Assalamu'alaikum teman-teman, saran dan kritiknya sangat aku tunggu!.
Perhatian! Baca ceritanya dengan tenang yak, Insya Allah bermanfaat.
😍
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَا لرَّسُوْلَ فَاُولٰٓئِكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَا لصِّدِّيْقِيْنَ وَا لشُّهَدَآءِ وَا لصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰٓئِكَ رَفِيْقًا ۗ
"Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad) maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya."
—(QS. An-Nisa' 4: Ayat 69)
🍁🍁🍁
"Ca, dibuatkan sarapan tuh sama Camer."
Annisa memandang kotak makan hijau yang tergeletak diatas meja. Ia menghampiri meja makan yang sudah dihuni tiga orang, dengan tangannya membawa segelas susu putih hangat. Kemudian, mendudukkan diri dan menaruh minumannya pada meja.
"Padahal aku ingin minum susu aja, tapi Allah memberikan makanan. Alhamdulillah," Annisa berbicara sendiri menatap kotak makan hijau dengan raut pasrah.
"Lo nggak tidur?, mata lo mirip hewan panda tau," Ucap Fauziah tanpa mengindahkan perkataan Annisa. Ia lebih tertarik pada mata Annisa yang berubah.
"Dari segi ekspresi juga, dilihat sangat tidak enak. Coba ceritakan, pertemuanmu sama Camer?. Apa, kalian nggak direstuin?."
Annisa menatap Dina heran. Sedaritadi, ia gampang sekali mengatakan 'Camer', dan sekarang membuat karangannya sendiri. Annisa sudah berasa menjadi selebriti. Yang selalu ingin diketahui kehidupannya.
"Kalau diceritakanpun, akan panjang kali lebar. Ica males bicara Teh. Maaf ya, nggak ada berita terkini." Alibinya.
Annisa langsung beranjak dengan membawa segelas susu dan kotak makanan. Ia pergi meninggalkan para wartawan yang baru saja pagi, sudah membuatnya kesal.
"Hey! Jangan makan dikamar. Nanti rejeki lo susah!," Teriak Fauziah yang sudah menduga, Annisa akan makan dimana.
"Mitos!," Timpal Annisa tak kalah lantangnya.
"Ziah, lo percaya sama mitos?. Awas loh, nggak sadar jadi golongan musyrikin."
Usai memperingati Fauziah, Sarah beranjak untuk mencuci tangan. Karena ia sudah selesai sarapan.
"Teh, orang dulu bilang gitu. Bukankah Rasulullah juga orang dulu?," Fauziah membela diri.
Sarah membalikkan badannya menatap Fauziah.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAHABBAH [SELESAI]
Spiritualبِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ "Aku mengkhitbahmu, karena ingin menghalalkan pandanganku kepadamu."- Fatih "Aku mengkhitbahmu karena Allah."- Zaky Hatinya sangat sulit memilih. Sangat sulit. Tidak ada yang memahaminya. Ia sangat bingung. Kar...
![MAHABBAH [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/178264813-64-k315171.jpg)