Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

BAB 23 : PERMAINAN DEWA

259 33 0
                                        

Dalam dua langkah aku kembali membenarkan posturku, bergantung pada [System] akan menghambat pertumbuhanku jadi aku memutuskan untuk tidak menggunakannya selagi aku bisa atasi.

Tenggelam dalam lamunanku, bahu kiriku sedikit terkoyak terkena cakar dari belakang.

Sebelumnya aku sempat menggunakan [Mystical Power Manipulation] untuk merobohkan 3 ekor serigala didepanku, jadi kurasa luka ini adalah pertukaran yang sempurna.

Selain itu aku melempar [Paralysis Dust] untuk melumpuhkan beberapa diantara mereka. 4 diantaranya terkena efek "lumpuh" beberapa saat sehingga mengurangi jumlah musuhku.

Mereka pasti menyadari, jika menyerangku maka mereka akan terbunuh. Karenanya mereka hanya diam dan menggeram.

Beberapa serangan dari mereka berhasil kublokir, namun tak semuanya tidak berdampak padaku.

Ini bukanlah pertarungan antar adu kecepatan, tapi adu daya tahan.

Aku membuat mereka berada dalam jangkauan sihirku dan menggunakan sihir [Stun] untuk membuat mereka berhenti sejenak.

Seketika aku merasakan dingin dibelakangku.

"Aura membunuh yang luar biasa." ucapku dalam bahasa binatang sambil tersenyum masam.

"Apa yang membuat anda memasuki wilayah kami."

Sebuah suara muncul dibelakang telingaku, kecepatan yang luar biasa untuk mencapaiku. Mungkin kegesitan mereka dapat disetarakan dengan kepala sekolah akademi.

Seperti yang diharapkan dari ketua dari serigala serigala ini, mereka mempunyai kecerdasan untuk bernegosiasi.

Aku yakin dibelakang pinggangku dia tengah bersiap bereaksi pada tiap alasan yang ku ajukan.

Hanya saja, aku sudah mempunyai keahlian berbohong asal kau ketahui saja. Dan tentu saja aku mengetahui latar belakang bagaimana mereka berakhir disini.

Tapi pertemuan ini benar benar mengejutkan bagiku untuk tahu mereka berada tepat di hadapanku.

"Kau tahu? Aku belum pernah tahu bahwa disini adalah tempat tinggalnya sekumpulan Black Moon Wolf."

"Ap-"

Sepertinya dugaanku benar, monster yang mempunyai kemampuan tinggi didukung dengan kecepatan mereka yang seperti mengendarai angin hanyalah yang pantas disebut legenda. Mampu menyembunyikan kehadiran bahkan dari pelacak ahli sekalipun.

Tapi itu tidak berlaku bagiku yang mempunyai [System] untuk melakukan banyak hal.

Mereka adalah satu diantara monster yang mampu mengoyak bagian tubuhku ketujuh kalinya sejak aku ada di dunia ini.

Rockgroock dengan tanduknya, Dryad dengan sihirnya, Orc Lord dengan pedangnya, Skull Reaper dengan mata sabitnya, Cursed Evil dengan kutukannya, Imitator dengan kekuatannya, dan baru saja Black Moon Wolf dengan kegesitan miliknya.

"Aku juga tahu bahwa kalian telah melakukan perburuan pada manusia yang mencari Herb Leaf di daerah kalian."

"Lalu apa ka-"

"Sayangnya aku kesini bukan untuk melakukan semacam perburuan pada kalian, aku kemari karena ketidaksengajaan." potongku sambil menggelengkan kepala.

"Jangan bohong sepanjang jalan aku melihatmu melirik sekitar, kau pasti ingin membunuh kami!"

Aku hanya diam dan menunjuk pohon besar dan rindang yang ada didepanku.

"Aku hanya ingin kesana untuk tidur. Jadi apa boleh?"

"Apa!!? Jadi anda benar benar pergi hanya untuk tidur. Tapi bagaimana anda membuktikan bahwa anda benar benar ingin tidur disana."

Aku membuka [Inventory] dan mengeluarkan sebuah bantal.

"Lihatkan? Dan ketika aku menuju kesini kalian tiba tiba mencoba menghalangiku. Padahal apa salahku?"

Untung aing sempet bawa bantal dari rumah, kalau nggak bingung dah jawab apaan.

"Ugh, kami sungguh meminta maaf."

Nah, mari kita mulai untuk mendapatkan hati mereka.

Aku berbalik dan melihat seekor serigala dengan lambang bulan di kepalanya tengah menundukkan kepalanya. Aku kemudian menyarungkan Mezzaluna dan berjongkok.

Aku mengelus bulu hitamnya dengan lembut, dia terlihat menyukainya. Tunggu! Dia ini betina kan!??

"Tidak apa, lagipula kalian hanya mempertahankan diri bukan? Itu wajar kok, jadi aku mempunyai hadiah untuk kalian."

Aku mengambil mayat 5 ekor Wild Boar dari dalam inventoryku dan meletakkan dihadapannya.

"Kalian pindah kemari karena wilayah kekuasaan kalian direbut bukan? Jadi atas usaha kalian untuk bertahan, aku hanya bisa memberikan hadiah ini."

"Kami mencoba membunuh anda, tapi anda hanya memberikan kami perlawanan yang tidak menyakiti kami dan bahkan memberikan kami makanan sebanyak ini. Kami memberikan anda rasa hormat dan terima kasih."

Black Moon Wolf lain melolong panjang dan kemudian menundukkan kepalanya.

Mereka kemudian menuju mayat Wild Boar yang kuberikan tadi dan makan bersama.

Kebersamaan yang membuatku iri, seandainya aku tidak mengejar kekuatan apakah aku bisa menjadi lebih dekat lagi pada orang tuaku.

Di dunia sebelumnya, apakah jika aku tidak bersikap tidak sopan pada tamunya. Apakah mereka akan melemparkan tatapan bahagia melihatku selamat.

Aku kemudian melihat dihadapanku para Black Moon Wolf berbaris menghadapku.

Ahh, aku jadi teringat ketika aku bertemu.. Siapa ya? Rasanya mereka ada tujuh? Monster atau manusia?

Entah mengapa mencoba mengingatnya hanya menyakiti kepalaku. Baiklah mari kita lupakan saja dulu.

"Kami mohon, kami ingin melayani anda sebagai tuan pertama dan terakhir kami." sang ketua Black Moon Wolf menunduk dihadapanku.

"Bingo!"

"Eh, bing apa anda bilang? Apa artinya."

Alamak, kebiasaannya muncul dah.

"Artinya selama kalian tidak keberatan untuk bertarung bersamaku. Maka aku tidak punya alasan untuk menolaknya."

[Anda mendapatkan Skill [Tame]]
[[Tame] : Kamu bisa menjinakkan monster yang kekuatannya lebih lemah darimu. Kamu tidak memerlukan batasan berapa banyak monster yang bisa kamu jinakkan]

Dibawah sinar biru rembulan, 24 ekor Black Moon Wolf memulai perjalanan mereka bersamaku untuk menjadi partner baruku.

Aku merasa sangat senang akan hal itu tapi kemudian dalam pandanganku aku melihat sebuah kekejaman.

Ibuku tiba tiba melakukan telepati memintaku segera pulang, suaranya begitu lirih dan terdengar sedikit erangan kesakitan.

Tentu aku merasa cemas, maka aku meminta para Black Moon Wolf untuk membantuku pergi secepatnya kearah rumahku. Jantungku berdebar memikirkan apa yang terjadi selanjutnya selama perjalanan.

Seharusnya menempuh waktu 2 hari penuh dengan kereta kuda untuk sampai namun dengan menunggangi Black Moon Wolf dalam 1 jam aku telah melihat sosok rumahku yang hangat.

Saking hangatnya kepulan asap membumbung tinggi darinya. Dan dua buah mayat tertancap tombak di dinding samping jendela rumah.

"SIALAAAANN!!!!! SIAPA YANG MELAKUKANNYAAAA!!!!!!"

Baru saja aku ingin berteriak begitu, sebuah cahaya menyilaukan membutakan mataku.

"Sensasi ini!!!??"

Ketika aku membuka mataku aku berada di tempat yang begitu familiar bagiku. Sebuah ruang kosong hampa yang hanya ada warna putih dimana mana menempati pandanganku.

"Bukannya seharusnya kakek tua itu ada untuk berceloteh dihadapanku?" ocehku geram.

Merasakan hangat dibelakangku, aku melihat sebuah sosok. Sosok yang sangat aku tidak sukai dan membuatku ingin membunuh dirinya setiap saat bahkan lebih parah saat ini.

Seorang muncul dengan halo di atas kepalanya dengan sayap di punggungnya, dan wajahnya yang terlihat tua bijaksana.

"Kamito, dewa mulai memperhatikanmu kembali. Jadi, permainan yang sebenarnya akan dimulai."

STILL PLAY : GAME A LIVECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang