Bagian 36 - Melarikan Diri

11 2 0
                                        

•Alya•

“Alya, bantu Ibu bikin kue yuk.” Ajak Ibu dari ambang pintu kamar.

Kedua alisku bertaut, tidak biasanya Ibu membuat kue kecuali ada perayaan di rumah atau mungkin memang ada perayaan hanya saja karena selama ini mengurung diri di kamar, akhirnya aku tidak tau kalau akan ada acara di rumah ini.

Aku datang menghampiri Ibu dengan beribu pertanyaan di kepalaku, terlebih lagi melihat senyum Ibu yang terlihat sangat senang sekali sampai membuatku semakin penasaran dengan apa yang terjadi.

“Kenapa Ibu terlihat senang sekali? Apakah akan ada acara di rumah? Seingatku acara anak Kak Uci seminggu lagi.” Tanyaku sembari mencampurkan semua bahan menjadi satu.

Bukannya menjawab pertanyaanku, Ibu justru memelukku dengan sangat erat kemudian kembali memasukkan adonan kue ke dalam oven. Sedangkan aku yang masih di rundung pertanyaan, akhirnya memilih diam karena aku tau kalau tidak akan pernah ada jawaban yang akan keluar dari mulut Ibu jika pertanyaan pertamaku sudah tidak ada jawaban.

Selama hampir satu setengah jam berkutat di dalam dapur, akhirnya berbagai macam kue kering selesai. Sekarang waktunya untuk memasukkan ke dalam toples berukuran sedang dan meletakannya di ruang tamu. Rasanya sudah lama sekali aku tidak keluar dari kamar selama ini. Hampir tiga bulan ini aku hanya menghabiskan waktu di luar kamar paling lama dua puluh menit saja, kalaupun terpaksa mungkin sampai tiga puluh menit kemudian kembali ke kamar.

Aku menyandarkan diriku di punggung sofa sembari memperhatikan Ibu yang kali ini sibuk mengeluarkan baju dari dalam kamarnya.

"Menurutmu mana yang bagus? Biru atau putih?” Tanyanya kemudian.

“Ibu mau kencan dengan Ayah?”

Ibu menggeleng. “Jawab saja, mana yang paling bagus?”

“Putih?”

Ibu mengangguk, kemudian masuk ke kamar dan kembali keluar dengan jenis baju lainnya. “Kalau ini bagaimana? Putih atau hijau?”

“Putih lebih bagus.”

Sejenak Ibu terlihat diam memikirkan baju mana yang akan diapakai entah kemana, sampai akhirnya Ibu memutuskan untuk memakai baju warna biru yang sebelumnya sama sekali tidak aku pilih.

“Kalau sudah tau mana yang akan dipakai kenapa harus bertanya padaku dulu?” Ketusku karena gemas.

“Ibu kan hanya ingin tau pendapatmu, bukan berarti Ibu mau memakainya kan?” Jawab Ibu sembari memeluk baju warna biru itu dengan senang.

Aku hanya menggelengkan kepalaku saja, lebih memilih untuk mencicipi kue yang sudah selesai ku buat. Rasanya sama seperti kue pada umumnya, gurih tapi tidak terlalu manis. Sangat pas dengan lidahku yang tidak terlalu menyukai makanan manis.

Tak lama kemudian aku mendengar suara mobil Ayah, dengan cepat aku melamgkah masuk ke dalam kamar karena sampai saat ini aku masih belum bisa sepenuhnya bertemu dalam waktu lama dengan Ayah. Ibu yang melihatku terburu-buru hanya bisa menggelengkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun.

“Nanti malam aku tidak makan. Aku ingin tidur lebih cepat.” Ucapku pada Ibu sebelum naik ke lantai dua.

“Benarkah? Ibu pastikan kau akan menyesal jika tidak turun untuk makan malam bersama.”

“Memangnya ada apa? Apa ada hubungannya dengan masalah kue tadi?”

“Kalau kau penasaran, kau bisa turun untuk makan malam bersama.” Goda Ibu yang membuatku memutar bola mata jengah.

“Justru kalau Ibu tidak mengatakan apapun, aku tidak ingin makan malam bersama. Aku sudah tidak sepintar dulu yang bisa langsung peka dengan apa yang terjadi.”

Blue ReadingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang