Nata melihat Fiska lari sambil menahan rasa sakit akibat perkataan Fero. Ia tidak ingin hubungan persahabatan yang sudah terjalin lamanya kandas hanya masalah kecil yang Fero besar-besarkan.
"Nat"
Ia menengok kesamping saat Dira memanggilnya, gadis yang sudah tau semua tentang permasalahan yang dialami dirinya dan sahabat-sahabatnya dimasa lalu.
"Ya"
"Gue pulang dulu ya, maaf kalau gue terlalu jauh buat tau tentang permalasahan ini, maafin karena gue terlalu kepo dan akibatnya jadi kayak gini" Dira menatap bersalah, seharusnya ia tidak terlalu ikut campur dalam masalah ini meskipun awalnya hanya ingin membantu fiska.
Nata mengangguk, ia tidak menyalahkan Dira dalam masalah ini karena Dira disini hanya membantu fiska sebagai sahabatnya yang peduli.
"Lo ga salah dir, seharusnya gua yang bilang terimakasih karena Lo udah mau repot-repot buat jenguk Fero" Nata tersenyum tipis.
"Gue pulang dulu Nat" Nata mengangguk dan sekali lagi mengucapkan terimakasih.
Saat Dira sudah pulang, Nata masuk kedalam ruangan Fero, ia harus berbicara pada Fero tentang fiska. Seharusnya Fero tidak berbicara seperti itu pada fiska.
Fero menoleh saat mendengar suara pintu kamar rawatnya terbuka, ia melihat nata yang masuk kedalam dan berjalan kearahnya.
Saat sudah sampai dihadapan Fero, Nata menatap tajam kearah Fero sedangkan yang ditatap seperti itu bingung.
"Ada apa??" Tanya Fero.
"Apa yang tadi Lo omongin ke fiska hingga fiska nangis dan pergi ga tau kemana tuh orang"
"Lo ga perlu tau Nat" ketus Fero.
Nata menghela nafasnya. Benar-benar Fero tidak berubah masih keras kepala.
"Gue perlu tau fer, Lo berdua masih sahabat gue, masalah Lo berdua masalah gue juga" Nata menaikkan tinggi nadanya yang membuat Fero kesal.
"Gak semua masalah gue ataupun fiska itu masalah Lo juga Nat, Lo ga usah terlalu ikut campur masalah ini!!" Fero menatap tajam Nata. "Lagi pula lo harusnya sadar Nat, yang memulai semua permasalahan ini bukan gue tapi fiska!" Fero membuang mukanya, tidak ingin menatap Nata lebih lama lagi, rasanya ia kesal kalau Nata terus selalu ikut campur.
Nata pun melangkah keluar dari kamar rawat fero. Percuma saja ia berbicara baik-baik pada lelaki itu, tetap Fero adalah orang yang terlalu keras kepala.
Akhirnya, Nata mencari keberadaan fiska yang entah kemana keberadaannya. Ia melangkahkan kakinya menelusuri lorong-lorong rumah sakit yang terdapat banyak kamar rawat.
Kakinya berhenti di sebuah tangga yang menuju lantai paling atas. Ia mendengar suara isakan tangis seorang perempuan, ada rasa sedikit takut untuk menghampiri suara itu karena sekarang ia berada di rumah sakit. Dengan sedikit keberaniannya, ia menaiki tangga itu dan melihat gadis yang tak lain adalah fiska. Perempuan itu menangis terus menerus, Nata pun menghampiri fiska yang sedang berdiri menatap langit-langit sore.
Nata memegang bahu fiska, hingga gadis itu sedikit terkejut dan menoleh ke belakang.
"Nata" gumam fiska yang masih terdengar jelas di telinga Nata.
Nata tersenyum lembut, dulu memang ia sempat kesal pada fiska karena kesalahan masa lalu yang membuat diantara mereka tersakiti. Tapi, sekarang rasanya ia tidak kesal lagi pada fiska, yang sekarang ia rasakan adalah kasihan.
"Lo anggap gue sahabat kan fis?" Tanya Nata.
Fiska mengangguk, benar ia menganggap nata adalah sahabatnya hingga terlalu sayang pada Nata, dirinya akhirnya jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Lucu sekali bukan? Cinta pada sahabat sendiri yang endingnya bukan jadi milik kita selamanya. Benar kata orang, persahabatan antara lelaki dan wanita tidak akan bertahan lama, karena salah satu diantara mereka akan ada rasa suka dan yang lebih dalam nya cinta. Dan rasanya ingin terus memiliki nya, jika sudah dimiliki dan saat sudah putus ada rasa canggung diantara keduanya.
"Kalo Lo anggap gue sahabat, kenapa Lo ga mau bagi beban Lo sama gue? Jangan di pendam sendiri, Lo butuh teman berbagi cerita fis" ucap Nata.
Fiska menghapus air mata yang berada di pipinya lalu ia tersenyum pada Nata. Akhirnya, ia menceritakan semua dari awal hingga akhirnya ia di marahi oleh Fero.
"Gue harus gimana Nat?" Fiska sesenggukan.
Nata tertawa kecil, padahal saat disekolah ia melihat fiska itu kuat malah tidak ada yang berani dengan cewek yang sekarang ada di hadapannya ini. Coba kalo dilihat-lihat, fiska ini sebenarnya orang yang cengeng tapi ia tidak mau menunjukkan itu semua ke orang-orang.
"Fis, hidup ini selalu ada yang namanya usaha, tanpa usaha tidak ada hasilnya. Coba lu usaha buat ngertiin keadaan ini semua, jadi cewek itu harus kuat apalagi menghadapi lelaki keras kepala semacam Fero, Lo udah lama kenal Fero kan? Kenapa dulu Lo sering dibentak Fero, Lo ga nangis? Kenapa sekarang Lo dibentak Fero nangis?"
"Mungkin karena udah lama kali ga dibentak lagi sama Fero" fiska tersenyum tipis.
"Gue tau Lo selalu ada buat Fero, selalu nemani Fero saat Fero masih koma, beda dengan gue yang sama sekali tidak mau cari tau keberadaan kalian" Nata menghela nafasnya.
"Jadi gue harus apa nat, biar fero ga marah lagi sama gue?" Tanya fiska.
"Lo temuin dia gih, ngomongin baik-baik" Fiska mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan nata yang masih berdiri di tempatnya.
****
"Sasya"
Gadis itu menoleh saat namanya di panggil.
"Apa?"
Katty mengatur nafasnya, ia lelah karena lari dari gerbang sekolah hingga sampai di koridor sekolah. Sasya temannya ini kalo jalan cepat kayak lari kecil.
"Lo itu ya, kalo dipanggil jangan budek apa!" Ketus Katty.
"Gue ga denger Ket, kalo denger juga gua pasti berhenti jalan nungguin Lo sampai dihadapan gue"
"Oyah, fiska ga masuk sekolah katanya jenguk sepupunya yang lagi sakit"
"Kalo ngomong pelanin kek Ket, ngomong biasa sama teriak ga ada bedanya"
Katty menyengir, apa yang dibilang sasya memang benar.
"Gue masuk ke kelas duluan Ket"
Katty mengangguk, jarak antara kelas sasya dengan kelasnya tidak terlalu jauh.
"Ket"
Katty menoleh saat suara lelaki memanggilnya.
"Eh nata" Katty tersenyum.
"Sasya udah masuk kelas?" Katty mengangguk.
"Baru aja, kenapa? Lo kangen? Asek dah"
"Gapapa, gue ada urusan sedikit sama dia" Nata tersenyum.
Katty yang melihat senyum Nata terpaku. Ia tidak menyangka, Nata cupu-cupu senyumnya bikin perempuan-perempuan terhipnotis seketika.
"Ket" panggil Nata dengan suara yang kencang.
"Eh" Katty menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kenapa Nat?" Ya ampun bahkan dirinya salting di depan nata.
"Lo kenapa? Ngeliatin gue gitu bangett" Nata menaikkan sebelah alisnya.
Katty menggeleng cepat. Ia tersenyum kikuk. "Gapapa, gue ke kelas duluan ya Nat" Katty pun melangkahkan kakinya cepat sambil menggelengkan kepalanya.
Ga ga ga boleh suka sama nata, sama aja gue teman makan teman. Gue TIDAK BOLEH suka sama nata.
Nata yang melihat tingkah laku Katty aneh. Bingung.
*****
Hayyy hayyy ;)
Maaf kalo aku terlalu lama update cerita ini 😭😭😭 pasti banyak yang nungguin ya :((
Beberapa bulan yang lalu aku disibukkan dengan kegiatan sekolah dan saat sudah tidak ada kegiatan sekolah aku males buat nulis cerita hehehe. Karena mood yang tidak selalu mendukung 😵 dan juga selalu off karena tidak ada kuota 😅😅😅 MAAFKAN SEKALI LAGI BUAT READER'S YANG SUDAH NUNGGU CERITA INI.
TERIMAKASIH YANG SELALU MEMBERIKAN VOTE DAN KOMEN NYA YANG MEMBERIKAN AKU SEMANGAT TERUS BUAT LANJUTIN CERITA INI 😂😂 THANK YOU SEKALI LAGI ❤
KAMU SEDANG MEMBACA
FAMOUS
Fiksi Remaja#7 in Famous [ 22/06/2019] #4 in Schoolfiction [12/07/2019] [Hargai karya seseorang, dengan cara memberikan dukungan pada penulisnya] enjoy this story, hope you like it. ••• Kamu adalah alasanku untuk kembali, ke sisimu. Ini kisah dua remaja yang me...
