بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
"Jika kamu menerima dirimu apa adanya, maka dunia akan menerimamu. Itu semua berasal dari dalam."
-Muniba Mazari [duta besar PBB wanita pakistan]
-/-
"Kang?. Beneran, nggak nungguin mereka?." Tanya Annisa memastikan.
Fatih mengeluh gusar. Kepala menoleh pada sebelahnya. Memandang Annisa terduduk dengan raut kentara bosan. Punggung kembali disandarkan pada kursi depan rumah Abahnya. Jam tangan kiri ia lihat. Lalu senyum terbit menatap Annisa menutupi resah dijiwa.
"Oke. Lima menit lagi." Pandangan kedepan. Berharap orang yang ditunggunya datang.
Abah, Umi, dan keluarga kecil Asad. Hari ini mereka menjadwalkan diri pulang ke Indonesia. Bermaksud ingin menemui Fatih dan Annisa sebelum keduanya tinggal di Makkah.
Padahal, Fatih bisa saja menunda penerbangan mereka hari ini saat Asad mengabari kepulangan mereka. Tapi, Uminya bersikukuh. Fatih pasrah saja dengan keputusan Sang Ratu dalam keluarganya.
Alhasil, sejak malam hingga sekarang. Jiwanya begitu sangat gelisah, mengetahui keluarganya tiba-tiba akan pulang. Dari benua Afrika ke benua Asia.
Tidurpun menjadi tak karuan. Hanya mata terpejam tujuh belas menit sebelum adzan shubuh berkumandang. Mata panda menjadi buktinya.
Mata Fatih berulang kali melirik pada jam tangan dengan jalan gang didepannya. Percuma saja. Waktu terus berjalan namun tidak ada tanda-tanda apapun untuk kedatangan mereka. Pukul 08:30WIB mereka harus tepat waktu datang ke Bandara. Sekarang, pukul 08:17WIB.
Fatih semakin resah sendiri. Antara tetap menunggu atau tidak. Hatinya terus berdendang sholawat untuk meredam keresahan jiwa.
Sejak mendengar keputusan suaminya. Annisa sibuk berbalas pesan dengan Salma. Yang kemarin tidak ia temui. Annisa merasa peka sendiri dengan keadaan sekarang. Sunyi. Pasti suaminya itu sedang resah.
Tapi, saat netranya ingin menoleh kesamping. Dahinya berkerut dalam memandang menu utama layar obrolan aplikasi WhatsApp. Disitu ia dapat lihat satu pesan masuk. Memang ia silent suara, karena ia tidak suka keberisikkan digrup teman-teman MAnya.
Pesan itu ia buka. Matanya sedikit melebar. Sejurus ia lihat nomor sipengirim.
+20 102 803 xxx ?
Annisa merasa tidak mengerti. Terlebih lagi pesan itu berbahasa Arab. Bahasa Arab yang baru menurutnya. Yang pasti pengirimnya bukan dari warga +62.
Sontak, ia berdiri kedepan Fatih. Menunjukkan pesan itu. Fatih terkebil-kebil sendiri atas sikap Annisa. Ia menurut saja melihat apa yang ditunjukkan Annisa.
Fatih menyipitkan mata. Ia tekun membaca pesan itu. Perlu kejelian membacanya. Karena, bahasa Arab ini berbeda dengan yang di Madinah. Bahasa Arab ini ialah dari.... Egypt?. Pandangan menelisik lebih jelas untuk melihat nomor si pengirim.
Dan benar saja, itu dari Mesir. Tidak ada foto profil disitu.
Syukur sekali. Saat Magister di UIM, Fatih mempunyai teman dari Uzbekistan yang lulusan Sarjana Al-Azhar, Dia-Fahazbu Nawawi At-Thahiry mengambil S2nya di UIM. Sedikit mengerti dengan logat bahasa Arab disana.
Matanya terbeliak. Tubuh mulai mengeras. Pandangan dijatuhkan pada lantai. Nafas naik-turun. Udara terasa menyekat ditenggorokkan, membuatnya sulit menelan saliva. Fatih tampak seperti patung hidup.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAHABBAH [SELESAI]
Spiritualبِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ "Aku mengkhitbahmu, karena ingin menghalalkan pandanganku kepadamu."- Fatih "Aku mengkhitbahmu karena Allah."- Zaky Hatinya sangat sulit memilih. Sangat sulit. Tidak ada yang memahaminya. Ia sangat bingung. Kar...
![MAHABBAH [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/178264813-64-k315171.jpg)