Sedang dalam proses revisi!
Lya's POV
Aku datang di dunia yang asing bagiku.
Aku melihat, semua orang yang ada di sini saling menunjukkan kemampuan luar biasa mereka. Mereka semua sama sepertiku, dalam label seorang anak indigo.
Kita adalah anak-ana...
Angin begitu keras bertiup kali ini, tak terlalu dingin dan tidak pula hangat. Inilah yang dirasakan oleh Rhei saat ini. Terkurung dalam istana yang megah bersama adiknya yang bawel membuatnya bosan setengah mati.
Rhei sedang memandang alam luar dari dalam jendela kamarnya. Mantel bulu putihnya bergerak lembut diterpa angin. Matanya menangkap seorang gadis berambut panjang dibawah sana, sangat kontras dengan pakaiannya yang putih. Rhei langsung mengenali siapa wanita tersebut.
"Riami?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rhei bergegas turun dari kamarnya. Langkahnya tergesa-gesa. Mengabaikan prajurit penjaga yang berlutut hormat ketika Rhei melewatinya. Mengapa ia tak bisa duduk manis didalam istana saja? Batin Rhei geram.
"Riami!" Panggil Rhei.
Riami menoleh kebelakang. Ia terkejut ketika seseorang memanggil namanya tiba-tiba. "Kakak?" Tanya Riami sambil memiringkan kepalanya kekanan. Mengapa kakak menyusulku kemari? Tanyanya dalam hati.
"Riami, apa yang kau lakukan disini? Bukankah ayah sudah memperintahkanmu untuk tetap didalam? Kau mau aku mendapat hukuman lagi?" Tanya Rhei bertubi-tubi. Ia gemas karena Riami tak kunjung menjawab.
Riami terkekeh, bulu merak putih yang dibawanya ia gunakan untuk menutupi mulutnya. "Ada apa kak Rhei? Aku bosan didalam istana terus menerus" ucapnya sambil menatap sehelai bulu merak putih yang dibawanya bergerak pelan tertiup angin. "Aku ingin keluar, kak."
Rhei mendesis, "tapi aku yang bertanggung jawab, Riami!" Ucapnya menahan rasa gemas. Rhei menghela nafas, Riami memang keras kepala. Seorang Rhei sampai angkat tangan menghadapi adiknya ini.
Riami tersenyum jahil, "tenang saja, kak Rhei. Ayah tak akan menghukummu." Ucapnya santai. "Ayah hanya terlalu berlebihan padaku, aku tak boleh keluar istana. Padahal diluar baik-baik saja, bukankah begitu?" Tanyanya memastikan pada Rhei.
Rhei terdiam, ia sedang tak mau ambil pusing dengan sikap Riami. "Apa yang sedang kaulakukan disini?" Tanya Rhei datar.
Riami tidak menjawab, ia berbalik memunggungi Rhei. "Kakak, kau tahu apa yang sedang kurasakan?" Tanya Riami.
Rhei mengangkat alisnya, "mengapa kau menjawab pertanyaan dengan pertanyaan?"
Riami tersenyum tipis, wajah cantiknya diterpa sinar matahari yang menghangatkan . "Kadang seperti itu juga sering terjadi, kak." Ucapnya sambil membelai bulu merak putih ditangannya. "Pertanyaan yang dibalas oleh pertanyaan pula, maka kita akan berpikir keras untuk menemukan apa sebenarnya jawaban itu."
"Apa maksudmu?" Tanya Rhei datar.
"Temukanlah jawabannya kak Rhei. Bantulah dia menemukan jawaban itu." Ucap Riami. "Dia sama seperti bulu merak ini, begitu lembut, putih dan polos. Ia butuh bimbinganmu untuk keluar dari pertanyaan besarnya."
Rhei terdiam, ia mencoba mencerna kata-kata dari Riami.
Riami berbalik dan menatap Rhei. Kakinya melangkah perlahan menuju tempat Rhei berdiri. "Bantulah ia, kak. Aku bersimpati pada putri itu, kau harus membantunya lagi. Kalau kau belum bisa sepenuh hati membantunya, anggap saja ini takdirmu" ucap Riami lembut, tangan kanannya menepuk pundak Rhei. "Klan kita identik dengan bulu merak putih. Simbol itu sangat luas maknanya, kak. Tapi yang paling penting, dengan kemampuan kita bisa membantu mereka" ucapnya tersenyum.