Bagian 17 - Gadis itu

56 8 0
                                        

Happy Reading


Dicky

Aku menghela napas panjang setelah mendapat sebuah undangan dari sahabat lamaku yang akan dilaksanakan beberapa minggu lagi. Sejenak aku kembali mengingat kejadian beberapa tahun lalu yang ku lakukan pada gadis itu. Ah ya benar, bagaimana kalau aku sampai bertemu dengannya saat aku menghadiri pernikahan An.

Dalam diam aku menatap keluar jendela. Setelah aku di bebaskan tanpa ada catatan kriminal dari polisi, aku terpaksa pindah seorang diri ke desa terpencil di salah satu wilayah disini. Aku memutuskan untuk pindah kemari karena tidak ada satu pun orang yang mengenalku, hanya keluarga kecil dari Ayahku saja yang mengenalku karena memang aku jarang mampir kesini.

Selama hampir enam tahun lamanya aku sekolah disini sampai lulus. Banyak sekali perubahan yang ku rasakan setelah melakukan hal menjijikkan seperti itu. Bahkan disini pun aku memutuskan diri untuk tidak berteman dengan banyak orang, terutama dengan para siswi yang beberapa kali menyatakan perasaannya padaku, sama seperti saat aku berada di kota.

Setelah lulus sekolah pun aku tetap berada disini. Kuliah di Universitas yang tidak terlalu terkenal dan hanya berisikan beberapa mahasiswa/i saja karena kebanyakan dari mereka memutuskan untuk kuliah di Universitas yang ada di kota. Sedangkan aku tetap berada disini karena tidak ingin bertemu dengan teman lama, terutama gadis itu yang pernah ku dengar ingin masuk ke Universitas yang ku inginkan dulu.

Beruntungnya meskipun aku melanjutkan jenjang di desa terpencil seperti ini, aku tetap bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, bahkan ku impikan selama ini. Tidak banyak memang gaji yang ku dapatkan, tapi aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu karena memang aku menyukai pekerjaanku sedari kecil.

Menjadi mata-mata salah seorang teman dekat Ayah. Si pemilik perusahaan terkenal di kota kelahiranku.

Meskipun harus bolak-balik, aku tetap senang mendapat pekerjaan ini. Salah satunya adalah aku masih bisa melihat keadaan An dari kejauhan, juga gadis yang pernah ku sakiti dulu.

Alya.

Beberapa kali aku melihatnya selalu bersama dengan seorang teman kampusnya yang ku tahu namanya adalah Rian. Mereka berada di satu Universitas yang sama, dan sangat jelas kalau laki-laki itu terlihat sangat menyukai Alya. Bahkan dia rela pergi ke luar kota hanya untuk menyusul Alya karena tidak bisa dihubungi selama beberapa hari.

“Kau akan pergi ke kota lagi?” Tanya Nenek membuatku tersadar dari lamunanku.

“Dicky juga belum tau Nek. Rasanya ingin pergi, tapi ada banyak sekali halangan yang datang.”

“Bukankah dia yang selalu kau ceritakan pada Nenek? Kau selalu bilang kan kalau ingin bertemu dengannya lagi dan membangun persahabatan kalian yang sempat terputus.”

“Itu dulu Nek. Sekarang suasananya sudah berbeda.”

“Kalau berbeda, kenapa dia masih mengirim undangan ke rumahmu? Bukankah seharusnya dia sudah melupakanmu kalau dia memang membencimu?”

Aku terdiam memikirkan jawaban yang barusan di berikan oleh beliau. “Dicky hanya takut jika nantinya bertemu dengan gadis yang pernah Dicky sakiti.”

Ku rasakan Nenek mengelus rambutku. “Untuk apa ada kata maaf kalau kau tidak pernah menggunakannya.”

“Dia mudah untuk memaafkan, tapi tidak mudah untuk melupakan Nek. Beberapa kali aku masih melihatnya menangis seorang diri, kemudian kembali tersenyum seolah tidak pernah terjadi apa-apa dalam hidupnya.”

“Setiap manusia pasti memiliki kesalahan. Bahkan aku yang sudah tua pun masih melakukan kesalahan pada beberapa orang disini. Kau tidak akan pernah disebut manusia jika tidak pernah melakukan kesalahan apapun, meskipun kesalahan itu harus bertaruh nyawa orang lain.”

Blue ReadingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang