"Sang putri harus mengetahui jati dirinya..."
Malam semakin larut, udara semakin dingin mencekam. Seolah mengintai siapapun disekelilingnya.
"Apa lagi yang harus aku ketahui? Jikalau aku seorang puteri, dimana kerajaanku?" ucapan Lya merendah "dimana orangtuaku, dimana saudaraku"
Perkataan Lya sukses membuat Adar Rhei terhenyak. Ia terdiam, menunggu kelanjutan dari Lya.
"Apa gunanya kemampuan tanpa kebahagiaan, Adar Rhei. Itu tak berarti sama sekali bagiku. Aku ingin jadi orang yang biasa saja. Aku ingin hidup bahagia dan damai. Itu saja"
"Hidup bahagia itu perlu diraih, putri Lya" sahut Adar Rhei. "Bahagia itu ketika tujuan kita dapat kita raih. Itulah kebahagiaan sebenarnya. Sekarang yang aku tanyakan adalah, apakah tujuanmu sudah terpenuhi?"
"Aku bahkan tidak mengetahui apa tujuanku, Adar. Untuk apa aku dilahirkan kembali? Aku bahkan tidak memiliki siapapun disini" Lya hampir menangis tertahan. Ia tak ingin terlihat lemah. Namun hatinya tak bisa diajak bekerjasama kali ini. Hatinya begitu jujur akan perasaannya.
"Bulu merak yang terpisah dari seekor merak akan bergerak mengikuti angin. Dimanapun ia berada, ia tetaplah sebuah bulu merak." ucap Adar. "Seperti dirimu, kau jauh dan terlepas dari asalmu. Tapi kau tetaplah dirimu, membawa ciri khasmu. Ya, itulah dirimu."
Lya terdiam. Perkataan Adar ada benarnya juga.
"Kau membawa kemampuan untuk meraih tujuanmu, itulah fungsi sebenarnya dari kemampuanmu. Bersiaplah putri, kau harus siap menerima segala kemungkinan yang ada. Gunakan kemampuanmu dengan baik. Ingat, kau adalah tonggak harapan negeri ini"
Manik mata Lya membulat, ada gemuruh yang bergetar dihatinya. Membakar jiwanya. Membangunkan sisi yang terlelap disana.
"Bukankah kau bertanya padaku, dimana kerajaanmu?" tawar Adar Rhei. Ia menarik sebuah anak panah dari tempatnya. Anak panah itu didekatkanya pada busur, kemudian ditarik. Panah itu menghadap persis kearah Lya. Adar Rhei membidiknya kearah Lya.
Lya tidak melakukan perlawanan apapun. Ia tak kuasa mengendalikan kemampuannya saat ini. Apalagi seorang seperti Adar Rhei. Baginya tak mungkin mengalahkan seorang yang bijak sepertinya. Bagi Lya, apapun keputusannya pasti penuh dengan pertimbangan.
Lya hanya memejamkan mata, tak kuasa membendung rasa. Air matanya mengalir. Sudah lama ia tak merasakan sebagaimana perasaan telah mengambil alih dirinya. Bukan lagi logika.
Adar Rhei semakin mantap membidikkan anak panahnya kearah Lya. Tepat pada jantung Lya. Disana terdapat kehidupan baru bagi Lya. Adar tahu hal itu.
Set!
Anak panah meluncur cepat menuju sasaran. Tapi sebelum mengenai jantung Lya....
Kristal nila menjadi tameng tepat didepan tubuhnya. Panah itu tertahan, terus berputar menancap ditameng kristal itu. Panah Adar berubah menjadi cahaya putih menyatu dengan kristal nila. Mendadak, semua menjadi putih.
***
"Putri Lya... Kau dimana?" gumam Vion. Ia merasa sangat bertanggung jawab terhadap Lya. Ia menyesal, ia merasa sangat bersalah.
"Sudahlah master Vion. Kita tak bisa terus menyalahkan diri kita sendiri. Aku yakin, putri Lya itu kuat" ucap master Olivia meyakinkan.
Vion tak bisa menjawab apa-apa. Ia merasa-sangat kehilangan. Ia sangat takut.
"Kita tak bisa berbuat apa-apa lagi, master Vion. Kita hanya bisa menunggu. Aku punya keyakinan, Lya pasti pulang. Ia akan baik-baik saja." tambah master Steva.
"Master!!" teriak seseorang.
"Master Ghia? Ada apa?" tanya master Olivia.
"Anu... Ne.. Nel... Nelia" ucap master Ghia terengah-engah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Indigo Academy (Proses Revisi)
Novela JuvenilSedang dalam proses revisi! Lya's POV Aku datang di dunia yang asing bagiku. Aku melihat, semua orang yang ada di sini saling menunjukkan kemampuan luar biasa mereka. Mereka semua sama sepertiku, dalam label seorang anak indigo. Kita adalah anak-ana...
