BAB 22 : JACKPOT (Bagian 2)

268 33 11
                                        

"Nemesis. Karena telah mendengar namaku, maka waktu hidupmu sudah habis. Bersenang senanglah bersama Hades." ucapku dingin dari balik penutup kepalaku.

"Heh, seharusnya kami yang bilang begitu. Kami adalah Trial Crime dari organisasi Snake Bind, hahahaha takutlah dan memohon untuk hidupmu." balas seorang bandit itu.

Mereka tersenyum jahat seolah aku adalah mangsa yang mudah. Ahh, bapak pemilik tadi pingsan di dalam ya?

Nyusahin.

"Kami akan be-."

Tanpa sempat menyelesaikan perkataannya, aku memasuki jarak serangan dan kemudian berakselerasi dalam satu detik untuk memisahkan nyawa dari tubuhnya dengan belati.

Bandit yang lain hanya terdiam dan terpaku.

"E Z. [Phantom Slash]"

Dalam 3 detik, puluhan sayatan telah tercipta dari tubuh kedua bandit sisanya. Hingga kemudian mereka ambruk.

Phantom Slash sendiri adalah serangan yang mengandalkan agility sehingga dapat menciptakan arah serangan yang bervariasi dan tak terduga dalam beberapa detik.

Kudengar mereka yang berasal dari bandit kelompok belatung ini adalah rank B, tapi kemampuan mereka ternyata mengecewakan.

*******

"Hoi bangun pak." ucapku sambil menepuk nepuk pipinya.

"Pak? Dalam hitungan ketiga w pites pala lu neh."

Tidak ada jawaban, ia masih pingsan.

Aku melirik kearah perutnya, perut yang besar dengan sebuah belati tertancap disana.

Aku menariknya dengan hati hati dan kemudian melihat lukanya.

"Tidak terlalu dalam, dan tidak ada identifikasi racun. Hanya kehilangan banyak darah tidak akan mengancam hidupnya."

Aku kemudian mengambil sebuah potion berwarna hijau dari inventoryku dan kemudian menyumpalkan botolnya dalam mulut bapak ini.

Potion ini bukanlah potion biasa, ia terbuat dari tanaman herbal yang terkonsentrat tinggi dengan sihir dalam dungeon kelas A. Membuat efisiensinya meningkat berkali kali lipat dari potion kelas tinggi itu sendiri.

Bisa dibilang ini mungkin satu tingkat dibawah dengan elixir. Aku sendiri menamai potion ini Reheal.

Luka yang terbuka dalam sekian detik mulai menutup dengan cahaya putih sihir yang keluar darinya.

Oke, sekarang tinggal menyeret bapak ini ketempat yang lebih nyaman. Aku juga gamau terus terusan duduk diatas tanah.

Aku menemukan sebuah sofa yang cukup besar jadi aku menyeret bapaknya dari kaki kesana.

"Ugh dia hampir setara dengan Mezzaluna."

Setelah beberapa saat, kemudian matahari mulai merendah. Bulan masih belum muncul, membuat cahaya senja benar benar terlihat indah.

Ini sudah hampir 3 jam kau tahu? Pak, kau pingsannya kelamaan.

Ketika aku melihat kebelakang, mata bapak itu sudah menunjukkan kondisi bangun dari pingsannya.

"Apa aku sudah mati?"

"Itukah pertanyaan yang anda ajukan setelah aku susah payah menyelamatkan anda?"

Ucapanku membuat matanya terbuka dengan cepat dan kemudian berlari ke pojokan.

Keringat mengalir turun membasahi keningnya. Apa ia ketakutan?

STILL PLAY : GAME A LIVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang