Semakin memasuki hutan, suasana semakin gelap, mencekam dan menakutkan. Master Hyla terus mendekap Master Steva. Sementara Lya terus berdampingan dengan Rhei. Nelia dengan gigihnya berada didepan mereka semua untuk menunjukkan jalan.
"Psst... Psst" lirih Master Hyla, Master Steva menoleh, ada sesuatu yang mungkin ingin dikatakan temannya yang 'sedikit' penakut ini.
"Apa?" Balas Master Steva tak kalah lirih. Matanya melirik sambil meneruskan langkahnya.
"Kau tahu apa yang janggal?" Ucap Master Hyla sambil menatap didepannya. Master Steva mengernyit.
"Apa?" Kemudian ia ikut menoleh kedepan, tapi ia hanya melihat Pangeran Rhei dan Putri Lya berjalan bersama. "Menurutku tak ada yang janggal" gumam Master Steva.
"Aiya, kau ini!" Gemas Master Hyla. "Lihat betapa mesranya mereka, uuuh... Bikin iri" ucapnya sambil menahan tawa. Master Steva menepuk punggungnya.
"Kau ini! Justru bagus" ucap Master Steva kemudian tersenyum lebar. Master Hyla mengernyit, "apanya yang bagus?"
"Kita harus terus mendukung Pengeran dan Putri. Bagaimanapun, Putri Lya adalah masa depan Akademi Indigo atau Kerajaan Crystallion. Jika mereka berdua menikah. Tentu saja..."
"Aah iya iya! Aku tau" sela Master Hyla. Dalam pikirannya, hanya merasakan betapa beruntungnya nasib sang Putri ini. Dibandingkan dengannya, tentu saja sulit menyamai sang Putri.
Tiba-tiba Lya berhenti berjalan dan menoleh kebelakang. "Membicarakanku?" Tanyanya dengan muka datar.
Master Steva dan Master Hyla langsung salah tingkah. "Ehm, anu, eh... Iya. Ternyata Putri Lya masih bisa mendengar kami, ya" jawab Master Hyla gugup.
"Kalian ini, ah"
Rhei langsung meraih bahu Lya dan menghadapkannya kepadanya. Telunjuknya menyentuh bibir Lya. "Sst... Bukankah masa depan kita akan seperti yang mereka katakan?" Ucap Rhei lirih ditelinga Lya. Muka Lya langsung memerah. Master Steva mendengarnya seketika menundukkan kepala. Sementara Master Hyla yang penasaran hanya membuang muka.
"Itu... Ah, lupakan" jawab Lya lalu berlari kecil menyusul Nelia. Rhei tersenyum kecil melihat reaksi Lya baru saja.
Nelia tiba-tiba berhenti mendadak membuat Lya menabraknya, Rhei langsung memegang bahu Lya agar tidak terjatuh.
"Ah, maafkan aku Putri Lya. Aku terlalu waspada." Ucap Nelia merasa bersalah. Lya menggeleng sambil melepaskan tangan Rhei dibahunya. "Tak apa, Nelia. Ada apa?" Tanyanya.
Nelia melihat langit-langit hutan yang mulai gelap. "Aku pikir, kita harus istirahat disini malam ini. Kalau kita lanjutkan perjalanan, aku takut akan berbahaya." Jawab Nelia.
"Ide yang bagus, ayo kita buat perapian disini" ucap Rhei sambil menatap Lya. Lya tak menjawab. Ia langsung berlari kecil menyusul Nelia dan yang lainnya mencari kayu.
"Sikap malu-malumu adalah iya bagiku, Lya" gumam Rhei, pelan.
***
Gemerlap bintang tersebar dilangit malam. Udara dingin tak tertahankan. Perapian sederhana dikelilingi lima orang pencari kehangatan. Kecanggungan terasa ketika tak ada sekecap katapun keluar dari mereka berlima.
Lya menghembuskan nafas berat, bayangan yang memenuhi pikirannya membuat hatinya tak tenang. Walaupun ia telah berusaha mengusir bayangan yang entah kebenarannya itu.
Ia melirik kearah Rhei. Pria itu tampak sibuk membolak-balik ubi bakar yang mereka dapatkan sepanjang perjalanan tadi.
Aneh, mengapa sekarang ia diam secuek itu disampingku? Batin Lya, kemudian mendengkus sambil ikut membolak-balik ubi bakarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Indigo Academy (Proses Revisi)
Fiksi RemajaSedang dalam proses revisi! Lya's POV Aku datang di dunia yang asing bagiku. Aku melihat, semua orang yang ada di sini saling menunjukkan kemampuan luar biasa mereka. Mereka semua sama sepertiku, dalam label seorang anak indigo. Kita adalah anak-ana...
