"Kau tahu putri? Diruang headmaster itu paling bersejarah di akademi ini" jelas Nelia.
Benarkah? Kenapa aku baru tahu?
"Karena disini sebenarnya pusat semua informasi" tambahnya.
Aku mengangguk, lalu aku terkejut mendapati Vion ada didalam ruangan itu. Tapi dengan cepat aku teringat kalau aku sedang menjadi gaib. Buktinya aku masih bisa bergandengan dengan Nelia, yang memang makhluk gaib.
Aku memperhatikannya, sepertinya dia sedang serius.
"Lya..."
"Lya..."
"Lya..."
"Putri Lya!"
"Hapah?" aku terkejut.
"Kalau liat master Vion jangan segitunya dong" celetuk Nelia.
Aku meringis, sebenarnya aku tak melihat Vion. Tapi aku melihat aura disekeliling Vion.
Auranya kelabu. Seperti awan yang sedang mendung. Aku... Tak berani membaca pikirannya. Aku lebih memilih bertanya pada Nelia saja.
"Nelia, kenapa dengan Master Vion ya?" tanyaku.
"Entahlah, bukankah kau tahu segalanya putri?"
"Jangan memanggilku putri, aku tak tau apapun tentang dia" ucapku pura-pura.
"Aku tak tahu, Lya" jawaban akhirnya.
Aku mengangguk, aku paham. Sulit ada yang mengetahui apa yang kumaksud. Tapi tak mengapalah. Memang seperti itu adanya.
"Ehmm Nelia, aku pengin kesuatu tempat. Kau disini dulu ya, jangan kemana-mana!" ucapku tegas.
"Mau kemana?" tanyanya heran.
Aku tak menjawabnya, melainkan langsung mengaktifkan kemampuan seperti invisible transparant, aku menghilang dari siapapun.
Termasuk dari Nelia yang gaib.
Kalian mau tau kenapa?
Aku... Ingin mengetahui isi hati Vion. Mengapa auranya begitu kelabu.
Memang terlihat tak begitu penting, tapi bagiku... Ini menarik perhatianku.
Aku melangkah memasuki ruangannya. Mendekatinya. Vion sedang melamun. Rasanya posisiku tak aman saat ini.
"Kau datang?"
----
Srak!
Panah menancap dilingkaran tepat ditengah pohon. Panah itu terlihat sangat tajam. Ujung ekor panah tersebut diselimuti bulu putih.
"Apakah latihan memanah cukup untuk menangkan hatimu?"
Ia menghela nafas. "Aku tak siap melepasnya, Riami"
"Siapa? Putri yang kaubawa itu?" tebak Riami. "Kakak, aku ingin bilang. Kalau kakak dipanggil ayah keistana, sekarang"
"Riami, aku sedang tak ingin kembali. Aku nyaman disini."
"Beginikah sikap seorang pangeran calon penerus raja?" sindir Riami.
Ia terjeda, "iya, aku tengah mempersiapkan diri."...
"Menemukan semangat hidupku yang sempat hadir beberapa waktu lalu"
Riami diam saja. Ia tahu kakaknya sangat keras kepala. Langkah yang harus ia laporkan adalah berkata kalau kakaknya enggan menemui ayah.
"Riami, kau duluan saja. Aku menyusul" jawabnya.
"Baiklah kak Rhei" jawabnya lalu melenggang pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Indigo Academy (Proses Revisi)
JugendliteraturSedang dalam proses revisi! Lya's POV Aku datang di dunia yang asing bagiku. Aku melihat, semua orang yang ada di sini saling menunjukkan kemampuan luar biasa mereka. Mereka semua sama sepertiku, dalam label seorang anak indigo. Kita adalah anak-ana...
