"Anying dada aing sakit."
Diantara kesunyian hutan, kurasa hanya aku yang bersuara disini. Tiada kicauan burung, atau suara jangkrik, bahkan tak satupun gerakan dalam hutan yang tertangkap dalam telingaku.
"Heish capek juga daritadi mondar mandir doang yak."
Harusnya sih aku sudah bertemu dengan orang yang mencoba mempermainkanku disini sekarang, tapi batang hidungnya masih belum kelihatan.
"Masa iya aku harus jadi tengkorak kayak yang tadi baru itu orang nongol kesini dah."
Dengan terus bergerak selama beberapa menit, aku selalu mengatur nafas untuk kemungkinan adanya serangan kejutan. Mataku harus selalu terfokus terhadap segala gerakan yang tertangkap indraku.
Yah walaupun aku tidak sehati hati pahlawan semacam Seiyuu Ryuuguin, setidaknya aku menjaga kewarasanku untuk tidak berlebihan dalam menjaga kewaspadaan. Jangan terlalu bergantung pada rencana, suatu waktu kau memerlukan yang namanya improvisasi.
Atas segala antisipasi, akhirnya aku merasakan beberapa hawa keberadaan mendekat padaku dari belakang. Tapi kok rasanya rada banyak yak?
Terserahlah, aku hanya harus bertahan hidup saat melawannya.
"Akhirnya datang juga, yok gelut!" ucapku sambil berbalik kebelakang.
Iris mataku berkembang kempis tak karuan dengan pemandangan yang memasuki pandanganku.
"GRRRRR"
Geraman itu membuatku menggigil mengingat mimpi burukku. Sebuah mimpi buruk yang terus bertambah hingga membuatku terpaksa menyadarinya untuk menerima bahwa yang kuhadapi ini bukanlah ilusi.
"Yang bener aje."
Aku sudah siap dengan segala kemungkinan, tapi yang satu ini bukan merupakan kemungkinan.
"BUJUGILE!!! INI BUKAN BUMI, TAPI NGAPA ADA UNDEAD LAGI OYYY!!!!!!!" teriakku sambil terus mengambil langkah seribu menjauhi serbuan ratusan undead.
Tidak ada resources, tidak ada tempat bersembunyi, tidak ada sumber daya, tidak ada ketersediaan tenaga, dan tidak ada senjata yang membuatku berpikir bisa mengalahkan undead sebanyak itu.
Memang ada satu opsi pilihanku, namun sebisa mungkin.. Tidak, aku tidak akan pernah mengambil resiko pilihan itu.
Berpikir!! Apa yang kubutuhkan untuk mengalahkan ratusan zombie yang tak bisa melihat di situasi ini?
"Tunggu, kalau begitu."
Aku menghentikan langkahku dan menormalisasi nafasku dengan cepat, membatasi sesedikit mungkin suara yang keluar dari tubuhku, dan saat aku melirik kebelakangku. Para undead itu telah berhenti serta kebingungan.
Sebagaimana yang kuperkirakan, para undead ini memiliki karakteristik fisik yang sama dengan undead bumi. Dengannya aku bertaruh bahwa mereka memiliki kelemahan yang sama, jika aku salah mungkin aku akan kehilangan kesempatan untuk bertahan hidup dan jadi bulanbulanan undead.
Aku mengambil batang pohon yang cukup besar. "Nah, saatnya yang menjadi predator kita berganti!"
Pukulan demi pukulan kuhantamkan ke kepala mereka semua, persetan dengan waktu yang terpenting aku bisa membunuh mereka semua dan bertahan hidup. Nafasku agak tersengal namun kupaksakan agar kesadaran tetap terjaga.
Akan menjadi menyulitkan jika mereka tersebar seiring berjalannya waktu, aku harus membunuh mereka dalam jangka waktu yang efisien.
Karena aku sudah terbiasa dengan skill dan buff yang membuat seranganku menjadi kuat, kurasa aku memang harus mengikuti event semacam ini. Agar status dasarku dapat mengimbangi skillku, dan agar kejadian semacam ini dapat kuantisipasi sewaktu waktu.
KAMU SEDANG MEMBACA
STILL PLAY : GAME A LIVE
ActionDunia yang mungkin kau inginkan namun kau akan sesalkan, bertahan hidup di dalam sebuah game yang dibuat oleh Dewa. Dunia yang telah dikonversi menjadi sebuah game Survival RPG, dan kau serta semua orang yang berhasil selamat sebagai Pemainnya. Ini...
