Fiska membuang muka. Saat varo menatapnya begitu lekat padahal jaraknya tidak begitu dekat tapi fiska merasa risih jika ditatap seperti itu.
"Yah salting orangnya ditatap lu var" Deni menahan senyum saat melihat dua insan yang rasanya ingin sekali disatukan.
"Balik Ket" fiska menarik tangan Katty untuk menjauh dari kumpulan teman-teman varo yang sudah sedari tadi menggoda dirinya dan varo. Jika dirinya berlama-lama disini akan mengakibatkan rasa kesal karena ulah cowok-cowok itu.
"Bang varo itu ganteng lho fis. Tapi sayang disia-siakan oleh cewek judes kayak Lo" ucapan Katty yang tiba-tiba itu membuat fiska menghentikan langkahnya dan Katty pun juga menghentikan jalannya.
"Sialan" umpat fiska. Apakah dia sejudes itu kah? Hingga banyak yang mengira wajah judesnya mencerminkan sifat galaknya.
Katty tertawa kecil. Ia tahu bahwa fiska tidak sejudes yang dipikirkan oleh orang lain saat melihat langsung diri fiska. Mereka belum mengenal isi luar dan dalam sifat fiska yang sebenarnya. Jadi wajar saja jika orang di luar sana yang tidak terlalu dekat dengan fiska beranggapan bahwa fiska adalah cewek judes dan dingin.
"Gue tahu kok fis seiring berjalannya waktu Lo akan merasakan jatuh hati pada orang yang sudah menyiapkan hatinya untuk Lo" Setelah mengucapkan kalimat itu, Katty berjalan mendahului fiska yang masih berdiam diri ditempatnya.
Apa gue mampu untuk jatuh hati kedua kalinya? Bahkan fiska bingung dengan perasaannya. Ia juga masih belum bisa move on dari nata dan masih berharap bahwa nata akan membalas perasaannya.
"Fiska kok pintunya gak bisa dibuka?" Teriak Katty yang berusaha untuk membuka pintunya dan berharap pintunya akan terbuka.
Fiska pun menghampiri Katty yang sudah ada didepan pintu. Sudah ia duga pasti ini kerjaan temannya varo yang namanya.... Siapa ya? Oh iya Deni!
"Ini pasti kerjaan dia" gumam fiska yang sedang menahan kesal. Sedangkan Katty menatap bingung dengan apa yang diucapkan fiska. Dia? Siapa?
"Maksud Lo fis?" Tanya katty. Fiska menatap Katty datar. "Siapa lagi kalo bukan sih Deni itu. Dia tadi habis masuk kedalam" ketus fiska yang sudah amat jengkel.
"Tunggu disini bentar" perintahnya. Katty hanya mengangguk patuh apa yang diperintahkan oleh fiska. Ia tahu pasti fiska akan menghampiri sekumpulan teman varo dan ingin merebut kunci dari tangan Deni.
****
"Eh tu liat fiska balik lagi kesini" seru Deni sumringah. Harusnya varo bukan yang senang? Kenapa jadinya Deni yang terlalu girang? Aneh.
Varo pun mengalihkan pandangannya kearah fiska yang sedang melangkah kesini. Seketika wajah varo bingung saat melihat ekspresi wajah fiska yang sudah menunjukkan kekesalannya.
"Mana kuncinya?" Fiska menatap tajam seseorang yang sudah menyengir saat tahu fiska pasti akan balik lagi untuk meminta kuncinya.
"Kunci apaan?" Tanya Deni yang berpura-pura tidak tahu dan berusaha untuk menahan tawanya. Ia tahu pasti fiska akan kesal jika dirinya malah bertanya balik. Sudah terlihat wajah nya yang sedang menahan marah.
"Gak usah pura-pura bego. Mana kuncinya?" Tagih fiska yang sedang berusaha menahan sabarnya agar dirinya tidak mengeluarkan amarahnya didepan varo dan teman-temannya.
"Kunci? Noh ada di varo" Deni menunjuk kearah varo yang sudah memasang wajahnya, bingung. Mengapa dirinya dibawa-bawa? Perasaan sedari tadi ia tidak memengang kunci apapun?
Deni mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum jahil, memberi isyarat pada varo untuk melakukan aksinya. Varo menatap Deni dengan tatapan bertanya, ia tidak tahu maksud dari isyarat Deni.
"Buruan mana kuncinya?" Fiska menggeram kesal, ingin rasanya ia mencabik-cabik wajah Deni dan varo sekarang juga. Wajah nya begitu menyebalkan dan ditambah lagi kejahilannya.
"Itu ada di varo" tunjuk Deni. Lagi dan lagi Deni memberitahu apa yang dimaksud nya pada varo dan akhirnya varo mulai mengerti yang diisyaratkan oleh Deni.
"Udah deh sini kuncinya. Jangan bikin gue tambah kesel!" Fiska melotot tajam kearah varo yang sudah memasang senyum manisnya dan itu membuat fiska ingin sekali mengeluarkan seluruh isi diperutnya.
"Sini deketan biar gua kasih" akhirnya fiska mengalah demi mendapatkan sebuah kunci untuk membuka pintu dan segera keluar dari kumpulan makhluk yang menyebalkan.
"Sini lebih Deket lagi" Varo tersenyum jahil. Fiska mendengus kesal, berusaha untuk sabar sekali lagi dan jika mereka mengerjainya akan dihabisi oleh dirinya hingga tidak berdaya.
"Mana?" Fiska meminta untuk terakhir kalinya, hingga mereka tidak memberinya. Awas saja!!
"Nih kunci hati" Varo mengeluarkan kunci yang di ujungnya berbentuk hati. "Lo berhasil ngebuka pintu hati gua, saat pertama kali kita bertemu" Varo tersenyum hangat. Bahkan ia ingin sekali memiliki fiska, tapi sayangnya cewek dihadapannya ini belum siap menerima kehadiran dirinya dihidupnya.
Speechless. Bahkan kata-kata itu masih terus berputar di pikirannya. Mengapa ucapan Varo begitu tulus sekali?
"Wadidaw" seru Jeyro, Deni dan Arsen. "Bisa aje mas Varo" ledek mereka yang sudah tertawa geli karena mendengar perkataan cinta yang dilontarkan oleh Varo.
"Nih kuncinya" Deni menyerahkan kunci pintunya dan fiska segera mengambilnya lalu ia segera beranjak pergi dari tempat itu.
"Akhirnya Varo sudah mulai gencar boss" ucap Deni sembari tertawa geli. Kalau tidak dengan cara ini mungkin varo akan tetap diam saja. Menunggu, fiska membuka hatinya pada orang lain.
****
"Gimana fis? Kuncinya udah dapet?" Pertanyaan katty tidak di gubris oleh fiska. Cewek itu langsung membuka pintunya dan berjalan kearah tempat dimana teman-temannya sedang mengerjakan tugas.
Katty yang melihat perubahan fiska aneh, membuat dirinya terus bertanya-tanya. Ada apa dengan fiska?
Aneh.
Sasya mengalihkan pandangannya pada fiska yang sudah duduk ditempat semulanya. Dilanjut dengan Katty yang sudah menyusul duduk disamping fiska yang masih terdiam.
"Fiska kenapa Ket?" Tanya Dira yang melihat ekspresi fiska yang tidak seperti biasanya. Pasti ada sesuatu yang terjadi saat mereka bertemu dengan varo dan teman-temannya.
"Ga tau. Gua tanyain dari tadi diem aja" Katty mengedikan bahunya tidak tahu. Dirinya saja bingung karena sikap fiska yang dari tadi diam saja.
"Kalian ga diapa-apain kan sama bang varo?" Tanya Sasya yang juga penasaran. Katty menggeleng, ia tidak diganggu oleh Varo ataupun teman-temannya.
"Tadi si temen-temen bang varo termasuk bang varo juga ngegodain fiska tapi fiska biasa aja dan saat kita mau masuk kedalam, pintu nya dikunci dan fiska balik lagi untuk ngambil kuncinya ke temen bang varo yang terakhir lewat pintu itu. Tapi pas balik fiska jadi diem gitu dan gak mau jawab pertanyaan gue" jelas Katty yang panjang lebar. Mereka mengangguk saat mendengar penjelasan Katty.
Parah sih bang varo, temen gue diapain sampe diem gini. -batin sasya.
"Lo gak papa kan fis?" Tanya sasya lagi. Fiska pun menatap sasya dan menggeleng pelan. Ia tidak apa-apa tapi hatinya yang ada masalah. Mengapa jantungnya berdegup saat mendengar perkataan varo?
Fiska tersadar dan menatap tajam Sasya dengan sorot mata yang ingin sekali mengacak wajah sasya.
"Ini terakhir kalinya Lo nyuruh gue sya. Gue gak mau lagi berurusan sama Abang Lo dan temen-temennya itu" tutur fiska dengan penuh penekanan yang membuat Sasya tersenyum geli.
"Iya iya sayang" Balas Sasya. Tapi untuk sasya peringatan yang fiska berikan padanya tidak akan membuat dirinya berhenti untuk melakukan terus dan membuat mereka bersatu.
*****
Jangan lupa vote nya teman-teman 😉 dan berika komentar kalian tentang cerita ini ehehe.
KAMU SEDANG MEMBACA
FAMOUS
Ficção Adolescente#7 in Famous [ 22/06/2019] #4 in Schoolfiction [12/07/2019] [Hargai karya seseorang, dengan cara memberikan dukungan pada penulisnya] enjoy this story, hope you like it. ••• Kamu adalah alasanku untuk kembali, ke sisimu. Ini kisah dua remaja yang me...
