9. Semesta

365 42 19
                                    

"Kita mau kemana, sih?!"

Dione sontak menghentikan langkahnya di pinggir jalan, melepaskan pergelangan tangannya yang sebelumnya ditarik paksa oleh Rhea. Tak cukup memaksa Dione agar menjadi temannya, gadis keras kepala itu terus memohon dan meminta Dione agar ikut bersamanya ke suatu tempat.

Rhea tersenyum simpul. "Gue mau lo berbaur sama alam. Ngobrol sama semesta. Dan ngebuat lo menikmati ketersesatan lo di planet ini. Ga apa-apa kalo misalnya lo terjebak di sini, asal lo menikmatinya. Gue sedang melancarkan misi gue buat mencairkan gunung es."

"Lo nyoba ngerubah gue?" tukas Dione seraya memicingkan matanya, curiga.

"Ngubah cara pandang lo terhadap Bumi, lebih tepatnya!" Senyum Rhea makin mengembang.

Dione diam sejurus menatap Rhea beberapa detik. Lalu, laki-laki itu terkekeh pelan seraya menundukkan kepalanya. Entah kenapa, ide Rhea untuk mencairkan sifatnya terdengar menggelikan.

Rhea mendelik tajam ke arah Dione saat tawa cowok itu memelan, dan lenyap tergantikan tampang lempengnya. "Bagian mana yang lucu?!"

Dione menggeleng, tatkala bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Sadar atau tidak, semenjak kehadiran Rhea, Dione jadi lebih sering tersenyum. Laki-laki bermata hitam legam itu terlihat lebih lega menjalani hari-hari terjebaknya di planet jutaan manusia ini.

"Yaudah, deh, lo ngikut aja," kata Rhea sejurus kembali menarik tangan Dione agar mengikuti langkahnya.

Setelah kurang lebih limabelas menit berlari kecil, Rhea kini duduk di atas semen pembatas atap gedung tua. Gadis itu menoleh ke belakang dan mendapati Dione yang masih berdiri di belakang sana seraya menengadah ke lagit. Rhea menyunggingkan senyum tipisnya, ia senang sekali melihat angin menerbangkan helaian rambut Dione yang mulai memanjang nol koma sekian senti itu.

"Yon?" panggil Rhea membuat Dione sontak menoleh ke sumber suara.

"Sini," Rhea menepuk dua kali ruang kosong di sampingnya, memerintah agar Dione duduk di sampingnya.

Dione mendekat dan duduk di sana, di samping Rhea. Dione masih saja bungkam. Sejak awal kakinya menapaki tempat itu, Dione belum buka suara hingga sekarang. Dione menatap langit sore jakarta hampa. Sorot yang menerawang jauh itu dipenuhi tanda tanya. Sebenarnya, ia ingin sekali bertanya pada pemilik semesta, apakah planet ini cocok untuk jadi tempatnya tinggal? Atau, dia yang tak pantas menjadi salah satu penghuni Bumi? Tapi, di Bumi yang luas seperti ini, apa iya, tak ada ruang sedikitpun untuknya? Tapi sayangnya, seberapa banyak hatinya bertanya pun, semesta tetap saja bungkam.

Kemudian Dione bertanya lagi dalam hati; sebenarnya semesta itu suka bercanda atau menyiksa?

"Yon?" Rhea menepuk pelan pundak dingin itu, membuat Dione terseret kembali ke kenyataan.

"Apa?" tanya Dione tanpa menoleh ke arah Rhea.

Rhea ikut melemparkan pandangannya ke depan. "Mau tau sesuatu, nggak?" tawar gadis itu sok misterius.

Dione diam, tak menjawab. Dan bagi seorang Rhea, diamnya Dione adalah suatu persetujuan dalam aksara yang bisu. Sebab, seberapa banyak pun Rhea bertanya pada gunung es itu, ia sama sekali tak mengharapkan jawaban apa-apa. Karena ia tau, gunung es yang beku itu memang ditakdirkan bisu.

Rhea menghela napas pelan, melegakan rongga-rongga dadanya yang kian menyempit. "Dulu, gue pernah punya mimpi. Mimpi gue itu aneh banget bagi temen-temen gue waktu umur lima tahun." Rhea tertawa pelan, otaknya mulai memproduksi potongan-potongan kejadian di masa lalu, membangkitkan memori lamanya.

"Aneh emang, temen-temen gue waktu itu emang pada somplak otaknya. Pas gue ngomongin tentang mimpi gue itu, mereka malah ketawa dan ngejek gue. Awas aja kalo ketemu lagi, gue bakalan jitak kepala mereka dua kali sehari sehabis makan! Habis, gue sebel. Padahal, kan, impian gue itu bagus dan anti mainstream."

SATURNUS Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang