45. Munakahat [2] - Adab

2.7K 202 5
                                        

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

"Kualitas perempuan, dinilai seberapa mampu ia menjaga dirinya dari yang dilarang oleh Allah."

~Mahabbah

-/-

Keadaan sangat lenggang, tiga menit berlalu dengan hanya diam. Annisa terus menundukkan kepala, ia sangat tidak berani harus menampakkan mata sembabnya. Ia tidak ingin dianggap lemah.

Sedangkan Fatih, berfikir keras bagaimana memulai percakapan ini. Lafadz Basmallah, Fatih hela. Ia yang bertanggung jawab atas istrinya dan sebagai kepala rumah tangga. Apapun keadaannya, dialah yang harus memulai, menyelesaikan, membela, serta melindungi keluarganya.

"Dek, saya minta maaf, tidak menjelaskan alasannya kita tinggal di Mekkah. Saya sangat tau Dek, kamu ingin tinggal di Madinah. Dan kuliah di Universitas Islam Madinah(UIM). Tapi Dek, UIM itu hanya menerima Ikhwan tidak untuk akhwat."

Spontan, karena sangat terkejut mendengar kabar itu. Annisa mendongak menatap Fatih yang ternyata sedang menatapnya. Pandangan mereka bertemu. Langsung Annisa menunduk kembali, padahal tadi ia ingin melihat raut keseriusan dari Fatih.

Ternyata, informasi Sosmed tidaklah seratus persen benar. Annisa tahu teori itu, namun tetap saja percaya. Hatinya sedikit kesal, sudah di beri harapan palsu di UIM oleh Sosmed. Sebenarnya, Annisa mampu bermimpi di Universitas Al-Azhar, Kairo. Namun, hatinya sudah terpahat dalam untuk Madinatul Al-Munawwarah.

Hati Fatih sedikit mencelos, melihat mata sembab Annisa. Hanya karena ia tidak terbuka pada istrinya. Sungguh, ia rasa sangat bersalah.

"Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia(PPMI) Arab Saudi, memang mengumumkan seperti itu Dek. Makanya, saya kepingin kamu kuliah di Universitas Umm Al-Qura. Disana, mahasiswa dan mahasiswinya hanya tiga puluhan. Memang sangat sedikit. Cara daftarnyapun gampang, tidak ada Muqobalahnya juga. Dekat Masjidil Haram juga lho Dek. Juga syiarnya, 'Syaroful Ilm, Wa Syaroful makaan' yang artinya, semulia-mulia ilmu dan semulia-mulia tempat. Apa nggak Maa Syaa Allah bangetkan?."

Dalam hati, Annisa juga langsung kagum pada Universitas Umm Al-Qura yang diceritakan oleh Fatih. Tapi, apakah itu benar-benar alasan Fatih?.

Tidak. Fatih tidak akan bohong, apalagi dia sudah lama tinggal dikota Suci yang sekaligus menyucikan hatinya. Mana mungkin Fatih bohong. Perasaannyalah yang sangat berlebihan. Sangat.

'Astaghfirullah, husnudzon Ca!,' Lirih batin Annisa.

"Saya juga, minta maaf Kang. Seharusnya, saya nggak berlebihan seperti itu."

Fatih menyunggingkan senyum. Dia jadi tau watak Annisa, yang mudah marah dan yang mudah lembut.

"Jadi?."

Annisa menautkan alisnya, ia sangat tidak tahu maksud suaminya itu. Akhirnya ia putuskan menatap Fatih, dengan raut bertanya.

"Jadi?. Apanya?."

Hampir, Fatih ingin mengeluarkan tawanya. Benar-benar luarbiasa, hari ini ia dapat melihat langsung raut pemarah Annisa, sekarang raut bertanya-tanya Anisa yang begitu....lucu.

"Masalah itu?." Kali ini, Fatih benar-benar ingin bermain-main dengan Annisa, agar ia mendapat pahala dengan memperhatikan raut bingungnya Annisa.

"Masalah apa?." Annisa terlihat jengkel, karena Fatih tidak jelas dalam bertanya. Menyebalkan.

"Masalah cinta pertama. Darimana kamu tau? Sampe nggak mau ke Mekkah? Saya belum cerita kan?."

Skakmat.

MAHABBAH [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang