Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai di pedesaan terpencil yang ada di ujung pulau Jawa ini. Setelah kupaksa menerima uang pada penjaga setempat karena sudah mengantarku, aku mulai melangkahkan kakiku sesuai dengan arahan dari penjaga tadi.
Tidak banyak rumah disini, mungkin hanya sekitar sebelas atap rumah saja yang ada disini. Beberapa kali aku menyapa orang sekitar yang melihat ke arahku dari ladang yang sedang mereka kerjakan.
Sekitar tiga puluh menit mencari, akhirnya aku menemukan rumah yang sama persis dengan alamat yang ditunjukkan Aga untukku. Rumahnya terlihat sangat sederhana dengan pekarangan mini mengelilingi rumah ini.
Sejenak aku hanya diam berdiri memperhatikan rumah yang terlihat tak berpenghuni itu, sampai akhirnya ku rasakan seseorang berdiri beberapa meter di belakangku. Dia hanya diam berdiri disana, sama seperti yang ku lakukan saat ini.
Srek..
Aku mulai bersiap jika sesuatu hal terjadi padaku.
Srek..
Brak..
“Oh apa aku mengejutkanmu?” Tanya wanita paruh baya yang tiba-tiba mendorongku dari belakang itu.
“Sial, aku belum mempersiapkan diriku.” Bisikku pelan pada diri sendiri.
“Nenek apa yang kau lakukan lagi?”
Aku langsung menoleh ke suara yang sudah sangat ku kenal tersebut.
“Dia terlihat mencurigakan karena terus berdiri disini sambil melihat ke arah rumahmu.”
“Apa Nenek terluka?”
“Tidak tidak. Apa kau mengenal orang asing ini?”
Perlahan aku berdiri dan melihat kedua lututku berdarah. Sepertinya tadi celanaku robek karena jatuh diatas tanah kering.
“Maaf, apa anda baik-baik sa—“
“Hai, sudah lama tidak bertemu.” Sapaku menampilkan senyum tipis padanya.
“Oh, kalian sudah saling mengenal?” Tanya Nenek itu.
Aku mengangguk. “Benar Nek, kami sudah saling—“
“Nenek, lebih baik Nenek pulang dulu. Masalah dia, aku akan mengurusnya. Oh ya, beritahu Rio kalau aku sudah mengirim nasi ke rumah.”
Nenek itu mengangguk. “O-oh baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu. Jika terjadi sesuatu, cepat teriak saja, cucuku akan langsung datang untuk menolongmu.”
“Baik, Nenek tenang saja.”
Kemudian Nenek itu pergi meninggalkan kami berdua, sedangkan Alya langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apa-apa padaku. Dengan gerakan cepat sekaligus menahan sakit, aku berusaha menahannya sebelum dia benar-benar masuk ke dalam rumah.
“Kau masih marah padaku.”
“Menyingkir.”
“Ayo kita bicarakan dulu.”
“Tidak ada yang harus dibicarakan lagi.”
“Tapi aku ada.”
“Aku tidak peduli.”
“Sayangnya aku peduli.”
“Ku bilang menyingkir.”
Tiba-tiba Alya mendorongku sekuat tenaga membuat keseimbanganku goyah dan berakhir punggungku terbentur pucuk lemari kayu dengan keras sampai membuat isi lemari itu jatuh.
“Akh!” Pekikku saat merasakan sesuatu yang berat mengenai pundakku.
“Astaga, kau baik-baik saja? Ya Tuhan, aku tidak sengaja mendorongmu sekuat itu. Dicky kau baik-baik saja?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Blue Reading
Ficção Adolescente"Kau tahu mengapa aku menyukai bunga teratai?" "Kenapa?" "Karena dia selalu setia menunggu bulan tanpa merasa lelah sedikit pun." "Lalu bagaimana dengan matahari?" Aku menoleh padanya. Pada seseorang yang sangat amat aku cintai dalam diam ini. "Kau...
