Untuk kesekian kalinya aku melirik jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul satu lebih sepuluh menit. Sudah hampir empat jam aku duduk di kafe ini setelah mendapat pesan dari pria tua itu agar aku menunggunya disini. Tapi ternyata waktuku terbuang sia-sia. Kalau tau begini tadi aku sarapan terlebih dulu daripada harus menahan laparku dengan kopi pahit seperti ini.
Beberapa kali aku menoleh ke arah pintu masuk, tapi sosoknya belum juga datang. “Sialan.” Gumamku mendengus kasar.
Tak lama kemudian ku lihat sosok laki-laki berjas rapi datang menghampiriku. Sesaat aku hanya diam melihat kearahnya sampai akhirnya aku ingat kalau dia adalah supir yang menungguku di dekat rumah selingkuhan pria tua waktu itu.
Dia membungkuk sekilas, kemudian duduk di seberang meja. “Tuan menyuruh saya untuk memberikan ini pada anda. Sampai sekarang keadaan rumah Nyonya sedang tidak baik. Saya mendengar kalau para bawahan sedang mencari keberadaan orang yang sudah menculik Nyonya. Tuan berpesan agar anda lebih hati-hati karena kalau sampai anda tertangkap, maka mereka akan membunuh anda.”
“Kenapa harus aku yang di bunuh? Kau sendiri tau kan kalau aku hanya menerima perintah saja.” Aku mendengus, menoleh ke arah lain. Seketika aku terkejut saat tidak sengaja melihat sosok Alya sedang makan siang bersama laki-laki yang ku tahu bernama Rian itu.
“Aku akan lebih berhati-hati.” Jawabku masih melihat ke arah mereka berdua.
“Kalau begitu saya permisi dulu.”
Tanpa pikir panjang aku pindah tempat dekat dengannya, ingin mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan sampai-sampai alis Alya saling bertaut seperti itu. Tidak ku sangka kalau dia akan makan di tempat seperti ini, karena setauku dia tidak suka berbagai macam hal yang menyangkut tentang kopi. Ah, benar disini ada cake kesukaan gadis itu.
“Apa selama ini kau tidak pernah menganggapku sebagai laki-laki?” Tanya laki-laki itu membuatku menghentikan aktivitas mengaduk kopi milikku.
“Tentu saja aku menganggapmu sebagai laki-laki Rian. Kalau kau ku anggap sama seperti Ayu, sudah ku ajak mandi bersama dari awal.”
Melihat keadaan mereka sekarang sepertinya Rian memang benar-benar menyukai Alya. Benar dugaanku dari awal kalau laki-laki ini memang menyukai Alya sejak mereka dekat beberapa tahun lalu. Kemudian ku lihat sosoknya berdiri di sebelahku membuatku langsung menutup wajahku menggunakan topi yang sedang ku pakai. Sesaat ku lihat dia memasukkan sebuah cincin ke dalam saku celananya.
Ah, sepertinya dia baru saja melamar Alya tapi gadis itu menolaknya.
Setelah laki-laki itu pergi, ku dengar Alya mulai terisak membuatku merasakan hal aneh di dalam dadaku. Rasanya sakit sekali saat mendengarnya menangis seperti ini. Aku memegang dadaku yang berdetak dengan sangat cepat itu, berusaha untuk mengurangi rasa sakitnya.
“Sial, sakit sekali. Ada apa denganku?” Gumamku yang tiba-tiba saja ingin meluapkan kekesalanku pada laki-laki yang sudah membuat Alya menangis.
Duduk selama hampir lima belas menit, akhirnya ku lihat Alya pergi meninggalkan kafe setelah Ayu menghubunginya. Dari sini dapat ku lihat kalau layar ponselnya retak. Bagaimana bisa dia tetap menggunakan ponsel retak itu, padahal uang yang di milikinya dapat ku pastikan sudah terkumpul banyak. Aku menghela napas panjang, kemudian ikut meninggalkan kafe ini.
Di perjalanan menuju rumah lamaku, Ayah menghubungiku mengatakan bahwa aku tidak di ijinkan untuk datang kesana karena baru saja ada orang tidak di kenal datang ke rumah mencariku. Mendengarnya tentu membuatku semakin merasa kesal. Dengan cepat aku memutar mobil menuju rumah pria tua itu.
“Kau bilang bisa menjamin keselamatan keluargaku, lalu kenapa mereka bisa menemukan alamat rumahku?” Tanyaku penuh penekanan dalam tiap kata.
Aku memang tidak pernah membentak jika aku masih bisa menahannya. Tenangaku hanya akan terbuang sia-sia jika berurusan dengan pria tua ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blue Reading
Teen Fiction"Kau tahu mengapa aku menyukai bunga teratai?" "Kenapa?" "Karena dia selalu setia menunggu bulan tanpa merasa lelah sedikit pun." "Lalu bagaimana dengan matahari?" Aku menoleh padanya. Pada seseorang yang sangat amat aku cintai dalam diam ini. "Kau...
