3

61 9 0
                                        

The chapter is short and typos are excessive.

Bel pulang pun berbunyi saat jam tangan Rion menunjukkan pukul jam empat lewat lima belas menit.

"Baik anak-anak terimakasih dan tugas yang sudah Ibu berikan dikerjakan dengan benar ya, besok ketua kelas harus sudah mengumpulkan tugasnya, yasudah, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," Bu Desi pengajar Bahasa Indonesia di kelas XI IPA 5.

Rion lalu menutup buku catatan dan buku cetak, memasukkannya ke dalam tas hitam.

"Rion! Cila main ke rumah Rion ya? Abang Rezvan lagi ada kerja kelompok jadi nggak ada siapa-siapa di rumah," ujar Cila yang kini sudah duduk di bangku depan meja Rion.

"Ck, gue ngelarang juga lo tetep maksㅡ"

"Hayoo ngapain tuh di rumah," ucap Helmi asal yang berniat melewati tempat mereka tapi malah mendengar percakapan keduanya dan malah salah tanggap. Kebiasaan lelaki itu yang kadang ikut-ikutan berbicara padahal dia tidak tahu apa-apa.

"Nah, nah, kebiasaan makan tai kambing mah begini, nih. Pikirannya mesum mulu kagak ada benernya, udah ah lagian ngapain sih ganggu rumah tangga orang aja lo," ujar Azwar lalu merangkul Helmi dan membawanya pergi.

"Cepet Rion! Cila udah cape tau," ujar  Cila setelah melihat Rion diam dan  menatapnya lama.

Rion menghela napas pasrah, lalu segera bangkit dari duduk.

Gimana gue bisa deket sama cewek kalo lo-nya aja selalu ngebutuhin gue La batin Rion.

Lelaki itu lalu memegang bahu Cila bermaksud merangkul, tapi yang ada sentuhannya malah membuat gadis itu meringis kesakitan. Dan menjauhkan bahu dari tangan Rion.

"Loh? Kenapa La? Kok sakit?" tanya khawatir Rion.

"Iniㅡ"

Terpotong karena melihat Agneta yang kini tak jauh di belakang Rion sedang tersenyum kepadanya. Cila mengerjap-ngerjap dan tersenyum kepada Rion.

"Nggak kok, Cila nggak papa, udah yuk pulang Cila capek nih," ujar Cila.

Membuat Rion menghela napas, tersenyum tipis dan menggandeng Cila keluar dari kelas.

Sedangkan Agneta sendiri masih  tersenyum tipis melihatnya lalu segera merapihkan alat tulis dan memasukkannya ke dalam tas.

Cila dan Rion berjalan menuju parkiran yang kini sedang ramai karena berebut keluar yang entah ada yang ingin buru-buru pulang ke rumah atau sekedar nongkrong-nongkrong bersama teman.

"Rion, di rumah ada Mamah Frida nggak?" tanya Cila. Sepertinya gadis itu memiliki rencana sesuatu yang akan dilakukan dengan Mamah.

Lagipula juga Cila sedang rindu dengan masakan Mamah Rion. Yah... memang Rezvan dan Cila sering menumpang makan malam di rumah Rion. Itu pun kadang terpaksa karena Mamah Frida dan Papah Nandes yang mengundang mereka berdua. Karena memang keluarga Cila dan Rion sudah dekat, juga Bunda dan Ayah sudah menitipkan Cila dan Rezvan jika memang terjadi masalah apa pun kepada Frida dan Nandes.

"Nanti Cila mau minta diajarin Mamah masak," ujsr Cila memberi alasan mengapa ia menanyai keberadaan Mamah.

"Gue juga bisa," jawab Rion santai seraya memberikan helm kepada Cila.

"Wahh... yang bener? Emang Rion bisa masak apa?" tanya Cila merasa terkejut.

"Masak air? Oh satu lagi, masak mie juga," ujar Rion asal, membuat Cila mendengus kesal dan mencebikkan bibir, bisa-bisanya cowok satu ini bercanda di saat Cila benar-benar bertanya serius.

Choose Silence | ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang