“Alya, aku suka padamu.”
Seketika aku menjatuhkan sendok yang sedang ku pegang saat itu. Mendengar seorang An menyatakan perasaannya dengan tiba-tiba di hadapanku. Tidak, bukan hanya di hadapanku, tapi di hadapan sahabat baiknya dan sabahat baikku adalah hal yang sangat aneh.
Hey, bayangkan saja, seorang Anugrah Dior yang notabene-nya adalah siswa sok cool yang selalu menindasku ini mengatakan kalau dia menyukaiku?
Oh. Oke. Ini tidak masuk akal.
“Mulai hari ini kita pacaran.” Ucap An, lalu bangkit dari duduk dan pergi begitu saja.
Aku menoleh pada Ayu, menggelengkan kepala sambil berusaha agar dia percaya bahwa An hanya bercanda. Tapi Ayu justru tersenyum, menggenggam kedua tanganku. “Aku baik-baik saja. Itu haknya. Kau lebih pantas berada di sampingnya Al.”
“Tidak. Percayalah, yang ku suka hanya Di—“ Aku menoleh pada Dicky yang ternyata sedang memperhatikan kami berdua.
Aku kembali menoleh pada Ayu. “Bukankah kita sudah bersahabat selama lebih dari lima tahun? Dan kau lihat kan selama ini aku selalu menolak banyak siswa hanya karena hatiku selalu untuknya, bukan untuk orang lain.”
“Tunggu.” Dicky membuka suara. “Kau menyukai orang lain?” Tanyanya kemudian.
Aku mengangguk. “Bukankah ini terlihat aneh?”
“Tidak, tidak aneh. An selalu melakukan hal yang dia inginkan. Jika dia memang menyukaimu, maka bagaimana pun caranya dia akan berusaha untuk mendapatkanmu. Aku pergi dulu. Selamat untuk hari jadi kalian. Sampai nanti.” Ucap Dicky.
“Ayu, aku mohon percayalah. Aku yakin dia tidak menyukaiku. Aku akan membuktikannya. Lihat saja nanti. Aku seratus persen yakin bahwa dia tidak menyukaiku.”
“Sudahlah Al, aku baik-baik –“
“Tidak. Aku akan membuktikannya padamu.”
***^***
“Alya, An mencarimu.” Ucap Fandi, lalu pergi meninggalkanku.
Sejenak, aku menoleh ke arah ambang pintu, melihatnya sedang berdiri disana. Sesekali menoleh padaku dengan tatapan tajamnya. Aku mendesis, lalu memasukkan semua buku pelajaran dengan sedikit kesal. Selesai memasukkan buku pelajaran ke dalam tas, aku malangkahkan kakiku menuju keluar kelas, tanpa melirikinya. Samar, aku mendengar laki-laki itu menghela napas panjang, lalu berjalan di sebelahku.
“Ku antar pul—“
“Aku bisa sendiri.” Ucapku memotong perkataannya.
“Kita sudah ja—“
Dengan kesal, aku mendorongnya sampai membentur dinding koridor, membuat lengan kananku kembali terasa sakit. Tidak memperdulikan siswa-siswi yang saat itu terlihat terkejut akibat perlakuanku padanya.
“Apa aku menjawab kalau aku menerimamu sebagai kekasihku? Tidak kan? Jadi jangan pernah berharap bahwa kita sudah jadian.” Ucapku penuh penekanan, lalu pergi meninggalkannya.
Saat aku keluar gerbang sekolah, aku melihat sekumpulan siswa dari sekolah lain bergerumbul di seberang jalan. Mereka terlihat sedang memperhatikan seseorang. Aku memutar bola mataku bosan, lalu kembali melangkahkan kakiku.
Aku terus bergumam tidak jelas saat mengingat kembali apa yang sudah An katakan padaku. Sesekali aku menghentakkan kakiku keras, membuat bulu kakiku sedikit meremang akibat rasa sakit luar biasa yang di timbulkan Kak Uci padaku.
Aku menghela napas. Menoleh ke arah kanan dan mengangkat kedua alisku saat melihat bunga matahari tumbuh di dekat danau. “Bukankah..”
Seketika aku memandang sekeliling. Ah, ternyata aku berjalan melewati rute yang berbeda. Pantas saja sedari tadi aku tidak mendengar suara pengendara di jalanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blue Reading
Teen Fiction"Kau tahu mengapa aku menyukai bunga teratai?" "Kenapa?" "Karena dia selalu setia menunggu bulan tanpa merasa lelah sedikit pun." "Lalu bagaimana dengan matahari?" Aku menoleh padanya. Pada seseorang yang sangat amat aku cintai dalam diam ini. "Kau...
