WG - Dua Puluh Delapan

40 14 17
                                        

Almira meliriki Kihyun sesekali sambil menyuapkan nasi serta lauk pauknya ke dalam mulut, lelaki itu santai sekali makan untuk ukuran orang yang sudah pernah menghancurkan perasaan salah satu tuan rumah.

Ibunya lagi, kenapa harus mengundangnya sarapan? Membuat Almira benar-benar tak nyaman saja.

Eomma kira kau akan lebih lama berjalan-jalan,” ujarnya saat memergoki lirikan sang anak. Tatapan Kihyun jatuh ke sang empu yang langsung mengalihkan atensinya ke sang ibu.

“Seseorang mengacaukan jalan pagiku.” Jawaban sarkas nan penuh sindiran itu benar-benar menohok Kihyun. Ya, kalau saja Hyungwon tak panik memberitahunya pun dia takkan tergesa-gesa menemuinya. Salahkan saja Hyungwon! Pikir Kihyun dalam diamnya.

Yuh Jung menghela napas sambil tersenyum tak enak, dia menyuruh Kihyun untuk melanjutkan acara makannya yang sempat terhenti karena kalimat pedas Almira.

Wanita itu benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa Yuh Jung mengundang Kihyun sarapan di saat jelas-jelas perut buncitnya menjadi bukti betapa busuknya lelaki itu. Biar bagaimanapun Kihyun adalah seseorang yang menyakiti perasaannya, Almira sangat yakin Yuh Jung pun kecewa padanya. Pada Kihyun yang dulu selalu menjanjikan kebahagiaan untuknya, tapi sekarang itu tak lebih dari sekadar bualan lelaki dimabuk cinta.

Tanpa Almira tahu, Yuh Jung pun merasakan apa yang diperkirakannya. Ibu mana yang mau-maunya saja menerima tamu atau mengajaknya sarapan di saat status orang itu adalah duri bagi anaknya?

Namun percayalah, mata dan hatinya sudah lebih berpengalaman. Ingatannya melayang ke beberapa bulan sebelum perut Almira membesar. Di mana Kihyun dengan sungguh-sungguh akan merawatnya dari jauh dan memastikan Almira selalu sehat.

Uang bulanan, kiriman barang, kiriman makanan, bahkan mengeceknya selama sebulan sekali sudah cukup membuat Yuh Jung merasa Kihyun tidak seburuk yang ia rasakan dulu. Nyatanya Kihyun benar-benar mencintai sang putri sampai sekarang.

“Kau menginap di sekitar sini?” tanya Yuh Jung yang dijawab dengan anggukan oleh Kihyun. “Hmm.”

“Hyungwon tak bilang padaku bahwa kalian (Monsta X) punya jadwal di Daegu,” celetuk Almira menyudutkannya. Memang tidak kentara, tapi Kihyun sudah tahu bahwa Almira ingin membuatnya tak bisa untuk menjawab. Sayang sekali, Kihyun terlalu bajingan untuk tak menjawab. Dia sudah kehilangan rasa malunya jika berurusan dengan Almira.

“Kata siapa aku ke sini karena pekerjaan?” tanya Kihyun sambil tersenyum meremehkan. Ia menyuapkan daging ke mulut Almira yang diterimanya secara mau tak mau karena mendadak. “Aku menemuimu, tahu.”

Yuh Jung tersenyum simpul, Almira menunjukkan kekesalannya walau ia tutupi rapat-rapat. Menyenangkan sekali rasanya jika Almira bisa hidup dengan suami (atau lebih baik Kihyun) dan bisa menjalin hubungan rumah tangga yang bahagia. Tidak harus merasakan bagaimana jika di posisinya yang tak bersuami di usia yang muda.

“Menginaplah di sini.” Tawaran Yuh Jung yang tak dipikir dua kali itu membuat mata Kihyun berbinar-binar karena senang, sedangkan Almira langsung meletakkan sumpitnya dan menggeram.

Eomma!”

“Sehari saja juga tak apa,” sahut Yuh Jung sambil berdiri dan membereskan mangkuk miliknya. Meninggalkan kedua insan itu dalam keheningan. Seketika selera makan Almira hilang, ia langsung membereskan mangkuknya walau segera ditahan oleh Kihyun dengan gelengan kepalanya.

Dengan modal alasan makanan tidak boleh disisa-sisa atau porsi makannya yang harus cukup karena mengandung, Almira menyerah walau untuk perdebatan kecil tak berguna. Ia kembali duduk dan memakan sisa sarapannya.

Winter's GiftCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang