaskanku." bisikku kecil.
Jatuhnya tetes hujan pertama membuka perang antara kami, serangan mereka selalu melampaui ekspetasiku. Diantara setiap tebasan dan skill serta sihir mereka mampu mengurangi Health Poinku secara normal.
Setiap kami berhantaman dengan pedang mereka seperti mengucapkan sesuatu, aku tak bisa mendengarnya. Hanya satu yang terbaca olehku, yaitu "Kembali" dan apa yang harus kukembalikan? Apa aku pernah merampas sesuatu dari mereka.
"Sial, main keroyokan ya pasti gua kalah lah!" teriakku diantara serangan kombinasi mereka.
"Kembalikan Kamito!!!" namun teriakan mereka bukanlah sesuatu yang dapat kupahami.
Dalam 2 hari peperangan antara kami terus berlanjut, aku bahkan sempat membuka Solomons Gate, memanggil Abaddon, dan mensummon beberapa Majin untuk menghentikan mereka tapi mereka juga mampu mengatasinya. "Kampret, gua kan pengen makan kue bentar!!" batinku hanya bisa mengutuk atas keadaan ini.
Akhirnya kami sama sama berada pada kondisi batasnya setelah sekian lama pertempurannya. Tapi kurasa aku telah kalah disini, Ibaraki telah menghilang dan 7 buah pedang bersarang dibadanku.
Aku melihat mereka semua menangis selagi menancapkan pedangnya padaku, aku tak mengerti kenapa ini tapi aku merasa ingin berkata sesuatu.
"NG... NGG!!"
"Silahkan kata terakhirmu, Kamito." tutur salah satu perempuan.
"NG.. NGENT** LU ANJ***!!!! W PENGEN MAKAN KUE BANGS**!!!"
Dan kemudian kurasa aku mati.
********
"Ahh~ akhirnya aku mati juga." desahku senang.
Melihat sekeliling aku hanya menemukan diriku, badanku kembali ke kondisi manusia semulanya. Bahkan tangan kiriku berada dalam kondisi awal.
Di dalam kegelapan ini, aku merasa senang dan kecewa sekaligus disaat yang bersamaan. Aku merasa senang bahwa dengan ini kebosananku bisa berakhir, tapi di dilain hal.
"AKU MASIH BELUM MENGHABISKAN KUE BUATANKU KEMARIN!!!!!!!!"
Aku tidak mau mati!! Aku masih ingin memakan kue lebih banyak!! Tidak, aku akan membuatnya dan kemudian memakannya kembali hingga aku lelah dengannya! Aku tidak peduli dengan jodoh, yang kuinginkan hanya kue!!!
Memaksa badanku bergerak, aku mencoba menghancurkan kekang ini dariku. Mataku perlahan bisa terbuka meski masih buram. Samar samar, aku merasakan dingin dan sensasi angin yang cukup deras.
Aku mencoba menggerakkan badanku tapi ini benar benar menyesakkan dan membuatku tak berdaya. Aku bahkan mencoba berteriak tapi yang mengapa yang terdengar adalah tangisan?
Ada apa denganku? Aku bahkan tak bisa mendengar dengan baik, namun aku sedikit mendengar suara. Apa itu suara perempuan? Kenapa mereka terdengar senang?
Diantara keheningan malam dan derasnya badai, di sebuah mansion seorang bangsawan kelahiran seorang tuan muda telah datang.
KAMU SEDANG MEMBACA
STILL PLAY : GAME A LIVE
AcţiuneDunia yang mungkin kau inginkan namun kau akan sesalkan, bertahan hidup di dalam sebuah game yang dibuat oleh Dewa. Dunia yang telah dikonversi menjadi sebuah game Survival RPG, dan kau serta semua orang yang berhasil selamat sebagai Pemainnya. Ini...
