32. Cintailah Allaah

1.6K 178 2
                                        

Assalamu'alaikum teman-teman, saran dan kritiknya sangat aku tunggu!.

Perhatian! Baca ceritanya dengan tenang yak, Insya Allah bermanfaat.

😍


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
ِ

"Iman itu seperti ikan asin. Ikan itu walau hidup di air asin, tidak akan menyebabkan ikan itu asin. Tapi, jika ikan itu mati, ikan itu bisa menjadi asin karena ulah manusia. Seperti halnya iman, jika iman kita sudah mati. Maka, sudah tidak bisa lagi dikembalikan kecuali pertolongan Allah.

Iman dibagi menjadi tiga, yang pertama, Imannya orang awam yang jika melaksanakan shalat hanya untuk menggugurkan kewajibannya saja.

Yang kedua, Imannya orang Alim yang jika tidak melaksanakan shalat seperti ada yang kurang pada jiwanya.

Dan yang ketiga, Imannya orang Arif yang jika beribadah adalah bentuk wujud syukurnya, dan jika tidak melaksanakannya ada rasa takut dihatinya bilamana tidak termasuk hamba yang bersyukur. Golongan seperti ini, biasanya dari para Anbiya.*

Coba sekarang, kita cek ditingkat manakah Iman kita?."

'Maa syaa Allah.'

Annisa tersenyum lebar mendengar ceramah pak kyai, sungguh ini wawasan baru baginya. Ia begitu sangat bahagia tiada kata, sebab pak kyai memanglah kalau ceramah selalu beda, dan selalu menambah wawasan Annisa.

Mata Annisa dengan telinganya sedang memperhatikan setiap gerak-gerik pak kyai diatas panggung kecil. Dari kejauhan, Annisa dapat lihat kalau pak kyai sedang menawarkan micnya untuk menjawab pertanyaanya pada anak panti laki-laki dihadapannya, diatas panggung kecil itu pak kyai ditemani oleh anaknya dan tentunya Fatih.

Sampai ceramah pak kyai hampir selesai, sebenarnya ia masih memikirkan kejadian pada saat pak kyai datang bersama Fatih.

Seharusnya Annisa tidak perlu heran, karena Ustadzah Faridah bilang kalau Fatih sedang i'tikaf di Masjid dan Umam juga mengabarkan bahwa ayahnya sedang ada di Masjid, secara logikapun bahwa Fatih dan pak kyai bertemu di Masjid, untuk apa ia heran dan terus memikirkannya.

Namun, kedekatan pak kyai dan Fatih membuat jiwanya terusik.

Entahlah perasaan 'Aneh' apa lagi yang ia rasakan.

Lalu Annisa menoleh kekanannya, Dina dan Fauziah sedang sibuk sendiri dengan ponselnya masing-masing, entahlah apakah mereka mendengarkan, semoga saja. Apalagi Fauziah sedaritadi ia mengabadikan momen ini dengan ponselnya, dari gerak-geriknya Annisa dapat menafsirkan bahwa Fauziah sedang siaran langsung diberbagai akun Sosmednya, Annisa hanya menggeleng kepala.

Matanyapun dipusatkan kembali pada pak kyai yang sedang memberikan micnya kepada Fatih.

'Kenapa mesti Fatih.'

Annisa terus saja bergerutu dalam hatinya, ia memang tidak suka apapun mengenai Fatih.

"Biarlah Allah saja yang mengukur keimanan kita, karena keimanan tidak akan pernah tetap pada diri manusia. Sering naik turun," Fatih menjawab pertanyaan pak kyai.

"Jawaban yang tepat Nak."

Annisa langsung menundukkan kepala, ia tidak ingin melihat apapun yang dilakukan Fatih. Sungguh ia sangat tidak menyukai kebaikan Fatih.

MAHABBAH [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang