Semua murid sudah berkumpul di sekolah SMA Garuda. Membantu anak-anak OSIS yang sedang menyiapkan acara untuk ulang tahun sekolah. Dio Fernando selaku ketua OSIS juga ikut membantu, tapi tugasnya adalah menyuruh ini-itu.
Arsen yang dulu pernah menjabat sebagai ketua OSIS menatap Dio tidak suka. Bahkan rasanya Arsen ingin sekali menegur dan menyeret Dio untuk membantu yang lainnya bukan hanya mengintruksi lewat jari dan menunjuk-nunjuk.
"Dulu Lo gitu nggak sen" Arsen pun menoleh. Dilihatnya Varo yang sudah berdiri disampingnya sambil menatap kelakuan Dio.
"Kagak lah dodol. Gue mah nggak semena-mena kayak dia" Arsen menatap Dio dengan tatapan yang dingin.
Varo hanya mengangguk-angguk mengerti. Jika saja Arsen seperti itu mungkin varo tidak akan mau berteman dengannya.
"Gue denger-denger katanya Dio anak pemilik sekolah. Tapi gue nggak percaya" Arsen menoleh kesamping menatap Varo yang masih memandang kearah depan.
Tiba-tiba Varo terkekeh geli. "Kayak dia lah anak pemilik sekolah. Mimpi" Seakan ucapan Varo itu sudah tahu semuanya. Tahu siapa pemilik sekolah SMA Garuda.
Tanpa ingin berlama-lama menatap kelakuan Dio, kedua lelaki itu beranjak pergi dari sana. Karna, mereka juga ingin membantu yang lainnya.
****
Gadis itu mengelap keringat yang sudah bercucuran di keningnya. Semua tubuhnya terasa pegal sekali, rasanya ia ingin sekali membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang empuk.
"Capekkk" Rengut Katty yang sudah duduk di kursi yang barusan ia ambil.
"Lebay lo"celetuk Dira yang sedang menata kursi-kursi.
Sasya memutar kepalanya kanan-kiri, ingin menghilangkan rasa pegalnya. Demi sebuah kesuksesan acara sekolah, Sasya rela membantu menyiapkan ini semua.
"Belum lagi nanti acaranya sampai malam" dengus Katty yang mengeluh sedari tadi.
"Udah Ket. Nikmatin aja semuanya" ucap Sasya dengan malas karena mendengar semua keluhan Katty yang membuat telinganya panas.
"Nih sya buat kamu"
Sasya menatap sekumpulan tisu dan satu buah botol minum. Lalu, Sasya menoleh kesamping melihat lelaki yang sedang tersenyum manis.
Dio?
Sasya melengos. Tidak ingin menatap wajah Dio yang sok baik itu. Sakit hati yang masih belum sembuh itu pun kembali lagi. Ketika dimana kejadian itu kembali muncul lagi diingatan Sasya. Pukulan Dio untuk Varo membuat dirinya ingin menangis ditambah wajah Varo yang penuh dengan luka lebam.
Sakit rasanya, melihat seorang yang begitu ia sayangi terluka. Kalau Sasya cowok, mungkin Sasya akan membalas menghajar Dio hingga tak berdaya seperti yang dialami Varo.
Dio tak beranjak sedikit pun untuk pergi dari sisi Sasya. Rasanya lidahnya kelu untuk mengeluarkan kata maaf berulangkali.
"Nih buat Lo" sebuah tangan dengan tisu dan botol minum lagi mampu membuat Sasya mendongakkan kepalanya. Ingin tahu siapa lagi yang ngasih tisu dan botol minum juga.
"Nataaa" gumam Sasya. Ia merasakan hatinya begitu senang saat melihat Nata berada dihadapannya sekarang.
"Makasih" Ucap Sasya. Mengambil tisu dan botol minum itu dari tangan Nata.
"Kalau capek istirahat sya, jangan dipaksain" Nata tersenyum dan mengusap kepala Sasya dengan lembut.
"He'em" Sasya mengangguk menuruti ucapan Nata.
Sedangkan Dio yang melihat interaksi cewek dan cowok itu menahan kesal dan geram. Dengan hati yang panas, Dio beranjak pergi dari hadapan Sasya dan Nata.
KAMU SEDANG MEMBACA
FAMOUS
Teen Fiction#7 in Famous [ 22/06/2019] #4 in Schoolfiction [12/07/2019] [Hargai karya seseorang, dengan cara memberikan dukungan pada penulisnya] enjoy this story, hope you like it. ••• Kamu adalah alasanku untuk kembali, ke sisimu. Ini kisah dua remaja yang me...
