First Class

5.8K 416 2
                                        

Disebuah bangunan besar yang mirip seperti sebuah kastil. Terlihat mentari mulai terbit diufuk timur. Sayup sayup terdengar bel yang lembut membangunkan setiap insan dari tidur malamnya.

"Lya... Lya bangun, sudah pagi nih. Kau mau bersiap tidak?" ucap Steva membangunkan Lya.

"Hhh... Pukul berapa sekarang?" ucap Lya sambil menguap.

"Pukul setengah enam" jawab Steva sambil melirik jam dinding kamarnya.

"Pukul berapa kelas dimulai?" tanya Lya lagi.

"Pukul tujuh" jawab Steva. "Ayolah bangun... Kau ini tetap sama seperti dibumi ya! Susah dibangunin"

"Hhmm... Iya iya, aku bangun" jawab Lya bangkit dari kasur.

"Nih!" ucap Steva sambil melemparkan handuk dan tepat mengenai muka Lya. Lalu ia melenggang memasuki kamar mandi.

"Huh... Ini muka, bukan gantungan handuk!" jawab Lya dengan muka kusut.

"Iya tau... Maksudku cepat mandi!" jawab Steva dari dalam kamar mandi terhalang bunyi air mengalir.

Lya menuju kamar mandi disebelahnya. Lalu mereka mandi.

"Ahh... Segarnya!" ucap Steva. "Ayo Lya... Lama banget sih"

Baru saja Steva selesai bicara, Lya keluar dari kamar mandi. Lalu melihat Steva dengan tatapan khas datarnya.

"Kau mau pakai seragam apa? Master atau murid?" tanya Steva sambil memegang dua seragam yaitu master dan murid.

"Mengapa kau bertanya begitu?" tanya Lya heran. Karena posisinya masihlah anak baru disini. Tentu saja yang dipikirkannya adalah ia seorang murid.

"Kau sekarang adalah master ke 9 Lya" ucap Steva. "Jadi lebih baik kau pakai seragam master"

Lya terdiam. Dipikirannya adalah bagaimana jadinya saat dirinya memakai seragam master. Semua akan menyeganinya. Ia akan terkenal sebagai anak baru yang menjadi master. Satu lagi yang sangat mengganggunya....

Tugas master adalah mengajar dan bermanfaat bagi murid muridnya...

Tunggu..

Murid murid?

Lya tersenyum dan menjawab "tidak sahabatku, aku tak ingin menjadi master. Aku tak mempunyai murid disini. Lagipula bila aku menjadi master, aku tak akan bisa mengajar seperti master yang lain. Aku akan menjadi murid saja" ucap Lya mantap.

Steva tertegun sesaat, lalu tersenyum "kemampuanmu itu lebih dari cukup untuk seorang master, Lya. Bahkan lebih dari itu."

"Tidak Steva. Aku ingin menjadi murid saja. Aku tak mau menjadi master. Biarlah aku menjalani masa masa sebagai seorang murid. Karena aku yakin itu masa yang indah" ucap Lya dengan senyum tulusnya.

"Ooh iya, satu lagi. Tolong rahasiakan tentangku pada murid murid ya. Aku akan membaur dengan mereka. Takutnya mereka akan segan padaku" tambahnya lagi.

Steva hanya bisa pasrah mendengar keputusan Lya. Dia paham betul sahabatnya ini. Sedikit keras kepala. "Ini, seragam murid IA" ucap Steva sambil menyerahkan seragam murid kepada Lya.

"Terimakasih" ucap Lya saat menerima seragam itu.

"Tunggu Lya, kau simpan saja seragam master ini. Suatu saat kau pasti akan memakainya"

"Oke..." ucap Lya lalu menyimpan seragam master dilemarinya. Lalu menuju ruang ganti. Begitupun dengan Steva.

"Apakah ini cocok denganku?" tanya Lya yang pertama kali memakai seragam akademi ini.
Atasan berwarna ungu bermotif pink cerah (karena seragam untuk putri) bertuliskan Indigo Academy kecil didada kanan. Bawahan rok warna ungu sedikit gelap dengan motif kotak kotak.

Indigo Academy (Proses Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang