26. Mungkin Masih

221 24 0
                                    

Sebelumnya aku enggak bakalan bosen-bosenya ngingetin kalian, JANGAN LUPA BACA AZEL DI GloriouswrittingCont. Siapa tau ada kejutan dari aku di akhir bab wkwk.

______
SATURNUS BAB 26:Mungkin Masih.
____

SMA Galaksi selalu sibuk menjelang bel masuk pertama. Ada yang berlari menabrak beberapa siswa lainnya sangkin takut terlambat masuk kelas, ada yang berjalan seraya berkomat-kamit menghapal materi ulangan Kimianya hari ini, ada pula yang dengan santai melangkah dengan wajah kusutnya. Organisme di SMA Galaksi memang beranekaragam.

Selang beberapa detik, gerbang mulai ditutup oleh satpam penjaga. Rhea? Ah, tidak. Jangan berharap gadis itu sudah duduk di kelasnya, sebabnya, detik ini ia sedang terjebak di angkot yang belasan menit tak kunjung bergerak, Jakarta selalu macet saat pagi.

Gadis itu dengan gelisah melirik jam di pergelangan tangan, sial! Bel masuk pasti sudah dibunyikan lima menit yang lalu, pikirnya resah.

Mungkin dia benar-benar tak beruntung hari ini, bukan hanya pengeluarannya lebih banyak karena naik angkot hari ini, juga karena ada ulangan Kimia di jam di kelasnya. Rhea ingin mengumpat saja rasanya, jika ia tak sadar kondisi dan tempatnya berada.

Rhea nyaris menangis, sedang angkot yang ditumpanginya enggan bergerak. Matanya melirik jam di pergelangan tangan berkali-kali. Detik berjalan, dan dia seakan stuck di satu titik. Tidak, ia tak bisa menunggu lebih lama.

Kemudian, dengan rasa kesal yang berlipat-lipat, gadis itu turun dari angkot, memberikan ongkos kepada sopir, lantas mulai berlari menyusuri torotoar. Di dalam angkot ibu-ibu dan penumpang lainnya geleng-geleng kepala, "Cantik-cantik, tapi ga sabaran. Dasar anak muda," kata salah seorang wanita bertubuh gempal.

Napasnya naik turun, keringat berkali-kali jatuh dari dahi dan pelipisnya. Gerbang sekolah sudah terlihat di ujung sana, gadis itu lantas mempercepat lariannya. Rhea memang pandai berlari, apalagi dari kenyataan.

Gerbang hitam menjulang itu sudah di depannya sekarang. Gadis itu meringis, dugaannya betul, gerbang itu sudah tertutup rapat. Rhea menunduk, memegangi dengkulnya. Seragamnya kini sudah basah akibat keringatnya. Rhea mendongak, melangkah mendekati pos satpam. Seorang pria berkepala botak menatapnya galak, si satpam penjaga gerbang.

Rhea meringis, sebenarnya ia mencoba untuk tersenyum manis, namun gagal. Tangan gadis itu mencengkram kuat salah satu besi gerbang, matanya menatap Jeki--begitu satpam botak itu dipanggil-- dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Berharap Jeki iba, namun yang ia dapat malah plototan mengerikan dari pria itu.

Rhea tersenyum manis, tak mau menyerah membujuk Jeki. "Pak Jeki, bukain dong gerbangnya."

Jeki yang berada di hadapan Rhea, di balik gerbang, bersedekap tangan. "Maaf, Non, nggak bisa. Peraturan tetap peraturan!"

"Tapi saya 'kan nggak pernah telat sebelumnya. Masa Pak Jeki nggak mau ngasih saya kesempatan atau ... apresiasi gitu? Biasanya saya udah ada di kelas jam setengah lima loh."

Jeki masih melotot, wajahnya menyorot tegas. "Setengah lima? Abis adzan Subuh, dong?"

Rhea mengangguk. "Iya, saya abis solat subuh langsung otw sekolah, kurang rajin apa coba?"

Jeki mengangguk-angguk, salah besar bila Rhea mengira Jeki akan berbaik hati. "Tapi kalau terlambat, konsekuensinya nggak boleh masuk, Non." Tuh kan, salah besar.

Rhea merengek. Tangannya ia gosok-gosokkan di depan Jeki, memohon agar dibukakan gerbang. "Tolong Pak, saya ada ulangan Kimia jam pertama. Bapak tau sendiri 'kan Bu Ine itu kelewat killer?"

SATURNUS Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang