Bagian 35 - Pertemuan Mendadak

12 2 2
                                        

•Dicky•

Rasanya jantungku tidak bisa berhenti berdetak dengan sangat cepat setiap kali mendengar bunyi bel tanda pengunjung masuk ke dalam cafe. Aku berusaha untuk tetap tetang, sesekali melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul satu siang. Waktu makan siang sudah hampir selesai, dan aku masih duduk diam disini tanpa kepastian.

“Selamat datang.” Sapa salah satu pelayan setiap kali ada pengunjung yang datang.

Seketika aku membeku saat melihat seseorang yang ku pastikan adalah Ayah Alya berdiri di tengah-tengah cafe sembari mencari dimana aku berada. Refleks, aku mengangkat tangan kananku saat Ayah Alya menoleh ke sekitar tempat dudukku. Tetap dengan ekspresi yang sama, Ayah Alya melangkah menghampiriku, kemudian duduk di kursi seberang meja.

“Sudah menunggu lama?” Tanya beliau membuka pembicaraan.

Aku menggeleng. “Saya juga baru sampai.”

“Langsung saja ke topik pembicaraan.” Ucap beliau sembari memberikan kotak berukuran sedang padaku.

“Itu adalah semua surat yang kau tulis untuk Alya. Selama ini gadis itu tidak tau kalau kau mengirim surat untuknya.”

Aku sedikit terkejut mendengarnya, tapi aku berusaha untuk tetap tenang karena aku sadar alasan mengapa surat ini tidak sampai ke tangan Alya adalah karena surat-surat ini berasal dari diriku. Rasa berat hati aku mengambil kotak tersebut tanpa mengatakan apa-apa.

Sejenak aku melihat Ayah Alya tampak memikirkan sesuatu, sampai akhirnya beliau kembali menatap mataku dalam.

"Awalnya aku kira Alya sudah melupakanmu karena selama ini putriku terlihat baik-baik saja meskipun belum bisa pergi bekerja seperti biasanya. Dia makan dan melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasanya sebelum bertemu denganmu.”

“Meskipun dia tidak banyak bicara denganku dan hampir selalu menyendiri di kamar, tapi aku tau kalau dia sedang berusaha untuk merelakan semuanya untuk melepasmu. Awalnya aku berpikir seperti itu, dan memikirkan untuk kembali menjodohkan dia dengan anak temanku.”

Deg..

Aku masih tetap diam, berusaha mendengarkan apa yang dijelaskan Ayah Alya untukku. Mungkin sudah saatnya untuk benar-benar melepaskan Alya karena calon sudah di depan mata dan siap untuk bertemu dengan Alya.

“Dia laki-laki baik yang saat ini meneruskan perusahaan Ayahnya. Saat aku memperkenalkan Alya lewat foto, dia setuju untuk mencoba dekat dengan putriku. Jika kau menjadi diriku, aku pastikan kau akan senang mendengar hal itu bukan?”

Aku hanya tersenyum untuk menanggapinya.

“Tapi beberapa minggu ini aku menyadari kalau putriku menyembunyikan kesedihannya dariku. Setiap malam aku hampir selalu mendengarnya menangis di dalam kamar, beberapa kali aku juga melihat dia menulis sesuatu di dalam buku, tapi selalu dia sembunyikan setiap kali ada orang lain masuk ke dalam kamarnya.”

“Saya pesankan minuman ya Paman, sepertinya hal ini membuat Paman berpikir terlalu dalam.” Tawarku, tapi beliau menggelengkan kepalanya.

Aku tetap pergi untuk memesan minuman dan beberapa makanan ringan untuk beliau. Beberapa kali aku melihat ke arah Ayah Alya yang terlihat sudah tidak sekuat dahulu saat terakhir kali aku bertemu dengan beliau. Punggung yang selalu terlihat kuat, sekarang terlihat ringkih dan sedikit bergetar seperti membutuhkan sebuah dukungan.

“Pesanannya Kak.” Ucap salah satu pelayan membuatku tersadar dari lamunanku.

Aku mengambilnya setelah mengucapkan terima kasih. Saat aku kembali duduk, Ayah Alya menghela napas panjang sebelum akhirnya kembali menatap ke dalam mataku, lebih tajam dan menyiratkan seribu pertanyaan di dalamnya.

Blue ReadingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang