Para master tergopoh-gopoh datang ke ruangan pusat akademi. Sikap yang Lya tunjukkan tenang sekali, seolah-olah semuanya berada dalam genggamannya. Memang seharusnya begitu, pikirnya.
Master Vion pasrah mendengar keputusan Lya. Para master lainnya pun dibuat terkejut dengan pilihan Lya. Kecuali Master Hyla dan Steva, mereka terlihat bungah.
Sejujurnya, dalam hati Master Vion merasa kecewa. Apakah karena kesalahannya yang membuat Lya memutuskan hal itu padanya?
"Tidak" jawab Lya mendadak.
Ruangan mendadak hening, Vion terkejut dengan jawaban Lya. Semua terkejut kecuali Master Steva, karena menurutnya hal itu sudah biasa baginya dan Lya.
"Aku tak menyalahkanmu, ketua. Aku paham kau hanya tak mengetahui kalau itu aku. Bagiku tak masalah, tenangkan hatimu" ucap Lya tenang. Tapi membuat Vion menunduk dalam. "Dan kau tau kenapa aku tak memilihmu? Karena kau sangat penting bagi akademi, aku hanya ingin akademi tetap berjalan normal seperti biasa. Jangan karena diriku semuanya menjadi berubah."
Vion mengangguk, bagaimanapun keputusan Lya benar adanya. Vion merasa sikap Lya semakin luar biasa, wibawanya sebagai seorang putri semakin terlihat. Vion telah dibuat kagum sekali lagi padanya.
Lya memandang sekeliling, lalu berhenti dihadapan Master Hyla dan Master Steva yang berdiri bersisian. "Kenapa aku memilih kalian berdua? Karena Master Hyla dapat melakukan pengobatan jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Juga Master Steva, aku membutuhkannya untuk mendapat banyak petunjuk selama perjalanan nanti."
"Aku mohon kepada semua master Akademi Indigo, untuk tetap mengurus akademi seperti biasanya selama aku pergi. Dan jika seandainya aku tak kembali..."
"Putri Lya!" Ucap semua master didalam ruangan itu. Lya hanya tersenyum menanggapi. "Seandainya aku tak kembali, tetaplah lakukan tugas kalian sebagai master disini. Aku bangga pada kalian semua!" Ucap Lya menggebu. Seluruh Master Akademi Indigo menunduk menahan haru. Beberapa terisak menahan tangis mengingat perjuangan mereka selama di akademi.
Master Steva berlari memeluk Lya, ia menangis. Lya membuka tangannya dan menerima pelukan Master Steva. Kemudian Lya memandang sekeliling dan membuka tangannya kembali.
Master Hyla, Master Ghia, Master Luna dan Master Olivia berlari memeluk Lya. Disusul para master pria seperti Master Vion, Master Tize dan Master Elve turut mendekat mengelilingi mereka.
"Tetaplah menjadi keluarga di akademi ini. Saat aku kembali, kalianlah nanti orang-orang yang akan menjadi pion penting di kerajaan Crystallion." Ucap Lya memberi semangat. Mereka semua mengangguk.
Sementara itu di depan pintu ada seorang wanita yang menangis haru. Ia tak ikut masuk kedalam karena ia merasa tak punya andil dalam akademi ini. Namun ia merasa bersyukur menjadi pengikut setia putri Lya. Ia sama sekali tak menyesali hal itu.
"Nelia...?" Ucap Lya begitu sampai di daun pintu. Nelia terkejut, dan menghapus air matanya cepat-cepat. Lya mengernyit heran lalu mendekatinya. "Kenapa kau menangis?" Tanyanya.
"Izinkan aku ikut denganmu, putri. Nelia takut, kalau kejadian masa itu terulang lagi." Ucap Nelia dengan air mata yang kembali menetes. "Sejak putri meninggal dulu, Nelia sangat merasa bersalah. Nelia merasa tak bisa menjaga putri dengan baik, maka dari itulah Nelia mohon agar diberi kesempatan lagi. Mohon putri Lya memberi kesempatan itu!" Ucapnya lalu berlutut.
Lya menggeleng, lalu membantu Nelia berdiri. Air matanya jatuh begitu saja mendengar permohonan tulus dari sahabatnya itu. "Bodohnya dirimu, kau melakukan semua itu demi aku. Tapi lebih bodohnya aku tak bisa membalas semua ketulusanmu" ucap Lya sambil memeluk erat Nelia. "Ikutlah bersamaku, Nelia Norchal"
KAMU SEDANG MEMBACA
Indigo Academy (Proses Revisi)
Teen FictionSedang dalam proses revisi! Lya's POV Aku datang di dunia yang asing bagiku. Aku melihat, semua orang yang ada di sini saling menunjukkan kemampuan luar biasa mereka. Mereka semua sama sepertiku, dalam label seorang anak indigo. Kita adalah anak-ana...
