Dinginnya udara di akhir tahun mungkin tidak akan bisa mengalahkan tatapanmu kala itu. Pekatnya bau darah akibat luka yang tercipta pun masih seakan menyapa. Musim dingin nan indah itu menjadi benang kusut yang hingga kini enggan kurapikan.
Sayang...
“Kau mau pudding?” tawar Kihyun tiba-tiba duduk di sampingnya setelah seharian ini menemani sang ibu berbelanja. Yuh Jung tersenyum senang melihatnya lalu berlalu ke dapur untuk memasukkan beberapa barang belanjaan. Almira yang ditawari pun hanya menoleh bingung.
“Tak usah, aku hanya ingin menonton.” Matanya kembali tertuju pada layar yang menampilkan sebuah drama thriller. Kihyun yang melihat itu langsung menggeleng dan lekas mengganti channel tv. “Hei.”
Kihyun terkekeh setelah mendapatkan tontonan yang lebih layak, memirsa kartun terdengar lebih baik daripada harus menyaksikan seseorang berdarah sana-sini, kan? Dia membuka pudding yang baru dibelinya dan menyerahkannya pada Almira.
Mau tak mau wanita itu pun menerimanya setelah menghela napas pasrah, bentuk sindiran halus untuk Kihyun yang masih tampak tak peduli dengan perasaan risinya. Apalagi yang membuatnya makin tak nyaman adalah ketika lelaki itu terus mendapat telpon dan tak kunjung diangkatnya.
“Angkat saja,” ucap Almira akhirnya setelah hampir lima kali panggilan diabaikannya. Kihyun menggeleng sambil mematikan ponsel, lebih parahnya mencabut baterai dan benda canggih itu jadi tampak mengkhawatirkan di atas meja.
“Aku ingin menghabiskan waktu denganmu.” Almira tak merespons pasti karena kalimatnya, yang jelas dia langsung menyuapkan pudding cokelat lembut ke mulutnya dan membagi fokus antara makanan tersebut dengan acara tv.
“Kau berkata seperti itu seolah-olah kita ada di fase hubungan yang membahagiakan,” ucapnya pelan. Namun begitu Kihyun bisa mendengarnya, bisa merasakan dan sadar bahwa kalimat itu sedikit menyentil perasaannya.
Iya, dia akui. Hubungan mereka sedang tampak tak jelas apa namanya. Jikalau memang Kihyun masih menganggap Almira sebagai kekasihnya, lantas Almira apakah demikian? Membahagiakan? Ckckck, kata ini terlalu pedas untuknya.
Harus bagaimana ia ungkapkan bahwa Kihyun siap menjadi ayah? Harus dengan cara seperti apa agar Almira tahu bahwa ia ingin menjadi pasangan hidupnya? Kihyun terlalu bingung karena ia sadar betul kesalahannya di masa lalu begitu fatal.
Ringisan kecil lolos dari mulut Almira yang membuyarkan lamunannya, Kihyun menatapnya yang sedang mengelus perut buncit itu. Sepertinya seseorang baru saja menendang sang ibu. Walau begitu Almira hanya tersenyum tipis dan mengabaikan tendangan tersebut.
Tanpa sadar tangan Kihyun terangkat dan ikut mengelusnya, bermula dengan tangannya yang tiba-tiba bertumpu di tangan putih Almira. Wanita itu tersentak dan memasang raut terkejut karena kejadian barusan, apalagi selanjutnya tangan itu asyik mengusap penuh cinta kepada sang bayi di dalam perutnya.
Senyumnya terukir manis, pancaran matanya terlalu lembut untuk ukuran seseorang yang pernah menolak keberadaan calon bayi tersebut. Kihyun akui ia merasa bahagia sekarang karena bisa melakukan apa yang terjadi hanya jika dalam mimpinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.